October 30, 2019
Feminisme untuk Keadilan, Bukan Feminisme Pengakuan

Feminisme yang sesungguhnya tidak berhenti pada “pengakuan” tapi harus memperjuangkan keadilan sampai ke akar.

by Dianty Ningrum
Issues // Politics and Society
Share:

Dalam bukunya Lean In, Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook yang sebelumnya pernah menjadi petinggi Google, mempertanyakan kurangnya perempuan di jajaran atas bisnis dan pemerintahan. Sandberg berpendapat bahwa perempuan profesional masih menghadapi banyak hambatan untuk dapat mencapai jajaran atas manajemen, seperti seksisme, pelecehan seksual, dan diskriminasi. Menurut Sandberg, dunia yang setara adalah dunia di mana “...women ran half our countries and companies and men ran half our homes”.

Bagi perempuan yang pernah diremehkan, dilecehkan, atau didiskriminasi karena gender, buku itu sangat membakar semangat. Pikir saya, dunia yang adil adalah dunia yang didasarkan pada meritokrasi, bukan “kodrat”.

Selang beberapa tahun, saya kurang lebih sudah membuktikan pencapaian berdasarkan kemampuan saya. Anehnya, alih-alih merasa puas, saya merasa kosong. Padahal makin banyak berita mengenai CEO perempuan. Representasi politik perempuan juga meningkat. Jumlah perempuan yang memiliki karier jelas lebih banyak. Tapi alih-alih merasa “kemenangan” semakin dekat, hati saya merasa kita sedang “kalah”.

Setiap hari media penuh berita-berita menyedihkan mengenai perempuan dan kelompok marginal lain di luar sana, mulai dari kebakaran pabrik korek api yang menewaskan buruh perempuan, petani-petani perempuan yang lahannya dirampas untuk pembangunan pabrik dan bandara, atau ibu-ibu pengemudi ojek daring yang harus sampai tengah malam mengejar target sampai kesehatannya dikorbankan. Saya juga makin patah hati melihat dampak krisis iklim, seperti nelayan-nelayan perempuan yang mata pencahariannya kandas karena keragaman hayati laut terganggu suhu laut yang memanas, atau rumah pesisirnya perlahan tenggelam karena permukaan laut yang naik.

Mungkin ada yang salah dalam fokus feminisme yang kita yakini. Sebagian dari kita berhenti pada pencapaian pribadi dan pembuktian diri sendiri. Menurut Nancy Fraser, Profesor Filsafat di The New School for Social Research, keadilan yang diperjuangkan feminisme generasi kita adalah “keadilan pengakuan”, bukan “keadilan pemerataan”.

Baca juga: Siapakah yang Pantas Disebut Feminis?

Fraser menulis sebuah manifesto berjudul “Feminism for The 99%” yang ditulisnya bersama dengan Cinzia Arruzza dan Tithi Bhattacharya. Menurut mereka, feminisme yang sesungguhnya tidak berhenti pada “pengakuan” tapi harus memperjuangkan keadilan sampai ke akar. Feminisme yang sekarang mendominasi media adalah ‘”feminisme pengakuan”, yang:

“...didedikasikan untuk memungkinkan segelintir perempuan istimewa untuk naik tangga perusahaan dan pangkat militer. Tujuan sebenarnya bukanlah kesetaraan, tetapi meritokrasi. Alih-alih berusaha menghapus hierarki sosial, gerakan ini bertujuan untuk ‘mendiversifikasi', 'memberdayakan perempuan berbakat' untuk naik ke puncak. Dengan memperlakukan perempuan hanya sebagai 'kelompok yang kurang terwakili', para pendukungnya berupaya memastikan bahwa beberapa orang terpilih dapat memperoleh posisi yang setara dengan laki-laki dari kelas mereka sendiri. Sudah pasti, penerima manfaat utama dari feminisme ini adalah mereka yang sudah memiliki keuntungan sosial, budaya, dan ekonomi yang cukup besar. Perempuan-perempuan lainnya tetap terjebak di ‘ruang bawah tanah’.”

Sepuluh tahun yang lalu, ketika krisis finansial global, ada sebuah gerakan bernama Occupy Wall Street. Gerakan ini memiliki slogan “We are the 99%”, berdasarkan fakta bahwa sebagian besar kekayaan dunia ini hanya ada di tangan 1 persen orang-orang terkaya di dunia, dengan memeras daya kerja 99 persen sisanya. Bukan cuma daya kerja yang diperas, sumber daya alam juga dikuras habis sampai titik nadir, menghasilkan apa yang disebut krisis iklim. Dalam krisis dan kelangkaan sumber daya, yang sengsara lebih dulu adalah mereka yang minoritas, baik secara ras, agama, suku, maupun identitas lain.

