August 09, 2019
Menghadiri Diskusi Tentang Poligami dan Inilah yang Saya Pelajari

Reporter Magdalene menghadiri diskusi mengenai manfaat dari poligami dan menemukan beberapa hal yang membuatnya terkejut sekaligus mual.

by Ayunda Nurvitasari
Issues // Politics and Society
Share:

Ketika saya menginjakkan kaki di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, saya berniat untuk memahami argumen utama orang-orang yang mendukung praktik poligami, atau lebih tepatnya poligini (karena Islam tidak mengizinkan praktik poliandri).

Saya bukan pendukung poligami, tetapi acara bertajuk “Satu Atap, Dua Cinta” itu terlalu menarik untuk dilewatkan. Ditambah lagi ada penugasan dari editor saya, jadi pergilah saya ke acara tersebut, memakai jilbab krem yang khusus saya pakai agar bisa berbaur.

Sesampainya di sana, sekitar 200 orang baru saja selesai salat zuhur. Hadirin terdiri dari perempuan dan laki-laki, dipisahkan oleh sebuah partisi. Sebagian besar perempuan mengenakan berbagai bentuk jilbab panjang, beberapa wajah ditutup niqab hitam. Saya duduk di antara perempuan-perempuan lainnya.

“Ketika kami pertama kali memulai diskusi mengenai topik yang kontroversial ini, kami menghadapi berbagai tantangan – dan bahkan ancaman. Alhamdulillah, kita semua akhirnya bisa duduk di sini untuk membahas tema kita yang bertajuk ‘Satu Atap, Dua Cinta’,” ujar sang moderator, Ustaz Bendri Jaisyurrahman.

Bendri adalah penggagas diskusi publik “FOR US: Forum Usroh”, sebuah forum publik yang membedah masalah-masalah keluarga sesuai perspektif Islam. Poligami adalah topik ke-9 yang dibahas, setelah pembahasan isu-isu lain seperti perselingkuhan hingga kehidupan orang tua tunggal.

“Saya sebenarnya tidak poligami; saya punya seorang istri, yang hari ini juga hadir bersama anak-anak saya,” ujarnya.

“Secara pribadi, saya percaya bahwa menjaga keharmonisan dalam keluarga merupakan prioritas terpenting. Namun, kita tahu, semua laki-laki akan melakukan poligami setidaknya di akhirat nanti.”

Saya mulai melirik ke sekeliling saya untuk melihat apakah perempuan lain sama terkejutnya dengan saya ketika mendengar komentar terakhirnya, tetapi para hadirin tidak tampak terganggu dengan pernyataan tersebut. Bendri kemudian memperkenalkan sang pembicara, Erika Suryani Dewi, Lc. M.A., seorang ulama dan dosen di Universitas Al-Hikmah Jakarta.

“Tidak seperti saya, ia lebih bersemangat dalam menganjurkan hubungan poligami. Menarik bukan? Ia adalah istri pertama dari suaminya. Bahkan, ia yang pertama mengusulkan gagasan itu pada suaminya dan kemudian mulai mencarikan istri kedua baginya,” ujar Bendri.

Tanpa basa-basi, Erika langsung menyatakan bahwa banyak pasangan poligami yang datang kepadanya untuk berkonsultasi tentang masalah dalam pernikahan poligami mereka.

“Saya perlu mengingatkan bahwa penting bagi kita untuk mempelajari konsep syariat terlebih dahulu, sehingga kita dapat mempraktikkan poligami dengan benar,” katanya.

Pertama-tama, ujar Erika, ada dua tujuan utama dari pernikahan: untuk memenuhi kebutuhan biologis dengan cara halal (sah dalam ajaran Islam) dan untuk memiliki keturunan.

“Dalam mengejar ini, ada laki-laki yang merasa cukup dengan satu istri dan ada juga laki-laki yang merasa tidak puas hanya dengan satu istri,” katanya.

Menurutnya, perempuan mendapatkan perlakuan yang sangat buruk pada masa pra-Islam. Bayi perempuan sering kali dibuang karena dianggap sebagai beban, dan laki-laki biasanya memiliki setidaknya 10 istri. Nabi Muhammad berusaha untuk mencapai sebuah kompromi dalam aspek budaya, yang memungkinkan laki-laki untuk memiliki lebih dari satu istri, namun tidak lebih dari empat.

