July 26, 2019
Indonesia Pernah Punya Band-band Perempuan Cadas

Grup musik perempuan pernah berjaya sampai era 1980an.

by Nikita Devi
Culture
Share:

“Kami disebut gadis hostess

Jangan melotot, tidak pantas

Menghibur tamu, banyak tugas

Cumbu dan rayu, ada batas”

The Beach Girls – “Gadis Hostess”

Indonesia memiliki sejarah grup musik perempuan yang terbatas tapi membekas. Era kejayaannya adalah pada tahun 1960-1970an, dengan nama-nama seperti The Beach Girls, The Singers, Pretty Sisters, dan yang paling legendaris adalah Dara Puspita. Band-band ini istimewa bukan hanya karena musikalitasnya yang tinggi, tapi mereka juga membukakan jalan bagi perempuan-perempuan yang ingin berkarier di dunia musik yang didominasi laki-laki.

Namun, era 1980an sangat sepi dari grup musik perempuan karena kecenderungan industri musik mendikte perempuan untuk menjadi solois atau grup vokal, bukan band dengan para anggota yang memainkan alat musik sendiri, selain sang vokalis.

Barulah pada tahun 1990an, band-band perempuan mulai muncul kembali. Namun tidak hanya jumlahnya yang menurun, band-band perempuan yang berkiprah di era ini juga tidak berusia panjang. Walaupun begitu, grup-grup musik perempuan tanah air tetap berusaha mempertahankan dan memperjuangkan eksistensinya hingga kini. Sekarang tidak sedikit band perempuan memilih untuk berkarier di jalur independen.

Untuk menggali lebih dalam tentang awal mula sejarah band perempuan Indonesia, berikut kilas baliknya. 

Periode 1960-1990an

Dara Puspita kerap disebut-sebut sebagai band perempuan Indonesia paling sukses di tahun 1960-an. Ketika grup vokal perempuan mulai naik daun dan digemari, Dara Puspita datang dari Surabaya dengan format grup yang memainkan alat musiknya sendiri. Beranggotakan Titiek Adji Rachman, Lies Soetisnowati Adji Rachman, Susy Nander, dan Titik Hamzah, grup ini memainkan lagu-lagu serta melakukan berbagai aksi panggung yang terinspirasi dari The Beatles dan Rolling Stones, band-band yang dilarang pemerintahan Soekarno yang anti-Imperialisme Barat dan musik “ngak ngik ngok”.

Seperti Koes Bersaudara, Dara Puspita sempat mengalami sejumlah pemberangusan. Kedua band ini sempat dibekuk polisi dalam suatu pesta karena memainkan lagu The Beatles, dan digelandang ke Kejaksaan. Dara Puspita diwajibkan melapor polisi selama satu bulan, ditambah dengan interogasi berulang dengan pertanyaan yang mengada-ada. Namun, apa hal ini menghentikan mereka dari berkarier? Tentu tidak.

Grup musik perempuan ini tetap berkarya dengan gaya dan musik yang mereka suka. Mereka tidak segan menyelipkan lagu The Beatles di panggung Kepolisian dengan mengatakan bahwa lagu yang mereka bawakan adalah lagu band dari Liverpool. Kegigihan mereka juga-lah yang melambungkan nama Flower Girls, sebutan untuk Dara Puspita di kancah musik Eropa.

Baca juga: 90s All Female Indie Band to Hold Reunion

Larangan-larangan yang berlaku pada masa itu tidak menghentikan Dara Puspita, pun menyurutkan semangat band perempuan lain. Bahkan di tahun 1975 sempat diadakan Festival Band Wanita Se-Indonesia yang melibatkan banyak sekali grup musik perempuan dari berbagai daerah. Beberapa nama yang sempat terlibat dalam festival ini adalah Pretty Sisters, Aria Yunior, dan One Dee and Lady Face’s yang meraih posisi juara pertama sampai ketiga.

Sebuah liputan menyeluruh dari penulis Remy Silado mengenai festival ini mengisahkan aksi-aksi panggung yang edan pula. Sebut saja Euis Darliah bersama band Antique Clique dengan “goyangan tegas” yang sensual dan aksi angkat mikrofon yang heboh mirip Mick Jagger.

Di luar nama-nama tersebut, The Beach Girls, The Singers, dan band-band perempuan lain pun bermunculan mewarnai sejarah industri musik Indonesia dengan karya-karyanya. Namun karier para musisi perempuan ini kerap berakhir ketika berkeluarga, hal yang disinyalir tetap berlaku sampai saat ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan band perempuan kian menyusut hingga akhirnya tidak terdeteksi lagi memasuki 1980an. Keberadaan mereka digantikan oleh membludaknya grup vokal dan solois perempuan yang menjamur dan menguasai pasar.

