July 26, 2019
‘Dua Garis Biru’ dan Kenyataan Pendidikan Seks di Indonesia

Film ‘Dua Garis Biru’ menyadarkan akan realitas minimnya pendidikan seks di Indonesia, dan bahaya yang ditimbulkannya.

by Sheila Lalita
Culture // Screen Raves
Share:

Segala sesuatu yang berhubungan dengan seks selalu menjadi kontroversi bagi masyarakat Indonesia, yang belakangan semakin konservatif. Beberapa waktu lalu, film Kucumbu Tubuh Indahku dari sutradara Garin Nugroho mendapat protes karena mengangkat isu homoseksualitas. Juli ini, film Dua Garis Biru dari sutradara dan penulis skenario Gina S. Noer, yang mendapat giliran protes. Film yang secara gamblang membahas kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja ini sempat menerima boikot dari masyarakat bahkan sebelum tanggal tayang resmi diumumkan.

Pemboikotan tersebut datang dalam bentuk sebuah petisi daring berjudul “Jangan Loloskan Film yang Menjerumuskan! Cegah Dua Garis Biru di Luar Nikah!”. Pembuat petisi menilai, hanya berdasarkan teaser film tersebut yang dikeluarkan April, bahwa film itu mendorong gaya hidup bebas pada remaja. Namun, film Dua Garis Biru justru ingin mendorong adanya pendidikan seksualitas yang memadai di Indonesia.

Saat melihat trailer untuk Dua Garis Biru, saya sejujurnya kurang tertarik dengan film ini karena trailer itu mengesankan bahwa film tersebut hanya akan berfokus pada percintaan antara kedua protagonis, Dara dan Bima. Namun, seperti sang pembuat petisi yang juga terbukti salah tentang persepsi awalnya, saya pun dikejutkan (secara positif) dengan film yang digarap dengan baik secara cerita dan teknis, berikut pesan yang membuat kita berpikir tanpa merasa digurui.

Sebuah debut untuk Gina sebagai sutradara, Dua Garis Biru mengisahkan tentang sepasang remaja yang tersandung masalah karena si perempuan hamil. Mengangkat tema pentingnya pendidikan seksualitas secara formal bagi anak-anak dan remaja Indonesia, pesan ini tidak disajikan secara gamblang, namun subtil dan bernuansa.

Baca juga: Pendidikan Seks Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

Pesan tersebut muncul dalam bentuk dialog antar karakter, yang jika tidak begitu diperhatikan dapat terlihat sebatas sebuah celetukan, juga datang dalam ekspresi dan emosi yang disampaikan dengan baik oleh para pemeran, hingga gambar detail para karakter. Dilengkapi dengan perkembangan cerita yang tidak terburu-buru, musik film yang pas, hal tersebut mendorong saya untuk berempati dengan perjalanan kedua tokoh utama.

Warna dan atmosfer film ini sederhana dan lembut, meskipun topik yang diangkat dapat dikatakan “suram”. Hal ini menciptakan kesan membumi yang membuat penonton bisa merasakan emosi yang muncul, dan tidak enggan untuk menonton film yang topiknya cukup serius ini. (Sampai tulisan ini ditayangkan, sudah lebih dari dua juta orang menonton film ini).

Penonton tidak akan lupa dengan adegan di UKS (Unit Kesehatan Sekolah), yang diambil dalam satu take untuk durasi beberapa menit, yang mampu menangkap peliknya situasi Bima dan Dara tidak hanya dari perspektif kedua remaja tersebut, namun juga dari perspektif orang tua mereka. Kombinasi seluruh aspek tersebut menciptakan jalan cerita yang mengalir, membuat saya seolah berada di sana bersama para karakter dan merasakan apa yang para karakter rasakan.

Kegelisahan dan kenaifan Dara (dimainkan secara apik oleh Zara JKT48) dan Bima muncul dalam dialog dengan dokter kandungan, misalnya. Bagaimana mereka mengaku telah mempelajari tentang sistem reproduksi secara formal di sekolah, namun tidak pernah mengetahui risiko kehamilan dini maupun risiko proses melahirkan dini. Dara juga mengaku bahwa ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pada tubuhnya, seiring periode kehamilannya.

Kegelisahan Dara disajikan dengan rapi, melalui adegan-adegan dan detail yang saya rasa hanya bisa disampaikan melalui perspektif seorang sutradara dan penulis perempuan. Kita dapat melihat kegelisahan tersebut terus bertumbuh melalui gambar yang menunjukkan stretch marks di perutnya, atau ketika ASI-nya mulai merembes di baju Dara.

Baca juga: Kisah Menstruasi Pertama Siklus Ketidaktahuan Menahun

Pesan lainnya dalam film ini adalah bahwa dalam memberikan pendidikan seksualitas, upaya formal dari sekolah saja tidak cukup. Orang tua pun harus terlibat dalam proses pendidikan seksualitas anak, yang hanya bisa dicapai melalui komunikasi yang transparan antara orang tua dan anak. Menutup mata anak ketika ada adegan ciuman di TV, misalnya, tak lagi cukup karena hal tersebut justru dapat meningkatkan rasa penasaran anak.

Film ini secara tersirat menyatakan bahwa anak akan selalu dapat mengakses informasi tentang seks, orang tua memiliki pilihan untuk memberikan informasi yang akurat atau justru membiarkan anak mengakses informasi yang belum tentu akurat, dan dapat membahayakannya.

Dalam diskusi yang diadakan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) setelah film selesai, Gina mengatakan bahwa film ini pertama kali ditulis tahun 2009 setelah menonton Juno, yang juga mengangkat isu kehamilan yang tidak diinginkan. Film itu menyadarkannya atas realitas yang sama sekali berbeda di Indonesia, ketika rasa ingin tahu tinggi tetapi tidak ada yang bisa menjawab rasa ingin tahu remaja.

Gina juga menyatakan keterkejutannya bahwa generasi seusianya, sebagai orang tua muda, dan generasi di atasnya, justru merasa tidak tergerak untuk menonton film ini.

“Masih ada rasa takut untuk membahas pendidikan seksualitas dan seolah belum siap ‘berkaca’. Justru generasi muda, seperti para remaja, yang lebih bersemangat untuk mendukung film sejenis ini. Seolah untuk menyuarakan, ‘Loh, kita memang butuh pendidikan seksualitas kok’,” ujar sutradara berusia 33 tahun itu.

Mungkin dengan semangat itulah generasi muda Indonesia pada akhirnya akan mendapatkan pendidikan seksualitas yang memadai, suatu hari nanti.

Sheila Lalita adalah reporter magang Magdalene. Ia mahasiswa Hubungan Internasional yang gemar menulis sejak ia SMP. Sheila sendiri mulai mempertanyakan kenapa ia memilih Hubungan Internasional sebagai jurusan yang ia pilih.