“Jika laki-laki pada masa itu memiliki hingga 10 istri, tentunya hal itu berarti bahwa satu istri tidak akan cukup,” kata Erika.

Baca juga: Melihat Qanun Poligami dan Aturan Terkait Lainnya Lebih Dekat

Ia sendiri, katanya, selalu menginginkan pernikahan poligami, bahkan sejak ia masih muda.

“Sejak remaja, saya sudah ingin menikah secara poligami. Saya memang menginginkan banyak anak. Sayangnya, kemampuan bereproduksi kebanyakan perempuan memiliki keterbatasan,” tambahnya.

Ia kemudian mengingatkan hadirin bahwa perempuan diciptakan untuk melahirkan banyak anak; sebuah “pabrik anak” pada dasarnya merupakan takdir seorang perempuan.

“Sangat penting bagi perempuan untuk bereproduksi dengan cepat karena waktu kita terbatas, sementara akan selalu memungkinkan bagi laki-laki untuk bereproduksi,” tambahnya.

Statistik palsu

Erika menyatakan bahwa salah satu alasan kuat untuk praktik poligami adalah adanya rasio ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam populasi dunia.

“Jumlah perempuan saat ini terlalu banyak dibandingkan dengan laki-laki. Jika dulu satu laki-laki berbanding 13 perempuan, sekarang angkanya telah mencapai satu laki-laki berbanding 17 perempuan. Ada pula prediksi bahwa nantinya dapat mencapai angka satu laki-laki berbanding 50 perempuan,” katanya.

Namun hal ini dapat segera disangkal melalui satu pencarian Google saja. Rasio antara perempuan dan laki-laki justru cukup seimbang, bahkan angka populasi laki-laki sedikit lebih besar daripada perempuan baik secara global maupun di Indonesia itu sendiri.

Pada tahun 2012, rasio jenis kelamin global berada pada angka 1,01 laki-laki dan 1 perempuan. Di Indonesia, sensus nasional 2010 mencatat perbandingan 101 laki-laki berbanding 100 perempuan. Selain itu, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2014-2015 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, populasi laki-laki telah mencapai 128,1 juta, sementara perempuan mencapai 126,8 juga.

Jika telah terbukti bahwa statistik tersebut tidaklah faktual, bukankah lebih logis apabila ia mulai mengadvokasikan poliandri alih-alih poligini?

Tapi ternyata, memperbaiki masalah populasi bukan satu-satunya alasan untuk melakukan poligami. Menurut Erika, poligami akan membantu teman perempuan kita untuk tidak lagi melajang, seakan-akan poligami merupakan sarana pemasaran pernikahan multilevel. Seorang teman tidak mungkin membiarkan teman lainnya tetap melajang. Seorang teman seharusnya membawa teman itu ke sebuah pernikahan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa ia meminta suaminya untuk memiliki istri kedua: ia merasa kasihan pada teman-teman perempuannya yang belum menikah.

“Menikahi seseorang yang masih lajang merupakan bagian dari perintah Tuhan, tidak peduli apakah ia masih seorang perawan atau seorang janda,” katanya “Hanya karena seseorang tidak siap untuk berpoligami, bukan berarti ia menolaknya.”

Quran secara jelas menyetujui praktik poligini dan menganggapnya sebagai sunah Nabi, ujar Erika. Semua Muslim harus tahu hak dan kewajiban mereka dalam sebuah pernikahan, lanjutnya.

Ok, Nabi pada masanya memang menikahi banyak perempuan, beberapa dari mereka adalah janda akibat perang dan kurang mampu serta sudah berumur, sehingga pernikahan bagi mereka merupakan satu-satunya cara untuk dapat bertahan hidup. Jadi, kemudian kita harus mengharapkan suami kita untuk membawa pulang seorang perempuan yang… ehm… tidak berpenampilan semenarik kita, ‘kan?

Ternyata tidak.

Dalam membantu suami kita untuk menemukan istri muda, ada standar-standar yang perlu dipertimbangkan seperti kekayaan, kecantikan, kemampuannya untuk menghasilkan anak, dan kepercayaan agamanya.

“Kamu tidak bisa sembarangan bilang, ‘kalau mau menikah lagi, nikahi perempuan itu!’ sambil menunjuk seorang perempuan berkulit hitam, kotor, gemuk, dan tua. Teganya kamu menyarankan perempuan seperti itu kepada suamimu sendiri! Perlu diingat bahwa perempuan yang kamu pilih untuk suamimu harus memenuhi standar ideal yang ada,” kata Erika.

