June 14, 2019
Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Perhatian publik dan media terhadap sepak bola perempuan meningkat, namun ketimpangan pendapatan antara atlet perempuan dan laki-laki masih ada.

by Wulan Kusuma Wardhani, Reporter
Issues // Politics and Society
Share:

Sepak bola perempuan semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat dunia. Hasil survei AC Nielsen pada Maret 2019 di 24 negara peserta Piala Dunia Perempuan menunjukkan bahwa 40 persen masyarakat tertarik dengan sepak bola perempuan. Hal ini mematahkan argumen bahwa perhatian publik terhadap sepak bola perempuan minim. Survei yang sama juga menyebutkan, jumlah media yang menayangkan pertandingan tahun ini lebih banyak jika dibandingkan perhelatan yang sama empat tahun lalu.

Eurovision Sport mengumumkan bahwa mereka akan menyiarkan pertandingan Piala Dunia Perempuan dengan total 1.000 jam tayang ke seluruh Eropa. Ini adalah sebuah kemajuan yang sangat berarti, mengingat bahwa stasiun TV yang berkantor pusat di Jenewa ini hanya mendedikasikan 200 jam tayang pada Juni-Juli 2015.

Stasiun TV olahraga asal Qatar, Bein Sports, juga memperluas jangkauan siarannya. Pada 2015, mereka hanya menayangkan turnamen ini di beberapa negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun, pada tahun ini, penggemar sepakbola di Kamboja, Indonesia, Laos, Filipina, Singapura, Thailand, dan Timor Leste pun dapat menikmatinya. Secara keseluruhan, Bein Sports mendapatkan hak eksklusif untuk menyiarkan kompetisi ini di 31 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Media di Amerika Latin pun tak ketinggalan menyiarkan kejuaraan empat tahunan ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jaringan televisi terbesar di Brazil, Globo, menayangkan pertandingan tim nasional perempuan Brazil secara langsung.

Peningkatan juga terjadi dalam hal jumlah perusahaan yang menjadi sponsor utama turnamen ini. Adidas, Coca-Cola, Gazprom, Hyundai-KIA Motors, dan VISA mensponsori Piala Dunia Perempuan 2015. Dari kelimanya, hanya Gazprom yang tidak berpartisipasi pada tahun ini. Meskipun demikian, dukungan bertambah dengan adanya pendatang baru, yakni Qatar Airways dan Wanda Group. 

Kabar baik juga datang dari Adidas. Produsen pakaian dan peralatan olahraga asal Jerman ini mengumumkan, jika para pemain yang disponsorinya berhasil membawa timnya menjadi juara, maka mereka akan menerima jumlah bonus yang sama dengan pemain sepak bola laki-laki.

Salah satu perusahaan yang melebarkan sayap untuk mendukung tim nasional perempuan adalah Budweiser. Seminggu setelah menandatangani kontrak dengan Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) untuk mensponsori tim nasional laki-laki, mereka melakukan hal yang sama untuk timnas perempuan.

Masih Ada Disparitas

Terlepas dari peningkatan porsi liputan media dan sponsor, disparitas antara sepakbola perempuan dan laki-laki tetap terjadi terutama soal pendapatan.

Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) berusaha meredakan kritik terkait ketimpangan pendapatan antara sepakbola laki-laki dan perempuan dengan cara menaikkan nilai hadiah yang diterima oleh tim juara turnamen ini. Tahun ini, tim juara akan membawa pulang uang sebesar US$4 juta, atau dua kali lipat dari nilai hadiah yang diterima timnas perempuan AS pada Piala Dunia sebelumnya.

Namun jumlah tersebut dinilai sangat kecil dibandingkan dengan hadiah uang yang diperoleh timnas laki-laki Perancis pada Piala Dunia 2018. Les Bleus mengantongi $38 juta berkat kemenangan atas Kroasia di final.

Secara keseluruhan, FIFA mengalokasikan total $30 juta sebagai uang hadiah turnamen ini. Kendati demikian, jumlah tersebut terpaut sangat jauh dari nilai total hadiah Piala Dunia 2018 yang mencapai $400 juta pada 2018.

