Rawat Bumi dan Berdayakan Perempuan: Cerita PaperPods Pekerjakan Perempuan Lansia
Pita, 60, adalah salah satu perempuan lansia yang masih aktif bergerak. Di masa pensiun, ia memilih untuk melanjutkan kehidupan dengan bekerja buat PaperPods, perusahaan daur ulang kertas di Kota Denpasar, Bali.
Pilihan Pita bekerja kembali ia sebut sebagai langkah untuk terus menghidupkan jiwanya. “Saya butuh sesuatu untuk terus menggerakan saya,” katanya dalam unggahan PaperPods, 4 April 2025.
Pita bukan satu-satunya perempuan lansia yang bekerja di PaperPods. Perusahaan ini memiliki dua sampai tiga perempuan lansia yang setiap hari memproduksi kertas daur ulang.
Dalam profil PaperPods di media sosial, tertulis semua produk mereka memang diproduksi oleh perempuan lansia. Mulai dari kartu nama sampai bahan baku pembuatan buku, perusahaan tersebut menghasilkan kertas daur ulang yang bahkan bisa tumbuh kembali ketika dibuang ke tanah.
PaperPods didirikan atas inisiatif sederhana Tania Callista, 27, founder dari PeperPods, soal sampah yang bisa tumbuh kembali. Menurutnya, proses daur ulang saja belum cukup untuk merawat Bumi. Ia ingin kertas yang telah digunakan tidak berhenti jadi produk pakai, melainkan dapat tumbuh kembali dan berkontribusi memulihkan alam.
“Jadi, PaperPods ini membuat sesuatu yang sudah terbuang bisa tumbuh kembali,” terangnya kepada Magdalene (20/12) tahun lalu di Denpasar.
Dalam kerja-kerjanya, PaperPods melakukan pengolahan sampah kertas yang dikumpulkan dari berbagai institusi seperti bank sampai sekolah, yang sebelumnya berakhir sebagai limbah sekali pakai.
Kertas-kertas bekas ini pun kemudian dipilah dan didaur ulang secara manual oleh para perempuan lansia di rumah produksi mereka. Dari tangan-tangan ini, PaperPods mengubah limbah menjadi lembaran kertas baru yang juga bisa tumbuh kembali.
Baca juga: Hujan Mikroplastik di Jakarta: Dari Mana Asal-usulnya?
Perempuan Lansia dan Pasar Kerja yang Belum Berpihak

Selain ditunjukkan untuk merawat Bumi, PaperPods memang secara khusus mendukung kerja-kerja perempuan lansia. Mulanya pertemuan Tania dan para ibu tak direncanakan, tapi belakangan justru membawa PaperPods pada semangat pemberdayaan perempuan lansia.
“Jujur tadinya aku memang fokus di pekerja perempuan aja, tapi ketika aku cari pekerja dan ketemu sama Bu Pita dan yang lain, aku jadi sadar ternyata tuh memang ada problem ini. Para perempuan lansia ini juga butuh pekerjaan dan rutinitas,” terang Tania.
Di Indonesia sendiri, lansia memang masih dipandang tak lazim untuk menduduki posisi pekerja. Dalam riset bertajuk “Ageism and Job Advertisements: The Impact of Age Restrictions on Job Accessibility for Old Job Seekers in Indonesia” (2024), hal ini disebabkan oleh diskriminasi usia pekerja yang masih sering muncul di pasar kerja.
Temuan tersebut juga menunjukan iklan pekerjaan hampir selalu menaruh batasan usia sebagai syarat pendaftaran. Padahal–pada beberapa jenis pekerjaan–batas usia sangat tidak relevan dengan jenis pekerjaan yang dibuka.
Selain itu, persoalan juga muncul dari kebijakan ketenagakerjaan yang belum berpihak pada lansia. Penegakan aturan anti-diskriminasi dalam pekerjaan masih belum benar-benar diterapkan. Menyadur Antara, padahal Indonesia telah meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) No. 111 melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1999 tentang diskriminasi berbasis usia. Hanya saja implementasi aturan ini masih minim dan tidak konsisten. Evaluasinya pun lemah.
Masih dari media yang sama, kebijakan ketenagakerjaan yang belum berpihak pada lansia juga meliputi belum tersedianya program pelatihan, dan juga peningkatan keterampilan yang sesuai dengan kapasitas lansia. Sekali pun ada, program pelatihan ini tidak diikuti dengan insentif pajak atau subsidi bagi perusahaan yang mempekerjakan lansia. Alhasil banyak perusahaan yang enggan mempekerjakan lansia, apalagi infrastruktur penopang–seperti transportasi–belum ramah untuk semua orang. Hal ini membuat lansia jadi kesulitan untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan ekonomi dan sosial.