Baca juga: Poligami: Ketika Nafsu Menunggangi Agama

Bagaimana dengan kerumitan menggabungkan hubungan-hubungan yang ada? Seperti apa yang laki-laki selalu katakan, memiliki satu istri saja sudah sulit, bagaimana mungkin seorang laki-laki dapat memiliki empat?

“Seharusnya tidak sulit,” katanya. “Seperti empat kapal dengan satu kapten, bukan empat kapten dalam satu kapal.”

Saya pun mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang kapten dapat mengelola empat kapal sekaligus.

Jangan mengharapkan keadilan

Lalu bagaimana dengan rasa cemburu? Seharusnya tidak ada hal seperti itu, kata Erika. Seharusnya cemburu hanya timbul jika suami kita melakukan perzinaan, tetapi jangan pernah cemburu pada istri yang lain karena suami kita hanya melakukan perintah Allah. Dalam sesi tanya jawab, seorang perempuan bertanya kepada Erika, apakah menuntut suaminya untuk bersikap adil kepadanya merupakan kesalahan. Ia melanjutkan bahwa suaminya memiliki tiga istri, dan ia sering kali bersikap tidak adil padanya, yang merupakan istri pertama.

“Bukannya saya merasa lebih superior dibanding istri yang lain, tetapi istri-istri lain masih menunjukkan aurat mereka. Suami saya tidak bertindak adil karena ia memperlakukan mereka secara lebih baik dibandingkan dengan bagaimana dia memperlakukan saya,” ia bertanya.

Hal ini terdengar seperti sebuah tuntutan yang pantas, mengingat bahwa Islam memang menuntut laki-laki untuk memperlakukan semua istrinya dengan setara.

Namun, seorang pria yang hadir merasa tidak senang atas pertanyaan tersebut. Ia kemudian menanggapi, “Saya punya empat istri, 12 anak. Saya harus mengingatkan Anda bahwa hal utama yang seharusnya dilakukan istri adalah rida. Jangan menuntut keadilan dari suami. Kasihanilah suami yang bekerja keras untuk memberi makan keluarga. Semua orang harus rida.”

Untuk meredakan suasana yang semakin memanas, Erika kemudian menjelaskan dua jenis “keadilan” yang dapat dituntut seorang istri dari suaminya dalam sebuah pernikahan poligami.

“Suami harus adil dalam dua hal. Pertama, dukungan keuangan. Sang suami harus adil ketika membagi uang. Tetapi bukan berarti uang tersebut didistribusikan secara merata. Jika istri pertama memiliki 10 anak, dan yang kedua hanya memiliki satu, maka yang pertama harus menerima lebih banyak uang,” ujarnya.

“Kedua, suami harus adil dengan ‘shift malam’. Misalnya, satu malam ia tinggal bersama istri pertama, malam berikutnya dengan istri kedua, atau ia bisa tinggal dua atau tiga malam dengan masing-masing istri,” katanya.

“Tapi ketika menyangkut cinta dan perasaan, hal itu tidak akan pernah adil,” tambahnya.

Semua hal yang saya dengar seolah mengatakan bahwa poligami memang dirancang untuk laki-laki yang kecanduan seks.

Mendapatkan persetujuan keluarga

Seorang laki-laki menyatakan kekhawatirannya. “Istri saya sudah setuju (untuk memiliki istri kedua), tetapi ibu saya tidak. Dia seseorang yang keras kepala dan betul-betul menentang poligami. Setiap kali dia marah, dia sering mengucapkan hal-hal yang buruk. Saya jadi takut. Adakah saran agar saya dapat membujuk ibu saya agar ia dapat memberikan persetujuannya? Atau haruskah saya melupakan niatan tersebut?”

Erika mengakui bahwa tidak mudah baginya untuk meyakinkan orang tua dan mertuanya, tetapi kesabarannya dalam mendidik mereka tentang poligami pun akhirnya terbayar, katanya.

“Saya membujuk orang tua saya selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya mereka memberikan persetujuan. Saya mengatakan bahwa saya memang menginginkan hal ini, karena ‘perempuan itu’ masih lajang, dan belum ada yang melamarnya,” katanya.

