Culture Prose & Poem

Frida Kahlo di Valo dan Tembakan yang Melukis Kemenangan

Dalam dimensi Valo, Rani adalah sniper terbaik yang siap mendominasi e-sport. Sebuah cerita fiksi tentang perjuangan dan kemenangan.

Avatar
  • March 25, 2025
  • 4 min read
  • 218 Views
Frida Kahlo di Valo dan Tembakan yang Melukis Kemenangan

Rani duduk di depan monitor di kamar kecilnya. Dinding kamarnya penuh dengan poster-poster Sasha “Scarlett” Hostyn, Eefje “Sjokz” Depoortere, Tricia “megumixbear” Sugita, Maria “Remilia” Creveling, dan Jorien “Sheever” van der Heijden—perempuan-perempuan yang membuat sejarah di esport. Cahaya biru dari layar memantul di permukaan meja, menyinari wajahnya yang penuh tekad. Dalam keheningan malam, dunia Valo memanggilnya—sebuah dimensi tempat ia adalah sniper dengan peringkat tertinggi.

Di dunia Valo, Rani berubah menjadi Luna, sniper dengan julukan Frida Kahlo karena pergerakannya yang sureal namun brutal. Malam itu, tarikan dunia Valo terasa lebih dalam. Ini bukan sekadar tentang meraih kemenangan, tapi untuk membuktikan bahwa perempuan mampu menguasai arena milik pria.

 

Suara Satria mengalun melalui headset. “Ran, ingat pertandingan kita—setiap kill membentuk kita. Jangan biarkan kata-kata mereka menghentikanmu.”

Baca juga: Windah Basudara, KBGO, dan Industri Gim yang Maskulin

Kekasih Rani yang pernah gagal di SEA Championship itu selalu menjadi penyemangat bagi tim mereka. Sejak kecil, ia sering diolok-olok karena kecintaannya pada gim, tetapi ia tak pernah menyerah. “Gim adalah duniaku,” katanya. “Aku bisa menjadi siapa saja di sini.”

Kakip, pemain veteran yang pernah mencicipi SEA Championship lima kali, adalah otak di balik strategi tim. Ia selalu tenang dan penuh perhitungan, seperti Nobunaga yang memimpin pasukannya.

“Rani, manfaatkan high ground untuk mengintai! Pakai presisimu!” teriaknya dengan penuh keyakinan.

Sementara itu, Poki adalah penjaga keseimbangan tim. Ia selalu mengumpulkan data dan menganalisis setiap gerakan lawan. “Kamu sudah baca statistik musuh yang kukirim, kan? Mereka lemah saat berhadapan dengan sniper dari high ground!” serunya antusias.

Masing-masing dari mereka membawa cerita unik yang memperkaya dinamika tim. Bersama, mereka bukan sekadar rekan, melainkan gangster yang siap membantai lawan.

Baca juga: Pro Player Perempuan: Selain Jago, Harus Cantik

***

Saat training camp dimulai, Luna bergerak lincah di antara lorong-lorong dengan kilauan neon berpendar dan bayangan yang menari. Namun, setengah layar banjir notifikasi komentar.

“Telat nggak, kakak cantik.”

“Bagi Instagram dong, manis.”

“Cuma bisa main asal cantik dan seksi doang, ya?”

“Ini mah jelas bakal jadi bot!”

Setiap kata seperti peluru yang merobek konsentrasi, mengundang keraguan yang mencoba mencuri ketenangannya. Dalam kecamuk itu, Rani mendengar suara Satria, kali ini lebih tegas, namun penuh kehangatan, “Jangan biarkan itu mengalahkanmu, Ran!”

Ucapan itu mengalir bagai angin segar, mengusir keraguan yang sempat menyusup ke dalam hatinya.

Dengan tangan yang masih bergetar karena emosi, Rani melompat ke high ground. Di sana, ia menemukan celah di mana musuh lengah di tengah bayang-bayang tipis. Tarikan napas panjang mengiringi gerakannya—sebuah momen antara keberanian dan ketenangan. Dalam hitungan detik, jari-jarinya menekan tombol, menghasilkan headshot yang sempurna.

Nice one, Ran!” seru Poki penuh semangat.

“Kita bisa menang di final SEA Championship kalo terus gini!” tambah Kakip dengan semangat.

Baca juga: Bullying dan Seksualisasi: Perempuan dalam Dunia Game

***

Setelah training camp selama tiga bulan, Rani dan timnya melangkah ke panggung besar. Turnamen SEA Championship adalah momen yang mereka tunggu-tunggu. Di bawah sorotan lampu stadion yang memukau, Rani berdiri di atas panggung, mengenakan hoodie favoritnya—simbol perlawanan dan identitas.

Setiap langkahnya mengiringi detak jantung yang semakin kencang. Perasaan campur aduk antara euforia dan kecemasan memenuhi pikirannya. Saat skor di layar besar menunjukkan 6-6, ia merasakan momen yang menentukan—bukan sekadar pertandingan, tetapi pembuktian bahwa perempuan dapat berdiri di puncak panggung ini.

Di tengah gemuruh penonton, Rani kembali menunjukkan alasan julukan Frida Kahlo melekat ke dirinya. Dengan setiap gerakan yang penuh perhitungan dan tatapan yang beringas, ia menciptakan momen magis, membantai semua lawan dengan clutch. Tepuk tangan dan sorak-sorai memenuhi ruang.

“Keren, Rani. Gila! Gak nyangka cewek bisa clutch.”

Pujian itu bukan hanya sekadar suara; ia adalah pengakuan. Bukan hanya untuk Rani, tapi untuk semua perempuan di dunia e-sport yang telah lama dianggap sebelah mata.

Usai pertandingan, di ruang wawancara yang hening, Rani menatap dirinya dari pantulan lensa kamera. Matanya masih berkilau oleh adrenalin.

“Aku bukan hanya pemain gim,” ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan.

“Setiap kill, setiap victory, adalah bukti bahwa perempuan bisa bersinar di mana pun. Di gim maupun dunia nyata.”

Malam itu, ketika Rani kembali ke kamarnya, monitor yang biasanya menyala terang kini perlahan meredup. Namun, semangat dalam hatinya masih berkobar. Di ruang sepi itu, ia merenungkan perjalanannya—dari gadis yang penuh keraguan, menjadi simbol keberanian. Seperti sapuan kuas Frida Kahlo yang berani dan tanpa kompromi, setiap tembakan yang Rani lepaskan adalah bentuk perlawanan dari perempuan.



#waveforequality
Avatar
About Author

Arya Suta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *