September, 14 2016
Hukuman Fisik untuk Masa Depan Anak yang Lebih Baik?

Mempersiapkan masa depan anak tidak harus dilakukan melalui pendidikan keras yang mengedepankan hukuman fisik.

by Feri Sahputra
Issues // Politics and Society
Share:
Sebagian dari kita menganggap bahwa hukuman fisik adalah bagian dari pendidikan dan wajar untuk diterapkan sebagai konsekuensi dari kesalahan yang dilakukan anak. Hukuman fisik ini diberikan agar anak bisa disiplin, memiliki mental yang kuat, dan tidak gampang menyerah.

Pendapat yang sama juga diyakini oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang baru, Bapak Muhadjir Effendy. Menurut beliau, pendidikan yang keras bisa membentuk pribadi anak yang tangguh, bermental kuat, dan tidak gampang menyerah.

Tapi apakah hanya pukulan, cubitan, dan tamparan yang bisa membuat anak-anak menjadi pribadi yang tangguh dan bermental kuat? Pendidikan seharusnya menawarkan sesuatu yang lebih bermartabat dari itu.

Hukuman fisik tidak relevan

Masih banyak guru yang mempercayai bahwa hukuman fisik bisa mengontrol dan mendorong anak untuk menghormati mereka. Padahal kepatuhan itu hanya bersifat sementara, bukan bersifat jangka panjang. Hal itu terjadi karena kepatuhan itu tidak terinternalisasi dalam pikiran anak. Kepatuhan itu muncul karena rasa takut dan usaha untuk menghindari hukuman fisik. Rasa hormat yang didapat oleh guru tidak berasal dari pemahaman bahwa guru memang sosok yang pantas dihormati. Akibatnya anak tidak terbiasa untuk menghormati orang lain yang secara sosial kedudukannya setara atau lebih rendah. Misalnya teman sebaya, adik kelas, dan orang yang  memiliki latar belakang dan status sosial yang berbeda.



Elizabeth Gershoff dalam tulisannya berjudul More Harm Than Good: A Summary Of Scientific Research On The Intended And Unintended Effects Of Corporal Punishment On Children melakukan analisis terhadap 15 penelitian terkait hukuman untuk anak. Tiga belas dari penelitian tersebut menyatakan bahwa hukuman fisik tidak membuat anak hormat dan patuh kepada guru atau orang tua untuk jangka waktu yang panjang, malah cenderung membuat perilaku anak lebih buruk.

Hukuman fisik yang dilakukan guru untuk mendisiplinkan anak bisa membuat anak memiliki perilaku antisosial, yang akan berkontribusi pada buruknya prestasi akademik di sekolah. Kondisi ini akan membuat anak tidak percaya diri dan memunculkan perasaan depresi yang pada akhirnya mendorong mereka untuk melakukan tindakan kriminal. Dilihat dari dampak yang ditimbulkan, jelas bahwa hukuman fisik bukan salah satu faktor yang membuat anak memiliki mental yang kuat dan  disiplin (Donnelly and Straus, 2005).

Melangkah ke belakang

Orang dewasa kerap memberi label anak masa sekarang sebagai generasi yang manja dan cengeng karena tidak terbiasa lagi menerima hukuman fisik. Beberapa orang menganggap bahwa hukuman fisik masih relevan untuk diterapkan kepada anak-anak saat ini. Jika melihat sejarah pembaruan pendidikan di sekolah, pemikiran ini jelas menunjukan sebuah kemunduran.

Kampanye untuk menghentikan penggunaan hukuman fisik di institusi pendidikan sudah mulai dilakukan pada abad 19 oleh seorang pembaru pendidikan bernama Horace Mann. Di masa itu, Bapak Pendidikan Amerika ini menganggap bahwa hukuman fisik membuat anak tidak menikmati proses belajar di sekolah. Ilmu pengetahuan dan berbagai penelitian pada tahun-tahun berikutnya memperkuat pernyataan Horace Mann, termasuk metaanalisis yang dilakukan oleh Andrew Grogan-Kaylor dan Elizabeth Gershoff terhadap 75 penelitian yang melibatkan 161.000 anak.

Selain itu, membandingkan hukuman fisik dan kekerasan yang didapat oleh orang dewasa ketika sekolah dulu dengan apa yang dirasakan anak sekarang tidak ada gunanya karena tantangan yang dihadapi anak sekarang berbeda dan jauh lebih dilematis.

Globalisasi membawa banyak kemudahan sekaligus ancaman. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat membuat anak lebih rentan mengalami kekerasan. Jika 20 tahun lalu kejahatan dunia maya belum begitu dikenal, namun saat ini anak menjadi kelompok umur yang paling rentan untuk menjadi korban kejahatan jenis ini.

Selanjutnya apa?

Mempersiapkan masa depan anak tidak harus dilakukan melalui pendidikan keras yang mengedepankan hukuman fisik. Kedisiplinan dan mental yang kuat bisa dibangun dari berbagai kegiatan positif seperti olahraga dan kegiatan sosial yang melatih kepekaan dan toleransi. Untuk itu, kurikulum yang disusun oleh pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada pengembangan kognitif anak saja, tapi juga memberi porsi untuk perkembangan mental dan emosional anak.

Sekolah seharusya menjadi tempat munculnya ide baru, ide yang bisa membuat masyarakat berkembang ke arah yang lebih baik. Sekolah harus menjadi tempat untuk mengevaluasi hal-hal yang tidak tepat, belajar berpikir kritis, serta mengembangkan keterampilan yang bisa membantu untuk kemajuan bangsa.

Itu sebabnya mengapa kita memiliki harapan yang tinggi pada sekolah untuk melahirkan generasi penerus yang lebih baik dari pendahulunya. Dengan perangkat aturan yang sudah ada dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, ini saat yang tepat untuk memberikan perlindungan anak di segala aspek hidup mereka, termasuk ketika mereka berada di sekolah.

Feri Sahputra adalah peneliti hukum yang gemar memasak dan fotografi. Diam-diam menikmati dangdut koplo hampir setiap hari.

Ilustrasi oleh Artbyheather.