January 15, 2026
Issues Politics & Society

Jadi Korban Teror, Aktivis dan Kreator Konten Lapor Polisi 

TAUD mendampingi pelaporan teror dan intimidasi yang menimpa aktivis Greenpeace Iqbal Damanik dan pemengaruh Yansen Oposipit ke Mabes Polri.

  • January 15, 2026
  • 3 min read
  • 100 Views
Jadi Korban Teror, Aktivis dan Kreator Konten Lapor Polisi 

Didampingi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), aktivis Greenpeace Iqbal Damanik serta influencer Yansen Oposipit melapor teror terhadap mereka di Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri), (14/1). 

Kuasa hukum korban, Alif Fauzi Nurwidiastomo, mengatakan pelaporan tersebut berkaitan erat dengan aktivitas kliennya di ruang digital yang mengkritik penanganan bencana banjir di Sumatera

“Pelaporan ini sangat erat dengan aktivitas aktivisme mereka di ruang digital, khususnya yang berkaitan dengan isu banjir di Sumatera,” ujar Alif di Mabes Polri. 

Baca Juga: Paket Kepala Babi di Kantor ‘Tempo’: Teror Nyata Kebebasan Pers 

Ia menilai teror terhadap warga yang bersikap kritis terhadap pemerintah kian marak dan menunjukkan pola intimidasi yang mengkhawatirkan. 

Menurut Alif, rangkaian teror terjadi sejak 20 Desember 2025. Saat itu, Yansen, Iqbal, dan Virdian Aurelio mengalami pengambilalihan nomor telepon, menerima pesan berisi data pribadi keluarga, serta menjadi sasaran penyebaran video asusila berbasis akal imitasi (AI) yang seolah-olah menampilkan anggota keluarga mereka. 

Teror berlanjut pada 30 Desember 2025. Iqbal menerima kiriman bangkai ayam. DJ Donny mengalami teror serupa yang disertai pelemparan bom molotov ke rumahnya. Sementara itu, kreator konten Aceh Sherly Annavita menerima lemparan telur busuk dan ancaman yang disertai penyebaran data pribadi keluarga. 

Ancaman-ancaman tersebut disertai tuntutan agar para korban berhenti bersuara dan tidak lagi mengkritik pemerintah. 

Kuasa hukum lain, Gema Gita Persada, menyebut rangkaian teror ini bukan peristiwa acak, melainkan bentuk intimidasi yang terstruktur dan bertujuan menimbulkan ketakutan luas di masyarakat. 

“Ini bukan ancaman biasa. Ada motif politis yang kuat. Klien kami, Yansen dan Iqbal, dikenal kritis terhadap penyelenggara negara, terutama dalam isu penanganan bencana di Sumatera,” ujar Gema di Mabes Polri. 

Ia mendorong kepolisian agar menangani perkara ini secara komprehensif dan melihat pola teror secara utuh, bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri. 

Iqbal Damanik menegaskan tetap percaya pada kepolisian untuk melindungi warga yang menyampaikan kritik. 

Baca Juga: 5 Peretasan Akun Pengritik Pemerintah, Kini Mulai Sasar Warga Biasa 

“Kami berharap polisi menindaklanjuti kasus ini secara serius. Teror seperti ini bukan hanya menimpa kami. Banyak korban lain, termasuk teror kepala babi terhadap jurnalis Cica, yang juga harus diusut tuntas,” tutur Iqbal. 

Ia menambahkan, kritik terhadap pemerintah merupakan hak yang dijamin undang-undang sebagai bagian dari demokrasi. 

“Kami tidak takut. Iklim demokrasi harus dijaga. Kami hanya ingin pemerintah bekerja dengan tanggung jawab, integritas, dan akuntabilitas,” ujarnya. 

Sementara itu, Yansen menyatakan kritik yang ia sampaikan berangkat dari kegelisahan atas lambannya penanganan bencana di Sumatera dan maraknya disinformasi. 

“Saya tidak menyerang pemerintah. Saya membela warga Sumatera. Ada informasi yang menyebut terjadi penjarahan. Saya luruskan, itu bukan kerakusan, tetapi karena bantuan terlambat dan mereka berjuang untuk bertahan hidup,” katanya. 

Baca Juga: Napi Teroris Perempuan: Perannya Disepelekan, Nasibnya Terpinggirkan di Penjara 

Lagu Lama Pembungkam Kritik 

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menilai teror terhadap para pengkritik pemerintah mengulang pola intimidasi yang pernah dialami jurnalis dan aktivis HAM

“Ini sangat memalukan bagi negara yang mengeklaim diri sebagai demokrasi. Ini menunjukkan pemerintahan Prabowo belum memberikan rasa aman bagi warganya,” ungkap Isnur. 

Ia menegaskan, kegagalan mengungkap dan menghentikan teror semacam ini akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan berekspresi di Indonesia. 

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.