Baca juga: Anak dalam Keluarga Poligami: Unsur yang Terlupakan

Seorang laki-laki lain bercerita tentang kesulitannya mendapatkan persetujuan dari istrinya.

“Istri pertama saya sudah meninggal, jadi saya menikahi istri saya yang sekarang. Namun, saat reuni SMA, saya jatuh cinta lagi dengan seseorang yang pernah saya sukai. Ia masih secantik dulu. Jadi saya meminta restu istri saya untuk menikahinya. Istri saya bilang, ‘Baiklah, kamu boleh menikahinya, tapi, pertama-tama, kamu harus menceraikan saya.’ Saya tidak ingin menceraikannya, jadi apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan persetujuannya?” ujarnya.

Dapat dipahami mengapa kemudian banyak perempuan yang hadir merasa sulit untuk bersimpati dengan kesulitan laki-laki ini. Seorang perempuan kemudian menanggapinya dengan, “Maaf, Pak, tetapi saya yakin bahwa apa yang Anda rasakan itu hanya nafsu. Dari cara Anda menceritakannya, jelas bahwa Anda hanya ingin memuaskan rasa haus seksual Anda. Jadi saya sarankan Anda fokus merawat istri Anda saat ini, dan tidak memikirkan perempuan yang pernah Anda sukai itu.” Hadirin lainnya kemudian menyatakan dukungan mereka dalam bentuk sorakan dan tepukan tangan.

Tetapi Erika menjelaskan bahwa hal itu bukan sikap yang tepat untuk poligami, dengan menekankan bahwa satu-satunya pendapat yang sah adalah “yang didasarkan pada syariat.” Rasa cinta, menurutnya, tidak boleh berkembang di luar sebuah pernikahan, jadi menjadi penting bagi sang suami untuk menemukan seorang perempuan yang juga seorang muslim taat.

Tetapi, sekali lagi, ia kembali pada argumen utamanya, “Mungkin butuh waktu, tetapi akhirnya, istri pertama harus menyetujui praktik poligami, karena itulah yang diperintahkan Tuhan.”

Ketika diskusi berakhir, saya merasa jauh dari yakin akan manfaat pernikahan poligamis. Saya berpikir tentang perempuan yang tidak ingin suaminya memiliki istri kedua, ketiga, atau keempat, tetapi tidak punya pilihan karena mereka tidak mandiri secara finansial atau karena alasan sosial dan budaya. Saya membayangkan anak-anak dari pernikahan poligami dan bagaimana mereka akan dipengaruhi olehnya. Selama sesi dua jam, Erika berulang kali mengatakan betapa indahnya memiliki banyak anak, tetapi tidak pernah membahas tantangan dalam mengasuh banyak anak dalam pernikahan poligami.

Mungkin bagi orang-orang ini, bagaimana kita mengasuh anak-anak kita bukanlah bagian penting dalam membesarkan sebuah keluarga. Setidaknya memastikan bahwa seorang laki-laki selalu memiliki pasangan yang bersedia melayaninya di ranjang yang hangat setiap malam tetap menjadi yang terpenting dalam sebuah keluarga, juga bagi perempuan untuk melahirkan anak sebanyak yang rahimnya mampu.

Sambil menunggu ojek saya tiba, saya duduk di halaman masjid, menatap seekor lebah mengisap sari bunga, terbang dengan cepat dari satu ke yang lain. Seorang laki-laki yang mengenakan peci putih lewat, di belakangnya ada dua perempuan yang memakai niqab hitam. Tiba-tiba ia berhenti dan berbalik untuk berbicara dengan mereka. Kedua perempuan itu kemudian berpose di antara bunga-bunga, sementara ia memotret mereka berdua. Satu pose di sini, satu pose di sana. Mereka terkikik saat berjalan keluar dari gerbang masjid.

Artikel berikut diterjemahkan oleh Sheila Lalita dari versi aslinya yang berbahasa Inggris, yang diterbitkan Magdalene pada 2017.

Ayunda tertarik dengan perlintasan budaya pop, media, dan isu-isu gender. Ia telah meraih gelar Magister Humaniora dari program studi Cultural Studies, Universitas Indonesia. Ia menggemari Lana Del Rey, fiksi spekulatif, dan serial BoJack Horseman. Akun-akun media sosialnya tidak terlalu heboh, tapi sapa saja di facebooktwitter.