Women Lead
August 24, 2021

5 Rekomendasi Film Gay Hollywood Terbaik untuk Akhir Pekan

Hollywood memang masih sering problematis dalam menampilkan pasangan gay dalam film, tetapi tidak semua filmnya memberikan narasi dan gambaran yang buruk.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
Film Gay Hollywood tentang Koboi
Share:

Dua dekade terakhir film dengan pasangan gay semakin marak di Hollywood, salah satunya ditandai dengan film remaja Love, Simon (2018) yang diadopsi dari novel Simon and The Homosapiens Agenda. Saking tenarnya, film tersebut dibuat sekuelnya tentang karakter berbeda dalam bentuk series Love, Victor (2020). Film tentang komunitas LGBT, khususnya gay, tidak muncul secara tiba-tiba belakangan ini, secara historis jejak film LGBT bisa dilacak sejak masa silent film

Dilansir dari media Stacker, film tentang komunitas LGBT dimulai dengan The Gay Brothers pada 1894 tentang dua orang laki-laki yang menari bersama. Setelahnya, sinema queer kemudian terus bertumbuh meskipun tidak terang-terangan menyatakan dirinya gay, salah satu yang paling berani ialah film dengan karakter lesbian Pandora’s Box pada 1929. 

Film dengan narasi LGBT kemudian tumbuh dan semakin marak sejak 1980-an hingga 2010-an dengan cerita yang beragam dan ada juga yang secara tersirat adalah film gay, misalnya  My Own Private Idaho (1991), Maurice (1987) yang dibintangi Hugh Grant, dan komedi dari kisah nyata I Love You Phillip Morris (2009).

Meskipun begitu, tidak berarti film komunitas LGBT khususnya dari Hollywood bebas dari masalah. Mengutip dari penelitian The Changing Face of Gay Representation in Hollywood Films from The 1990s Onwards dari Auckland University of Technology, sejarawan Vito Russo mencatat representasi komunitas LGBT di sinema sebagai problematis. Hal itu dikarenakan karakternya yang dicitrakan satu dimensi kemudian dialienasi dari narasi heteroseksual dalam film. 

Russo juga mencatat karakter gay umumnya digambarkan dari cara berperilaku yang stereotipikal gay, karakter yang mengenakan atribut untuk menyatakan diri sebagai bagian dari komunitas, dan selalu mengalami kisah tragis atau kematian. Seiring berjalannya waktu hingga memasuki masa new queer cinema masa kini, representasi dan kisahnya pun mulai beragam, meskipun tidak lepas dari kisah tragis yang membawa trauma.

Artikel ilmiah Queer History Through a Hollywood Lens oleh Long Tran dari University of Washington juga menyampaikan kritik atas representasi komunitas LGBT di layar kaca. Tran menuliskan representasi menjadi penting karena karakter, terutama yang diangkat dari kisah inspiratif, dapat dijadikan panutan untuk komunitas. Namun, jika menginginkan perubahan secara nyata dan global, maka harus ada perubahan dalam sistem, termasuk di Hollywood yang lebih inklusif. Selain itu, tidak hanya membebankan natasi queer yang beragam dalam film-film indie. 

“Harapannya, dengan melihat karakter queer yang serupa dengan mereka, orang orang akan terinspirasi untuk memberdayakan diri mereka dan membuat suara mereka terdengar dan berani untuk coming out,” tulisnya. 

Hollywood memang masih belum seratus persen mendukung komunitas LGBT. Meskipun begitu ada beberapa filmnya yang patut untuk ditengok dengan keberagaman jalan ceritanya tentang identitas, persahabatan, dan keluarga, sebagai berikut:

Film Gay Hollywood tentang Pernikahan, ‘The Wedding Banquet’ (1993)

The Wedding Banquet bercerita tentang tentang terbentuknya dinamika ‘keluarga’ antara pasangan gay dan seorang seniman perempuan asal Cina yang butuh green card. Layaknya orang Asia yang menginjak akhir usia 20-an pada umumnya, Wai-Tung Gao sudah diminta oleh orang tuanya untuk menikah. Namun, ia belum memberitahu mereka, dia menjalin relasi dengan laki-laki kulit putih bernama Simon. 

Baca juga: Lampaui ‘Love, Simon’: 7 Film Queer Bertema ‘Coming of Age’

Situasi darurat itu mengantar keduanya untuk mendekati Wei-Wei si seniman miskin untuk menjadi beard atau pasangan palsu Wai-Tung Gao. Namun rencana mereka tidak berjalan mulus karena pada akhirnya ada ‘skandal’ yang membuat Wei-Wei mengandung anak Wai-Tung Gao.

Secara singkat, film yang disutradarai Ang Lee ini mengandung unsur komedi dengan plot yang membuat situasi semakin sulit untuk ketiga pemeran utama. Namun, mengandung pesan tentang penerimaan identitas, seksualitas, dan kompromi untuk membangun keluarga dalam situasi yang rumit.

Film Gay Hollywood tentang Koboi, ‘Brokeback Mountain’ (2005)

Kembali disutradarai Ang Lee, Brokeback Mountain bercerita tentang kisah tragis antara dua orang koboi gay, Ennis del Mar yang diperankan mendiang Heath Ledger dan Jack Twist oleh Jake Gyllenhaal. Kisah keduanya dimulai saat mereka menggembala domba di Gunung Brokeback saat mereka berusia 19 tahun di Wyoming yang sangat homofobik pada 1963. 

