October 22, 2020

Film ‘Cuties’, Kontroversi, dan Dilema Anak Perempuan Masa Puber

Film ‘Cuties’ di Netflix menuai kontroversi namun sebetulnya mengandung banyak pesan penting soal kehidupan remaja dan ketidakadilan gender.

by Bini Fitriani
Culture // Screen Raves
cuties netflix movie film
Share:

Film Cuties di Neflix baru-baru ini menuai kontroversi karena dianggap menggambarkan eksploitasi seksual anak perempuan. Berbagai pihak mengkritik film tersebut, yang dalam bahasa Perancis berjudul Mignonnes, terlebih karena Netflix menampilkan trailer film yang berbeda dengan materi promosi orisinal yang dipakai di Perancis. Bahkan, mereka disebut-sebut mendukung pedofilia.

Beberapa teman saya seperti kesetanan menuliskan protes kerasnya terhadap Cuties di media sosial. Ada juga teman saya yang sampai mengumumkan bahwa ia membatalkan langganan akun Netflix-nya sebagai bentuk protes. Tapi, ada juga teman yang sedang menjalani studi magister Kajian Budaya, justru “memaksa” saya untuk menonton film dan menuliskan ulasannya dengan perspektif perempuan.

Film ini berfokus pada Amy, anak keluarga imigran muslim dari Senegal yang tinggal di sebuah permukiman miskin di Paris. Ibu Amy sering mengajak dia dan adik-adiknya ke pengajian untuk belajar agama Islam.

Di sekolah, Amy bertemu dengan “The Cuties”, sebuah kelompok tari beranggotakan empat perempuan sebayanya dan kerap menyerukan kebebasan berekspresi, termasuk cara berpakaian. Hal ini seakan bertolak belakang dengan norma-norma yang Amy pelajari sebagai seorang muslim.

Pada suatu ketika, Amy tidak sengaja mengetahui mengenai rencana ayahnya menikahi istri kedua di Senegal dan membawanya ke Perancis. Menghadapi hal itu, ibu Amy tampak tidak melawan dan justru berusaha menerima keadaan. Memendam kemarahan dan kekecewaan, Amy menemukan pelariannya dengan menari tarian dewasa bersama The Cuties, dan berjuang untuk terus dapat diterima dalam pertemanan tersebut.

Baca juga: Enola Holmes, Judith Shakespeare, dan Petualangan Perempuan

Film Cuties ditulis dan disutradarai oleh Maïmouna Doucouré yang merupakan seorang perempuan keturunan Senegal yang tinggal di Paris. Melalui Cuties, ia sebenarnya ingin mengkritisi hiperseksualisasi anak perempuan di bawah umur. Proyeknya tersebut bahkan telah mendapatkan persetujuan dari Komisi Perlindungan Anak Pemerintah Perancis.

Kendati punya tujuan baik, sebagian orang dan media tetap mengecap buruk film ini dengan tudingan eksploitatif secara seksual tadi.

Merespons pandangan negatif media terhadap filmnya, Doucouré menulis di The Washington Post bahwa ia telah melakukan riset kualitatif selama satu setengah tahun untuk pembuatan Cuties. Ia mewawancarai lebih dari 100 anak perempuan berusia 10-11 tahun yang melakukan tarian dewasa, serta menanyakan hal-hal terkait pubertas dan media sosial kepada mereka. Hal tersebut dilakukannya setelah menyaksikan sendiri sekelompok anak perempuan melakukan tarian dewasa dalam sebuah acara komunitas. Singkat kata, Doucouré tidak sekadar mempertontonkan eksploitasi seksual di media, tetapi sebenarnya menggambarkan realitas yang ada di lapangan.

Media tidak menyoroti patriarki

Sejujurnya, saya pun sempat menahan napas karena merasa tidak nyaman melihat koreografi tarian Amy. Namun terlepas dari itu, saya menyadari bahwa backlash yang ditunjukkan di media-media dan materi promosi yang sempat digunakan Netflix tidak merepresentasikan substansi film yang ingin disampaikan Doucouré. Media dan berbagai pihak telah mempolitisasi dan membesar-besarkan adegan tarian dewasa berdurasi tiga menit tersebut, yang sesungguhnya merupakan akibat dari berbagai hal yang berkelindan. Mereka juga melupakan isu-isu kekerasan dalam rumah tangga yang melatarbelakangi tindakan Amy.

Baca juga: Lampaui ‘Love, Simon’: 7 Film Queer Bertema 'Coming of Age'

Saya jadi mempertanyakan reaksi teman-teman saya di media sosial, apakah mereka benar-benar sudah menonton film ini? Atau mereka gampang termakan pemberitaan jelek soal Cuties yang sesungguhnya parsial?

Karena Cuties menggambarkan tradisi dan budaya yang mengopresi perempuan Senegal yang dialami ibu Amy. Secara budaya, mereka diajarkan untuk menegasikan dirinya, pikirannya, dan perasaannya. Mereka juga dituntut untuk “menjadi perempuan seutuhnya” dengan berbesar hati menyampaikan berita mengenai pernikahan kedua suaminya dengan riang gembira kepada sanak-saudara, mendoakan suaminya itu dan turut berbahagia. Bahkan, mereka juga berpartisipasi mempersiapkan pesta pernikahan dan kamar pengantin, hingga melibatkan anak mereka memasak untuk pesta pernikahan tersebut.