Baca juga: Membacakan Buku untuk Lansia: Literasi yang Menghangatkan dan Menghubungkan Generasi
Bekerja Kembali dan Menemukan Makna Hidup Baru
Kembali pada PaperPods, Tania bilang pekerjaan yang tepat bisa membawa makna hidup baru bagi para perempuan lansia. Alasannya, mereka jadi punya rutinitas baru yang pelan namun pasti. Baik Pita dan perempuan lainnya jadi dapat terus bertemu dengan rekan mereka dan terus beraktivitas setiap hari.
Para perempuan lansia biasanya akan datang ke rumah produksi PaperPods yang berjarak tak jauh dari kediaman mereka. Dalam proses ini, para pekerja perempuan lansia jadi punya sesuatu yang dinantikan setiap hari. Hal ini pun jadi fase kehidupan baru–setelah pensiun dari pekerjaan sebelumnya–yang dipenuhi dengan rasa bangga atas kontribusi dan keterampilan mereka sendiri.
“Dengan adanya rutinitas ini aku melihat bagaimana mereka jadi punya sense of belonging lagi gitu. Mereka bisa bergerak kembali,” kata Tania.
Rasa bangga yang muncul dari para ibu ini tentu tidak hanya datang dari rutinitas yang mereka jalani, melainkan juga dari kerja-kerja yang mereka lakukan dan berdampak pada keberlanjutan bumi.
Dari tangan mereka, kertas yang sebelumnya diambil dari pohon–dan berakhir sebagai sampah–dapat kembali menemukan fungsi dan makna. Dari sana lahirlah kertas PaperPods: produk daur ulang yang mengandung benih tanaman di dalamnya. Setelah digunakan sebagai buku ataupun kartu nama, kertas ini tidak lagi akan berakhir di tempat sampah, melainkan dapat ditanam kembali ke tanah dan tumbuh menjadi tanaman.
Kerja yang para perempuan lansia lakukan sehari-hari pun tidak hanya memperpanjang usia kertas, melainkan juga mengembalikannya ke alam sebagai kehidupan baru.
Selaras dengan apa yang terjadi pada perempuan lansia di PaperPods, riset berjudul “What Do Older Workers Value About Work and Why?” (2017), bilang pekerjaan yang bermakna memang dapat membantu lansia meningkatkan self-esteem atau harga diri mereka. Tanpa menambahkan beban baru, pekerjaan tersebut dapat memberikan lansia tujuan hidup, rasa berkontribusi, dan juga kontrol terhadap aktivitas harian mereka.
Data survei nasional Amerika sendiri menunjukkan lansia yang masih bekerja memang punya pengalaman hidup yang lebih positif, dibanding mereka yang tidak aktif bekerja. Survei yang dilakukan oleh University of Michigan National Poll on Healthy Aging pada 2024 ini menyebut bahwa bekerja dapat memberikan struktur harian yang konsisten. Hal ini pun bisa mengurangi perasaan tidak berguna atau hilangnya peran sosial.
Baca juga: Jadi Lansia di Indonesia, Boleh Kerja tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku
Dari proses ini, kerja Pita dan perempuan lansia lainnya di PaperPods juga memperlihatkan, merawat Bumi tidak melulu soal teknologi besar atau solusi rumit. Melalui pekerjaan yang dekat dengan keseharian, mereka bersama PaperPods, bisa menghubungkan ulang siklus yang kerap terputus: dari konsumsi, jadi limbah, lalu kembali ke alam.
Pada akhirnya, PaperPods pun memperlihatkan bagaimana penciptaan lapangan kerja bagi perempuan lansia dapat dilakukan. Tak hanya itu, kerja-kerja perempuan ini juga bahkan bisa berdampak nyata bagi lingkungan.
Lewat kerja yang dekat, bermakna, dan berkelanjutan, perempuan lansia tetap bisa berdaya sekaligus berkontribusi merawat Bumi. Model ini menjadi pengingat pemberdayaan dan keberlanjutan lingkungan bukan dua hal yang terpisah. Keduanya bisa tumbuh dan berkembang selama terus didukung.
















