August, 22 2017
Ekspektasi Gender Bebani Anak Sejak Lahir

'Kasih ibu sepanjang masa' hanya sebatas peribahasa saat anak tidak memenuhi ekspektasi orang tua.

by Maicel Andrea
Issues // Politics and Society
Share:
Hal pertama yang diperhatikan orang setiap kali seorang bayi dilahirkan adalah jenis kelamin. Itu sangat penting hingga banyak orang tua yang menamai anak mereka berdasarkan hal itu. Bayi laki-laki akan diberikan nama yang terdengar jantan dan penuh wibawa, agar itu tercermin pada kepribadiannya kelak yang dipastikan akan menjadi seorang “imam”. Perempuan akan diberikan kata-kata yang cantik dan anggun, seperti bunga-bungaan yang indah dan wewangian yang harum, agar mereka bisa menebarkan keindahan dan kekaguman seperti selayaknya perempuan itu diharapkan.

Sebagian besar masyarakat hanya mengenal dua jenis kelamin, sebuah dikotomi antara maskulinitas dan femininitas, dua kutub yang tak pernah saling menyatu. Ketika yang terlahir adalah laki-laki, maka ia tak punya pilihan selain merangkul maskulinitasnya. Begitu pun dengan perempuan. Tak ada kata antara dari dua hal itu, dan tak juga ada pilihan. Masyarakat tak mau tahu apa yang ia pikirkan. Selama ia memiliki penis, maka ia harus menampilkan kejantanan. Dan ekspektasi-ekspektasi atas kejantanan pun langsung dibebankan kepadanya, bahkan sejak ia masih bayi, ketika ia belum tahu caranya berpikir. Beruntung ketika ia merasa nyaman dengan jalan tersebut. Namun bagi mereka yang tak nyaman, tidak ada pilihan lain selain merasa nyaman atau dianggap tak berterima kasih ketika ia memilih jalan yang ia pilih sendiri.

Tak seperti orang tua yang memiliki pilihan utuh apakah mereka akan memiliki anak atau tidak, anak-anak sama sekali tak punya hak istimewa tersebut. Mereka tak pernah punya pilihan terlahir di mana, di keluarga macam apa, dan dengan jenis kelamin apa. Namun, alih-alih diterima sepenuhnya, mereka malah dibebani dengan tanggung jawab yang seharusnya mampu mereka pilih. Mereka diwajibkan membalas jasa kepada orang tua mereka karena telah dilahirkan di dunia, padahal mereka lahir hanya karena keinginan orang tua atau paksaan nenek mereka untuk menggendong bayi. Lalu mereka diajarkan untuk menganut agama tertentu, mengikuti budaya tertentu, dan berperilaku sedemikian rupa. Semua itu, yang logikanya adalah pilihan-pilihan yang sewajarnya diberikan kepada anak-anak, malah menjadi rantai tak kasat mata yang mengikat atau kalau terputus maka mereka akan dicap tak baik.

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Peribahasa itu ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Lewat peribahasa itu, anak-anak diberitahu bahwa apa pun yang terjadi, ibu mereka tidak akan berhenti menyayangi mereka. Akan selalu ada cinta yang menghangatkan rumah mereka. Tapi kenyataannya, tak semuanya seperti itu. Karena bagi sebagian orang tua, ekspektasi-ekspektasi yang membebani itu lebih besar dan kuat dibandingkan cinta mereka kepada anak-anaknya.

Ketika sadar anak-anak yang mereka harapkan untuk tumbuh dan menjadi sedemikian rupa ternyata tak sesuai harapan mereka, kekecewaan membawa orang tua ke dalam perilaku yang tidak masuk akal. Anak laki-laki dididik dengan kekerasan agar ia menghilangkan sikap kemayunya. Lebih parah lagi, tindakan itu dianggap wajar oleh masyarakat karena anggapan bahwa begitulah seharusnya orang-orang seperti itu diperlakukan. Perempuan-perempuan pun mendapat perlakuan yang sama. Ketika mereka tak memiliki keahlian untuk memasak atau membersihkan rumah, misalnya, maka penghakiman jelek langsung mereka terima.



Berdasarkan penelitian Arus Pelangi pada 2013, 63,3 persen Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia mengalami kekerasan budaya berupa pengusiran dari rumah atau rumah kost dan paksaan untuk menikah dengan orang yang tak mereka kehendaki. Mirisnya, 76 persen dari kekerasan itu dilakukan oleh keluarga sendiri. Pengusiran ini tentu saja mempengaruhi hidup anak-anak mereka. Lalu, bagaimana mungkin ekpektasi yang awalnya berniat baik tapi berakhir seperti ini? Pertanyaannya, di mana nilai peribahasa kasih ibu sepanjang masa yang sejak kecil ditanam di kepala mereka?

Ekspektasi-ekspektasi itu ternyata memiliki lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Hal itu seberbahaya cerita Malin Kundang yang meyakinkan ibu-ibu bahwa semua anak harus mengikuti apa kata mereka, atau mereka akan dicap durhaka. Ekspektasi-ekspektasi itu, yang terus dibebankan kepada anak-anak mereka, seolah anak mereka takkan pernah tumbuh menjadi manusia dewasa yang utuh yang punya pilihan dan kehendak sendiri. Padahal, yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya adalah perpaduan antara logika dan kehendak. Jadi, kenapa ekspektasi-ekspektasi yang pada akhirnya akan membawa kekecewaan itu dibebankan kepada anak-anak? Logikanya, kalau anak-anak dididik dengan baik, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang baik pula. Tapi, menjadi sekedar manusia yang baik dan bermanfaat bagi khalayak ternyata tidak cukup bagi beberapa orang tua. Mereka harus lebih dari itu.
 
Maicel Andrea adalah seorang pemimpi profesional, manusia amatir. Tak pernah sendiri walaupun hampir selalu menyendiri, dan punya mimpi memiliki perpustakaan untuk dirinya sendiri.