July 23, 2019
FaceApp dan Ilusi Masa Tua

Aplikasi FaceApp dan #Agechallenge tidak mampu menggambarkan menjadi tua dan segala kecemasan yang menyertainya.

by Sri Lestari
Issues // Politics and Society
Share:

Belakangan ini, kakak perempuan saya yang baru menginjak usia 40 tahun, gemar pergi ke dokter kecantikan dan memakai krim anti penuaan. Melihatnya, saya jadi tahu bahwa betapa menjadi tua bukanlah dambaan setiap orang. Bagaimana mungkin mendamba tua, sementara krim anti-penuaan justru laris manis dijual di pasaran. Tua itu pasti, tapi lebih baik tidak menjadi tua secepat mungkin. Menanamkan ilusi muda dan tetap cantik meski usia beranjak menua, begitulah logika anti-aging ditanamkan pada para konsumen.

Namun, beberapa hari terakhir, saya melihat foto-foto teman sebaya saya terlihat lebih tua. Mereka dengan bangga membagikan foto-foto mereka di media sosial dengan tagar #Agechallenge. Barangkali begitulah gambaran masa tua mereka, persis seperti foto-foto yang mereka bagikan itu. Melihat mereka demikian, saya melihat betapa tua tidak lagi menjadi kerisauan. Menjadi keriput tidak menjadi soal bagi mereka. Ramai-ramai mereka bangga pada potret ilusi masa tua mereka.

Ternyata foto itu adalah hasil ilustrasi kecanggihan teknologi bernama aplikasi FaceApp. Menurut saya, aplikasi ini berhasil memunculkan masa tua yang gembira. Tentu bagi orang-orang yang seperti teman saya itu. Sementara bagi mereka yang risau akan ilusi foto masa tua mereka, mungkin akan melakukan hal sebaliknya. Merasa malu membagikan foto itu, atau bahkan berbondong-bondong ke dokter kecantikan dan bahkan mungkin ada yang melakukan operasi kecantikan. Ada bagian dari mereka yang menggunakan aplikasi ini justru merasa resah, begitu kata Rekha Tailor, seorang dokter kecantikan di Inggris. Si dokter justru menyatakan bahwa kemunculan aplikasi ini berimbas pada peningkatan pengguna botox.

Di sisi lain, ada yang khawatir akan pelanggaran privasi data pribadi akibat penggunaan aplikasi ini. Bagi mereka yang sudah menggunakan aplikasi ini, dikhawatirkan data pribadinya akan disalahgunakan pembuat aplikasi yang tidak bertanggung Jawab. Foto mereka akan dilacak dan didata kemudian disimpan meski sudah menghapus aplikasi ini. Saya tidak terlalu tertarik dengan isu pencurian data ini, karena bagi saya lebih menarik lagi adalah ilusi masa tua dalam aplikasi FaceApp.

Baca juga: Pesan Kontes Kecantikan: Dunia Dirancang untuk Perempuan Cantik

FaceApp berhasil menampilkan Ilusi wajah tua tapi tentang kehidupan masa tua adalah soal lain. Menjadi tua tidak hanya soal keriput, tetapi juga tentang pengalaman kecemasan masa tua. Lihatlah masa tua orang terdekat kita, merekalah gambaran nyata kehidupan kita di masa depan. Menjadi tua berarti kemunduran baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik, beberapa dari mereka mengalami masalah gerak, penglihatan, pendengaran, pernapasan, hormon, dan bahkan daya ingat. Dampak penurunan fisik berefek pada psikologis. Akibatnya, harga diri mereka menjadi rendah. Para orang lanjut usia merasa terasing, diasingkan, dan tak lagi berdaya.

Saya melihat langsung bagaimana kehidupan menjadi tua sungguh penuh kecemasan. Lebih dari sekadar takut untuk menjadi tak rupawan atau kulit mulai keriput, para orang lanjut usia di sekeliling saya justru dihantui oleh ketakutan menjadi tidak berdaya dan menyusahkan keluarga. Dan itu sangat menakutkan bagi mereka.

Mereka juga mengkhawatirkan kesepian. Karena kecemasan itu, sering kali saya melihat lansia di sekitar saya menjadi sering marah. Bagi para orang terdekatnya, merawat lansia butuh kesabaran ekstra, dan mereka berseloroh bahwa mereka tidak ingin menjadi tua dan menyebalkan. Bagi orang-orang ini, menjadi tua dan menyebalkan itu adalah tentang selalu menjadi cemas dan pemarah, seperti cerminan yang mereka lihat dari para lansia itu.

Baca juga: Menentang Standar Kecantikan Agar Tubuh Tidak Terjajah

Kemudian saya mulai memikirkan ilusi masa tua saya puluhan tahun lagi. Masa tua yang menyenangkan dan tenteram, menurut sebuah survei dari Global Retirement Index 2017, memiliki indikator di antaranya kesejahteraan kesehatan dan kehidupan material. Semakin baik kedua indikator itu terpenuhi, ketenteraman dan kedamaian di masa tua akan mudah diperoleh.

Sayangnya, fasilitas kesehatan adalah hal yang pertama-tama sulit diperoleh di negara ini. Semua orang tahu itu. Sementara itu, supaya memiliki kesejahteraan material di masa tua, berarti saya perlu memiliki tabungan yang cukup. Artinya, bersusah payah di masa muda adalah pilihan saya. Namun akan sangat payah masa muda saya jika dihabiskan dengan terus mengisi pundi-pundi demi kehidupan masa tua sedangkan kenyataannya biaya hidup sehari-hari terus melambung tinggi.

Indikator selanjutnya adalah lingkungan yang baik termasuk di dalamnya kualitas udara. Akan menjadi dilematik jika mengharapkan kualitas udara yang baik berarti perlu hidup di desa yang tenang dan nyaman. Sementara itu, desa tidak menyediakan fasilitas kesehatan yang baik. Kota adalah pilihannya jika ingin indikator pertama terpenuhi. Namun, jika saat ini saja polusi di kota semakin tinggi, bagaimana dengan kehidupan masa tua 40-50 tahun mendatang?

Ilusi masa tua saya berpuluh tahun mendatang adalah kecemasan tentang Bumi yang mungkin tak layak lagi dihuni, bahkan mungkin bernapas sudah tak lagi semudah saat ini. Apakah mungkin puluhan tahun mendatang mencari air bersih akan mudah seperti saat ini? Bahkan saat ini pun keberadaan air bersih sangat mengkhawatirkan. Akankah di masa mendatang justru lebih parah dari keadaan sekarang? Akan menjadi sulit karena barangkali produksi limbah manusia modern semakin banyak dan akan mencemari air tanah kita.

Bagi saya, tak perlu FaceApp untuk melihat ilusi hari tua. Karena tua tidak melulu tentang kulit keriput tapi tentang segala kecemasannya. FaceApp tak mampu menggambarkan yang kedua. Lalu untuk apa berbahagia menjadi tua lebih cepat karena aplikasi itu?

Sri Lestari adalah seorang pengajar yang justru tidak tertarik pada bidang pengajaran. Menulis apa saja yang menarik.