Awal Juni lalu, Asosiasi Pesepakbola Profesional Australia (PFA) meluncurkan kampanye Our Goal Is Now dengan tujuan agar FIFA menaikkan total jumlah hadiah pada Piala Dunia kali ini. PFA menuntut FIFA untuk meningkatkan total nilai hadiah dari $30 juta menjadi $57 juta. CEO PFA John Didulica mengatakan, para pemain berhak menyelesaikan masalah tersebut melalui mediasi ataupun arbitrasi, bahkan setelah turnamen ini berakhir.

Ketimpangan pendapatan juga terjadi di federasi sepakbola di banyak negara. Tiga bulan sebelum berpartisipasi di Piala Dunia 2019, anggota timnas sepakbola perempuan Amerika Serikat mengajukan gugatan terhadap Federasi Sepakbola AS (USSF), meminta lembaga itu memberikan bayaran yang sama dengan para pemain laki-laki.

Pada kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir tim perempuan AS menghasilkan lebih banyak keuntungan dan pendapatan untuk USAF. Selain itu, mereka juga memainkan lebih banyak pertandingan daripada timnas laki-laki. 

Dalam gugatan itu juga disebutkan, dari 2013 hingga 2016, pemain timnas perempuan hanya mendapatkan rata-rata $4950 setiap kali memenangkan pertandingan persahabatan. Sementara pemain timnas laki-laki mendapatkan rata-rata $13.166 untuk hal yang sama. Meskipun USSF dan timnas perempuan telah mencapai kesepakatan pada 2017, honor yang diberikan USSF kepada atlet laki-laki dan perempuan masih belum sama.

Perselisihan dengan Federasi juga dialami oleh Ada Hegerberg, pesepakbola asal Norwegia yang meraih gelar pemain terbaik dunia 2018. Hal ini membuatnya absen pada turnamen tahun ini. Dua tahun lalu, Federasi Sepakbola Norwegia berjanji menerapkan bayaran yang sama antara pemain laki-laki dan perempuan. Namun, Hegerberg mengatakan bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki oleh federasinya.

Pay gap hanyalah salah satu dari banyaknya masalah yang dihadapi pesepakbola perempuan. Selain itu, FIFA dan federasi di banyak negara tidak melakukan upaya yang cukup untuk “memasarkan” turnamen ini.

Salah satu hal yang paling mencolok adalah fakta bahwa FIFA menjadwalkan final Piala Dunia Perempuan tahun ini pada hari yang sama (7 Juli) dengan final dua turnamen sepakbola laki-laki, yaitu Piala Emas dan Piala Amerika.

Kenyataan pahit juga diterima oleh timnas perempuan Afrika Selatan. South African Broadcasting Corporation (SABC) telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan akan menyiarkan pertandingan Banyana Banyana di Piala Dunia Perempuan. SABC beralasan bahwa kondisi keuangan menyebabkan mereka tidak mengajukan penawaran untuk mendapatkan hak siar. Namun, SABC justru akan menayangkan turnamen Piala Afrika yang berlangsung di Mesir (21 Juni-19 Juli) nanti.

Menurut kolumnis dan jurnalis Daily Telegraph, Jim White, meningkatnya partisipasi dalam Piala Dunia perempuan ini seharusnya diikuti perubahan sikap. Menurutnya, sejumlah besar orang yang terlibat dalam kompetisi ini tidak hanya memainkan pertandingan paling penting dalam hidup mereka, melainkan juga memperjuangkan hak untuk mendapatkan perlakuan setara.

“Ini adalah turnamen yang memiliki makna lebih besar daripada hampir semua event olahraga. Ini dapat menjadi awal dari sebuah revolusi,” ujarnya.

Baca lebih lanjut mengenai ketimpangan yang dihadapi pesepakbola perempuan.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Wulan Kusuma Wardhani adalah seorang pekerja media, penggemar olahraga (terutama sepak bola) dan feminis. Ia juga adalah kontributor womensoccerid.