Feminisme meritokrasi secara sadar menjauhi isu sosial ekonomi, menganggap itu bukan isu mereka. Sementara itu, kita tenggelam dalam kompetisi dan kebutuhan untuk pembuktian diri, berjuang menyejajarkan diri dengan kolega laki-laki. Selain dari mereka yang sudah memiliki modal besar untuk “bertarung”, sebagian besar dari kita menanggung sendiri beban ini; beban untuk menang dalam masyarakat dan membuktikan diri, dalam bentuk biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, dan perawatan.

Di tangan negara yang setengah hati, pendidikan dan pengobatan berkualitas tidak pernah sepenuhnya murah bagi semua. Jurang makin besar terbentang antara yang kaya dan sisanya. Hidup di masyarakat dengan tuntutan pembuktian diri yang tinggi, kita semakin lupa ada yang tidak beres dalam sistem masyarakat kita.

Gerakan Feminism for The 99% percaya bahwa hanya dengan berkoalisi dengan gerakan kesetaraan, anti-rasisme, aktivisme lingkungan, serta perjuangan hak pekerja dan migranlah feminisme bisa benar-benar sepenuhnya berfungsi menghadapi tantangan zaman. Feminisme untuk 99% tidak mengedepankan, dan tidak berhenti pada pengakuan atas individu, terlebih pengakuan dalam sistem kapitalis yang menggerus kaum 99 persen.

Baca juga: Menjadi Feminis: Menyebarkan Kesadaran atau Memaksakan Kepercayaan?

Di era media sosial ini, kita serasa masih tenggelam dalam ritual feminisme meritokrasi. Kagum pada srikandi-srikandi abad ini yang berhasil menjadi jajaran eksekutif perusahaan besar--mungkin perusahaan sama dengan perusahaan yang mengontrak pabrik-pabrik pinggir kota yang mengeksploitasi buruh perempuan, perusahaan konstruksi yang menggusur petani untuk proyek infrastruktur, atau perusahaan minyak terkenal yang emisi karbonnya berakibat pada efek bencana pemanasan global.

Kita terinspirasi. Kita ingin membuktikan pada dunia bahwa perempuan bisa, dan cara pembuktian diri yang diajarkan masyarakat pada kita adalah dengan menggantikan laki-laki di jabatan-jabatan strategis yang menopang sistem kapitalis. Pertanyaannya, bagaimana bisa kita bersimpati dengan orang-orang tertindas hari ini tapi keesokan harinya kita memuji, bahkan berharap menjadi orang-orang yang berperan penting dalam sistem yang menindas mereka?

Pengakuan, sebagaimana keterwakilan dan meritokrasi, adalah hal yang baik. Baik, dengan catatan bahwa hal-hal tersebut memang digunakan untuk meraih kebaikan yang lebih besar untuk semua. A means to an end, not an end in itself.

Dengan puas pada feminisme pengakuan, fokus kita beralih dari apa yang sebenarnya bisa membebaskan kita semua: pekerjaan layak dengan jam kerja adil, gaji yang proporsional, kebebasan dari tekanan pertumbuhan dan penjualan  yang menyiksa, hak-hak pekerja yang diakui hukum, jaminan kesehatan berkualitas yang menyeluruh, pendidikan berkualitas yang bisa diakses semua kalangan, penghargaan finansial atas pekerjaan perawatan domestik, penyamarataan kesejahteraan, perlindungan alam, dan pemberhentian industri ekstraksi.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi terhadap kerja keras para perempuan yang sudah mencapai posisi strategis, tulisan ini bukan seruan untuk saling tuding antar perempuan. Tulisan ini adalah seruan untuk waspada, seruan untuk membedakan mana kawan mana lawan. Kawan kita bukan perusahaan-perusahaan dan institusi kapitalis yang menindas, bukan juga lingkaran oligarki yang memuluskan jalan penindasan mereka. Kawan kita adalah sesama perempuan dan sesama orang tertindas, semua yang terjebak dalam sistem ini walaupun di luar nurani. Tulisan ini ajakan untuk membelot dari sistem yang menjebak kita dalam ilusi pembuktian diri.

Jangan berhenti di sini. Tanpa keadilan untuk semua, jangan puas dengan feminisme meritokrasi.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Dianty Ningrum adalah peneliti doktoral di Monash University yang fokus pada isu krisis iklim dan ketidaksetaraan. Bisa diikuti di akun Twitter @diantyningrum.