Ennis yang selama ini menyembunyikan dan ‘menolak’ identitasnya sebagai laki-laki gay bertemu dengan Jack yang terbuka dengan perasaannya kepada Ennis. Jack ingin agar mereka hidup berdua, tetapi Ennis memiliki trauma dan ketakutan atas persekusi kepada komunitas gay. Karenanya, Ennis dan Jack berpisah kemudian menikah dan memiliki anak masing-masing. Meskipun begitu, mereka tetap kembali ‘bersama’ dengan sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. 

Kritikus film menilai Brokeback Mountain sebagai film yang mengarusutamakan cerita komunitas LGBT di Hollywood. Selain itu, Ledger dan Gyllenhaal menerima anggukan dari industri perfilman dengan penampilan mereka dalam film tersebut. Brokeback Mountain sejatinya tidak hanya cerita cinta yang tragis atau gambaran nyata hidup laki-laki gay yang ‘bersembunyi’, tapi juga mematahkan stereotip terkait maskulinitas laki-laki gay.  

Film yang Diangkat dari Kisah Nyata, ‘Milk’ (2008)

Film gay hollywood ini diangkat dari kisah nyata tentang kehidupan Harvey Milk (Sean Penn), politikus AS pertama yang terbuka sebagai laki-laki gay, menduduki kursi di San Francisco Board of Supervisors pada 1977. Disutradarai oleh Gus Van Sant film ini menceritakan kilas balik saat Milk menginjak usia 40 tahun dan ingin terjun ke dunia politik di awal 1970-an. 

Baca juga: 5 Drakor BL Wajib Tonton di Waktu Senggang

Perjalanannya sampai akhirnya mendapatkan kursi di ruang politik tidak selalu mulus, kekasihnya Scott Smith (James Franco) meninggalkannya karena mengarahkan gerakan aktivisme mereka ke ranah politik. Ada juga Jack Lira, kekasihnya yang tidak terlalu menyukai ambisi itu memutuskan untuk mengambil langkah ekstrim dengan gantung diri.

Film berakhir dengan perseteruan antara Milk dengan sesama politikus Dan White yang konservatif. Dari sudut pandang politik dan sosial keduanya jauh berseberangan, maka dari itu Milk dan White memiliki hubungan yang kurang bagus. Puncaknya ketika White merasa dikhianati oleh Milk karena ia tidak ingin membantunya dalam kampanyenya menolak pendirian rumah sakit jiwa. Konflik tersebut dibarengi dengan berbagai masalah lain yang menghantam White kemudian berujung dengan White membunuh Milk.  

Film Bertema Keluarga, ‘Moonlight’ (2016)

Moonlight memang bisa disebut sebagai film gay hollywood dibalut dengan tema identitas, seksualitas, dan keluarga yang paling menyentuh karena menawarkan emosi mentah dari perjalanan hidup pemeran utamanya, Chiron, hingga lewat sinematograpiya. Maka dari itu, tidak heran jika Moonlight memenangkan piala Oscar untuk kategori Best Picture pada Academy Awards 2017. Tidak hanya itu, Moonlight juga memegang peran penting sebagai film gay tentang komunitas orang Afrika-Amerika yang kurang eweesentasi. 

Baca juga: 10 Film dan Serial TV Bertema LGBT yang Wajib Ditonton 

Moonlight menawarkan ceritanya dalam tiga tahap kehidupan Chiron. Masa kecilnya dipenuhi dengan perundungan dari teman-teman sebayanya karena ia ‘berjalan dengan aneh’ dan sering diejek menggunakan slurs atau kata yang merendahkan komunitas LGBT. Chiron kecil yang diperankan Alex Hibbert kemudian bertemu dengan Juan (Mahershala Ali) yang menjadi semacam panutan dalam hidupnya. 

Tahap kedua, yaitu masa remajanya Chiron yang kali ini diperankan oleh Ashton Sanders, menjalin hubungan dengan sahabatnya Kevin. Namun, masa remajanya tidak jauh berbeda dengan masa kecilnya yang penuh perundungan bahkan jauh lebih keras. Masa remajanya ini ditandai dengan satu kasus yang membuat Chiron harus masuk ke ‘penjara’ khusus anak di bawah umur. 

Saat memasuki usia dewasa Chiron, diperankan Trevante Rhodes, mengganti namanya sebagai Black. Masa dewasa yang ditunjukkan dalam film menjadi krusial karena secara bersamaan menampilkan Chiron yang ‘dikeraskan’ oleh lingkungannya’ sekaligus sosok yang belum sembuh dari trauma masa kecil. 

Film Gay Bertema Remaja, ‘Alex Strangelove’ (2018)

Rilis tidak berjauhan dengan film gay hollywood ini bertema coming of age Love, Simon, film ini juga bercerita tentang seorang remaja yang mempelajari lebih lanjut tentang identitasnya. Topik tentang mencari identitas memang cocok untuk film remaja, contoh lain adalah The Half of It yang mengisahkan tentang anak perempuan lesbian yang menyukai gebetan sahabat laki-lakinya. 

Alex Truelove (Daniel Doheny) adalah remaja yang bingung tentang orientasi seksualnya. Di saat bersamaan dia menjalin hubungan dengan sahabatnya Claire (Madeline Weinstein), tetapi juga menyukai Elliot (Antonio Marziale) yang terbuka dengan identitasnya. Secara singkat Alex Strangelove tampak seperti film remaja picisan pada umumnya, tetapi memegang pesan sahabat yang tepat akan terus mendukung kita tanpa mempedulikan orientasi seksual. Selain itu, tentang pentingnya menjadi diri sendiri dan tidak menggubris anggapan orang lain. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.