November 01, 2019
Ibu Sudah Melawan

“Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku tahu Ibu sudah melawan.”

by Rijensa Akbar
Culture // Prose & Poem
Share:

Hari ini, hari pertama aku ujian masuk SMP. Ibu tak buatkan sarapan, memang dia tak pernah membuat sarapan. Aku lebih suka sarapan di sekolah. Ibu harus berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja, takut upahnya dipotong, katanya.

Sebagai seorang ibu, dia berbeda dengan ibu-ibu yang ada di sinetron kesukaannya yang tayang saat aku belajar. Ibu tak pernah belanja baju atau memasak makan malam. Ibu selalu bekerja. Ibu berangkat pagi dan pulang ketika hampir magrib. Setiap kutanya kenapa, dia menjawab sama, takut upahnya dipotong.

Keluargaku sendiri juga bukan tipikal keluarga dalam buku pelajaran sekolah. Bapak tak pernah membaca koran, meskipun dia tetap minum kopi. Ibu tak pernah memasak, dia selalu beli di pedagang makanan dekat rumah kami. Masakannya lebih enak daripada masakan Ibu, karena Ibu tak pernah memasak. Mungkin jika aku tanya mengapa dia tak memasak, dia akan menjawab, takut upahnya dipotong. Selain itu, aku tak punya kakak perempuan yang rajin. Yang ada adik kecil yang selalu diasuh tetangga jika ibu bekerja.

Aku jadi ingat dulu saat aku masih diasuh tetangga, aku menangis waktu pulang ke rumah karena diganggu anak tetangga yang nakal sekali. Ibu sering memarahiku karena khawatir. Hingga suatu hari dia bilang bahwa aku tidak boleh jadi penakut. Dia menyuruhku melawan jika diganggu. Aku tidak boleh menangis dan takut. Beberapa hari kemudian, aku pulang tidak menangis lagi, hanya takut dan sedikit lebam. Temanku menangis karena berkelahi denganku, wajahnya aku pukul saat dia menggangguku. Ibu tak pernah lagi khawatir apalagi memarahiku.

Baca juga: Puan Pulang Petang

Tetapi hari ini ada yang berbeda dengan ibu. Ibu terlihat sibuk sekali pagi ini dan dia belum berangkat bekerja. Selain itu, dia seperti tidak berniat bekerja, karena tak pakai seragam. Ibu hanya mengenakan kaos berwarna merah dan celana panjang. Apa upah Ibu untuk bulan ini sudah habis dipotong? Ah tidak mungkin. Ibu selalu takut upahnya dipotong. Jadi tidak mungkin upahnya habis dipotong. Apa dia sudah tak takut upahnya dipotong? Aku tak mau banyak bertanya. Aku harus berangkat ujian.

Saat siang, ujian selesai, aku langsung pulang. Entah kenapa, jalanan macet sekali. Aku baru tiba di rumah jam 4 sore. Saat itu Bapak sedang minum kopi dan adikku masih bermain di jalan depan rumah. Bapak bilang dia sudah membeli makanan. Aku makan tanpa menunggu Ibu karena sejak pagi aku belum makan, hanya jajan.

Hari ini benar-benar berbeda, sinetron kesukaan Ibu sudah mulai tapi Ibu belum juga pulang. Biasanya jam segini Ibu sudah pulang dan mengurus adik. Anehnya, Bapak lebih bingung mengurus adik, tapi tak bingung Ibu tidak pulang. Bapak bilang mungkin jalan masih macet, jadi Ibu terlambat pulang. Aku pun tidak terlalu peduli, sedikit khawatir, meskipun tak jarang Ibu pulang malam karena pekerjaannya belum selesai. Lagi pula aku harus belajar, besok ujian hari terakhir.

Baca juga: Betina Paling Jalang Di Dunia

Sinetron kesukaan Ibu sudah habis, Bapak melihat berita. Sayup-sayup kudengar dari berita, ada demo buruh tadi siang, pantas saja jalanan macet.

Sial, aku tertidur, sekarang jam dua malam. Ada suara beberapa orang di depan, bukan orang yang ronda. Di rumahku tak ada orang ronda, mungkin warga berpikir tak ada yang bisa dicuri dari rumah-rumah di sini. Ada suara Bapak, Ibu, dan orang yang aku tak kenal. Mereka tak jelas berbicara apa.

Aku keluar kamar, ingin ke kamar mandi sekaligus penasaran. Ternyata Ibu sudah pulang. Sepertinya baru pulang, dia belum berganti baju. Temannya berdiri di dekat pintu masuk, di kepalanya terlilit bandana berwarna merah. Bapak di sebelah Ibu.

Wajah Ibu lebam, tangannya luka seperti tergores sesuatu, tapi Ibu tak menangis, meski sedikit takut. Wajahnya tidak seperti saat pertama kali aku diganggu anak tetangga yang nakal, tapi lebih mirip saat aku membuat anak tetangga yang nakal menangis. Aku jadi tak bisa marah dan tentu saja tak bisa khawatir.

Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku tahu Ibu sudah melawan.

Rijensa Akbar adalah pengangguran yang suka menulis