October 23, 2018
Pesan Kontes Kecantikan: Dunia Dirancang untuk Perempuan Cantik

Beauty, brain, behavior? Dua kriteria terakhir tidak berarti dalam kontes kecantikan.

by Aya Prita Belia
Issues // Politics and Society
Share:


Saya suka sekali bekerja untuk event organizer, tapi saat harus mengurus sebuah audisi kontes kecantikan, itulah pekerjaan terberat bagi saya. Meskipun pekerjaan saya hanya duduk dan mengambil notula wawancara para mbak kandidat yang cantik, saya terus menerus menarik nafas panjang menyaksikan kejamnya proses wawancara tersebut.
Saya harus menahan umpatan; menjaga dengan susah payah agar tidak keceplosan melontarkan teori-teori feminisme yang saya pelajari di bangku kuliah; dan saya mengetik sambil sesekali mencengkeram lengan kursi yang saya duduki hingga tiga jam lebih.
Bagaimana tidak, jika untuk menjadi perwakilan sebuah negara maupun jagat raya ini, dan untuk masuk televisi, hanya diukur dari standar kecantikan fisik saja. Haduh, kepriben.
Pagi-pagi sekali, para kandidat dengan hak tinggi, gaun pendek, riasan dan tata rambut maksimal, lengkap dengan minyak wangi yang menyengat, telah menempati satu ruangan. Mereka harus ditimbang berat badannya dan diukur tingginya. Tak lupa untuk mendapatkan nomor.
Sebelum sang mbak kandidat melalui proses seleksi, para juri telah meminta data tinggi dan berat badan mereka dulu. Kalau sudah tidak sesuai “standar”, selesai sudah, mereka tidak akan menggubris kandidat tersebut alias wawancara dengan ogah-ogahan. Saat kandidat masuk ke dalam ruangan penjurian, ia harus berpose dulu di depan kamera dan ia mungkin tidak tahu sama sekali kalau tubuhnya disorot dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Ia kemudian duduk di depan para juri serta juru kamera dan lainnya, termasuk saya; di depan sinar lampu yang sangat terang dan semua mata tertuju padanya.
Lalu wajahnya dilihat dengan saksama. Jika riasannya dianggap jelek dan juri ingin melihat wajah “aslinya”, langsung mereka panggil salah satu penata rias di ruang sebelah untuk menghapus seluruh riasan mbak satu itu. Setelah semuanya oke, barulah wawancara dimulai. Ditanya dulu garis keturunan, bapak suku apa, ibu asli mana, pekerjaan orang tua, sudah punya pacar apa belum, olahraganya apa – pertanyaan soal pengetahuan pribadi cuma satu-dua aja.
Ketika saya istirahat ke kamar mandi, saya sering mendengar isak tangis dari kandidat. Bagaimana tidak, selain benar-benar memberi tekanan batin hanya gara-gara pertanyaan personal (dan bukan ujian masuk sekolah atau apa pun, loh), beberapa dari mereka ada yang memberikan informasi keluarga dan harus menghadapi pertanyaan berikut:
 
Juri: Ibu kamu kerja apa? 



Kandidat: Tukang potong sapi, Pak.
Juri: Terus kamu ikut beauty pageant buat apa? Buat untuk jadi tukang potong sapi juga? Emang gimana prospek tukang potong sapi ke depannya buat kamu?
Wow. Pekerjaan ibu dan bapak yang telah menghidupi kita, pekerjaan yang semulia itu, dipertanyakan secara retoris dan kejam di hadapan banyak orang. Sang kandidat yang hanya boleh menatap kamera, bukan ke juri maupun sekitar, hanya bisa mulai berkaca-kaca. Bingung harus menjawab apa, atau haruskah ia berlari keluar ruangan dan memeluk orang tuanya sambil berkata bahwa audisi beauty pageant benar-benar membuang waktunya?
Di satu sesi wawancara, juri menyatakan bahwa mereka menginginkan mereka yang tinggi, kurus semampai, berwajah eksotis nan cantik. Yang terlalu pintar? Tidak perlu. Satu kandidat yang bagi saya pintar sekali menyuarakan opininya namun karena pendek dan “tidak menjual”, langsung dalam catatan yang diberikan kepada saya ditulis “NO” besar-besar.
Pada 1968, sejumlah perempuan di Amerika Serikat ramai menolak adanya Miss America dan mengejeknya dengan “cattle auction” alias “Lelang Ternak”. Salah satu poster mereka bertuliskan “parade ternak telah merendahkan manusia”. Beauty pageant, di mana perempuan memperebutkan gelar “Miss Jagat Raya”, “Miss Dunia” memang tidak berbeda dengan lelang ternak. Para kandidat ditimbang, diukur, diberi nomor, dinilai juri berdasarkan standar kecantikan konstruksi sosial, lalu nantinya masyarakat memilih sesuai standar kecantikan konstruksi sosial. Ternak diberi nomor, dinilai apakah dagingnya sesuai untuk dikonsumsi, dilelang, dan dibeli.  
Setelah beberapa abad perjuangan kesetaraan gender oleh sejumlah pahlawan perempuan, televisi hanya sebatas menayangkan perebutan gelar “miss” yang sebenarnya merendahkan perempuan? Konsumsi publik dalam televisi seharusnya bukanlah menyatakan bahwa dunia ini dirancang untuk orang cantik yang menyandang gelar “Miss Dunia” dan yang menyebabkan perempuan harus membenci diri sendiri, merombak diri sendiri agar diterima publik. Televisi seharusnya menayangkan bahwa kecantikan berbeda-beda dan dunia ini lebih indah dengan adanya perbedaan.
Apakah pergelaran beauty pageant perlu ditayangkan di televisi? Tidak. Ganti saja dengan iklan es krim.
Aya Prita Belia adalah pekerja lepas dengan rak penuh buku sastra, budaya, spiritualisme, biografi Kurt Cobain dan Courtney Love, komik Spider-Man serta album K-Pop. Suka menerima pesan cinta, sapa saja ke ayapritabelia@gmail.com