Seperti dalam masyarakat konservatif lainnya, dalam masyarakat Senegal ada anggapan yang langgeng bahwa pekerjaan domestik adalah tugas perempuan. Sejak kecil, anak perempuan seperti Amy diajarkan untuk melakukan hal-hal seperti mengasuh, mendidik anak, mengurus rumah, dan memasak. Melalui kata-kata ibu Amy, saya menangkap bahwa dalam budaya mereka, lazim bila ayah menyalahkan ibu bila anak mereka berlaku tidak sesuai norma dan nilai yang dianut.

Media dan berbagai pihak telah mempolitisasi dan membesar-besarkan adegan tarian dewasa berdurasi tiga menit tersebut, yang sesungguhnya merupakan akibat dari berbagai hal yang berkelindan.

Budaya patriarkal di Senegal juga mendorong anak-anak perempuan di sana untuk dinikahkan pada masa puber, tak lama setelah mereka mengalami menstruasi pertama. Pernikahan seakan menjadi satu-satunya mimpi dan cita-cita perempuan. Adalah suatu kebanggaan di sana ketika seorang perempuan menyandang status istri seorang laki-laki dan bisa memberitakan pernikahannya kepada khalayak.

Validasi media sosial

Di samping isu ketidakadilan gender, saya juga melihat dengan jelas isu budaya internet dalam film Cuties. Amy, yang sedang menjalani masa pubertas mengalami perubahan hormon serta bentuk fisik dan psikologis, menelan mentah-mentah gagasan mengenai popularitas dan pemaknaan diri yang dikaitkan dengan jumlah likes pada akun media sosial. Melalui media sosial, ia mencari validasi, jati diri, dan eksistensi.

Walaupun masih berusia 11 tahun dan sepertinya tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya, Amy sejatinya juga merupakan individu yang memiliki keinginan untuk mengekspresikan dan mengekplorasi diri serta tubuhnya. Mungkin, bagi Amy dan The Cuties, tarian mereka hanya sebagai bentuk ekspresi dan eksplorasinya sebagai ABG. Mungkin mereka tidak menyadari dan memahami bahwa tarian tersebut tergolong erotis dan mereka rentan untuk diseksualisasi orang yang menontonnya.

Mungkin mereka hanya anak-anak yang pandai meniru. Ini digambarkan melalui adegan ketika Amy sedang mengajarkan gerakan tarian yang berhasil dikuasainya kepada teman-temannya. Mereka lantas belajar dengan giat dan tidak serta-merta berhasil terlihat seksi.

Baca juga: Ganti Nama Pendidikan Seks Jadi Pendidikan Kesehatan Remaja

Sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan, saya merasa berada pada posisi yang sangat dilematis setelah menonton film ini. Apakah Amy yang masih tergolong anak tidak pantas untuk mengekspresikan diri dan mengekplorasi tubuhnya?

Jika jawabannya adalah tidak pantas, bukankah berarti saya juga ikut menafikan subjektivitas, eksistensi, dan agensinya sebagai anak untuk mengekspresikan diri? Atau haruskah saya tetap mendukung Amy dan teman-temannya yang menginginkan kebebasan berekspresi, sementara saya sadar ada risiko seksualisasi terhadap mereka?

Jika jawabannya adalah tidak mendukung, apakah artinya saya termasuk ke dalam pihak yang juga telah mengobjektifikasi mereka, yang semata-mata melihat tubuh perempuan hanya objek seksual belaka, tanpa benar-benar melihat kemampuan mereka menari atau meniru tarian?

Sebagai ibu, haruskah saya membatasi materi yang dapat diakses anak perempuan saya untuk menghindarkannya melakukan apa yang dilakukan Amy? Jika jawabannya adalah harus membatasi, apakah artinya saya telah melakukan kontrol sosial terhadap anak perempuan saya seperti yang dilakukan orang-orang dalam budaya patriarkal terhadap perempuan?

Di tengah pertanyaan-pertanyaan ini, saya tetap melihat Cuties sebagai film yang sarat emosi dan kenyataan, memaksa saya untuk membuka mata lebar-lebar dan membuka ruang untuk berdialog dan berdiskusi mengenai apa yang dialami dan dilakukan anak perempuan seperti Amy.

Film ini juga membuat saya berefleksi terhadap pengalaman yang pernah saya rasakan dan membantu saya untuk melihat melampaui gagasan yang telah lama tertanam dalam diri. Saya teringat bagaimana sulitnya mengalami masa puber dulu dengan berbagai konflik menyakitkan dalam keluarga, berjuang melalui tekanan untuk diterima dalam peer-group, menemukan jati diri dalam persahabatan yang manis dan pahit, dalam kesedihan, kemarahan dan kekecewaan di kehidupan.

Bini Fitriani adalah seorang ibu dua anak, desainer interior yang sedang melanjutkan studi S2 Kajian Gender di UI, baru saja meluncurkan debut buku memoar perjalanan yang berjudul "A Dream of Me and You" yang dipublikasikan sendiri.