Menurut pengamat musik Teguh Wicaksono, tren musik pada tahun-tahun ini memang mengalami perubahan.

“Pada masa itu, terjadi branding maskulin terhadap genre musik rock dan feminin pada genre musik pop. Jika disandingkan, maka akan tampak kontras antara karakter rocker-diva di antara musisi laki-laki pada perempuan,” ujarnya kepada Magdalene lewat telepon.

Periode 1990-2006

Menginjak tahun 1990-an, barulah band perempuan kembali bermunculan di ranah musik Indonesia. Beberapa nama yang muncul mungkin juga luput dari ingatan banyak pencinta musik Indonesia karena kemunculannya yang sebentar, salah satu di antaranya adalah Traxap Loonatic yang diproduseri Bimbim Slank. Beranggotakan Putri, Regina, Atik, Anissa, dan Tathe ini sempat hit di MTV Indonesia lewat lagu mereka “Buaya Darat”. Karena musik yang catchy dan lirik memberontak dan mengajak perempuan mandiri, tidak sedikit yang berharap band ini akan bertahan, tapi nyatanya Berisik menjadi album pertama dan terakhir mereka.

Tidak lama setelah Traxap, Wondergel muncul sebagai band perempuan pertama yang melakukan rekaman di skena musik indie Jakarta. Band dengan nama yang terinspirasi dari sebuah iklan pembalut ini juga memiliki pengalaman yang spesifik sebagai band perempuan.

Baca juga: 6 Band Perempuan Indonesia Milenial yang Wajib Masuk Playlist

Ketika tampil di skena musik metal, tidak jarang mereka mendapat pelecehan mulai dari yang bersifat sorakan hingga dilempari celana dalam kotor di atas panggung. Mereka memiliki dua pilihan kala itu, ujar Meita Kasim, gitaris Wondergel, yaitu menangis dan pulang, atau tetap ada di atas panggung dan bermain musik. Mereka memilih untuk bermain dan rupanya pilihan itu juga menghentikan serangan-serangan terhadap mereka.

Cukup banyak band perempuan yang berseliweran di era 1990an hingga 2000an awal, seperti Geger, Boys Are Toys, SHE, dan masih banyak lagi. Sayangnya, usia grup-grup ini juga tidak bertahan lama. Pada tahun-tahun setelahnya, grup musik perempuan menjadi fenomena langka bagi industri musik Indonesia, padahal dari beberapa cerita yang didapat, sepertinya peminatnya juga tidak sedikit.

Teguh mengatakan hal ini disebabkan oleh kontras yang dibangun oleh industri musik dalam branding musisi perempuan sebagai bintang pop dan laki-laki sebagai rocker.

“Hal ini kemudian membuat perempuan yang memainkan alat musik di dalam sebuah band terlihat aneh,” ujarnya.

Namun “keanehan” ini kemudian menjadi daya tarik pasar tersendiri dan memunculkan citra tomboi bagi musisi perempuan dalam band, seperti Prinzes Amanda (pemain bass Kotak), Sita (pemain bass Base Jam), dan Dodo (D’Cinnamons).

Di saat yang bersamaan, mereka juga biasanya ditampilkan sebagai “pemanis” walaupun memiliki keterampilan yang tidak kalah dari musisi laki-laki. Hal ini tampak dari berbagai artikel yang membicarakan anggota band perempuan dengan fokus pada penampilan mereka daripada musikalitas mereka. Sayangnya, hal ini tidak juga menunjukkan perubahan yang berarti hingga kini.

2007 - Sekarang

Musisi perempuan terus berkiprah walau menghadapi tantangan yang tidak ada habisnya. Mereka muncul, berkarya untuk beberapa waktu, walau kerap menghilang pada akhirnya. Dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada, musisi perempuan pun mampu lebih agresif berkarya sebagai band. Banyak dari mereka yang kini memilih jalur independen untuk bermusik sebagai cara mempertahankan idealisme dan bertahan dari gerusan industri.

Sejumlah nama telah membuktikan bahwa tantangan bagi musisi perempuan mungkin tidak akan pernah ada habisnya, tapi perempuan yang mau menjajal dan bertahan di dalam industri ini juga tidak ada habisnya. Telusuri para musisi perempuan Indonesia masa kini di Indonesia di di sini.