Lifestyle

Apa itu ‘Logical Fallacy’ atau Sesat Pikir dan Macam yang Harus Kamu Tahu

Sering dianggap ampuh untuk memenangkan argumen dengan lawan, tapi sebenarnya lemah.

Avatar
  • March 1, 2024
  • 4 min read
  • 518 Views
Apa itu ‘Logical Fallacy’ atau Sesat Pikir dan Macam yang Harus Kamu Tahu

Pernahkah kamu mendengar tentang logical fallacy? Dalam ilmu logika, pemahaman tentang jenis-jenis logical fallacy sangatlah penting, sebab ini familier digunakan dalam percakapan kita. Ironisnya lagi, meski sering digunakan tapi ada kelemahan dan kekeliruan di dalamnya.  Apa sebenarnya yang dimaksud dengan logical fallacy, dan mengapa kita perlu memahaminya? Mari kita telusuri lebih lanjut. 

Pengenalan tentang Jenis Logical Fallacy 

Dikutip dari Scribbr, Logical Fallacies | Definition, Types, List & Examples, logical fallacy merupakan konsep penting dalam logika. Ketika kita berbicara tentang kesalahan logika, kita membicarakan tentang cara berpikir yang tidak rasional atau tepat. Itu berpotensi merusak validitas argumen. Pemahaman tentang jenis-jenis logical fallacy menjadi kunci untuk menghindari jebakan dalam berpikir dan berargumen. 

 

 

Secara sederhana, logical fallacy adalah kesalahan dalam penalaran atau argumen yang membuatnya jadi tidak valid. Artinya, walaupun suatu argumen terlihat logis, namun jika didasari oleh fallacy, maka argumen tersebut tidak dapat dipercaya. Ini karena argumen tersebut tidak didukung oleh bukti yang valid atau logika yang benar. 

Baca Juga: Kekeliruan Logika Revina VT: Tanggapan Atas Tulisan ‘Feminisme Garis Logis’ 

Jenis-Jenis Logical Fallacy dan Contohnya 

Logical fallacy memiliki beragam jenis, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri. Masih dikutip dari Scribbr, memahami jenis-jenis logical fallacy ini penting karena dapat membantu kita mengidentifikasi kesalahan dalam argumen dan memperkuat kemampuan berpikir kritis kita. 

  1. Ad Hominem 

Ad Hominem terjadi ketika seseorang menyerang karakter atau sifat pribadi lawan argumen daripada merespons argumen yang sebenarnya. Contohnya, ketika seseorang menolak argumen seseorang hanya karena tidak menyukai orang tersebut, bukan karena substansi argumennya. 

Contoh: Saat diskusi politik, seseorang menyerang lawan politiknya dengan menyebutkan cacat fisik atau latar belakang pribadi mereka sebagai alasan untuk tidak mendukung argumen tersebut. 

  1. Straw Man 

Straw Man fallacy terjadi ketika seseorang menyederhanakan atau memperkuat argumen lawan secara tidak adil agar lebih mudah ditolak. Ini dilakukan dengan menciptakan versi argumen lawan yang lebih lemah daripada yang sebenarnya. 

Contoh: Dalam debat tentang perubahan iklim, seseorang menyatakan, mereka yang mendukung perlindungan lingkungan hanya ingin menghancurkan ekonomi. Padahal tujuan sebenarnya adalah untuk mencapai keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. 

  1. False Dilemma 

False Dilemma melibatkan penghadiran pilihan palsu atau terlalu sederhana tanpa mempertimbangkan kemungkinan yang lain. Ini mengarah pada penarikan kesimpulan yang tidak tepat karena tidak semua opsi telah dipertimbangkan. 

Contoh: Pemimpin politik menyampaikan hanya ada dua opsi: Mendukung kebijakan mereka atau dianggap sebagai musuh negara, tanpa memberikan ruang bagi opsi alternatif atau perdebatan yang lebih kompleks. 

  1. Circular Reasoning 

Circular Reasoning terjadi ketika argumen mendukung dirinya sendiri tanpa memberikan bukti tambahan yang baru. Ini merupakan bentuk pemikiran yang melingkar dan tidak memberikan kontribusi nyata terhadap validitas argumen. 

Contoh: Seseorang berpendapat UFO pasti ada karena ada banyak laporan tentang pengamatan, tanpa memberikan bukti tambahan atau argumen yang mendukung keberadaan UFO. 

  1. Appeal to Authority 

Appeal to Authority terjadi ketika seseorang merujuk pada otoritas yang tidak relevan dalam mendukung sebuah klaim. Namun, status atau pengaruh seseorang tidak selalu berkaitan dengan kebenaran dari argumen yang dia sampaikan. 

Contoh: Penjual makanan mengklaim produknya adalah yang terbaik karena selebriti terkenal mengatakan demikian, tanpa memberikan bukti ilmiah atau testimoni yang valid. 

Baca Juga: Stop Ageisme, Usia Tua Tak Halangi Kamu Belajar Hal Baru 

Strategi Menghindari Logical Fallacy 

Dikutip dari Linkedin, How can you avoid common logical fallacies and maintain your credibility, menghindari jatuh ke dalam jebakan-jebakan logical fallacy merupakan langkah penting dalam membangun argumen kuat dan valid. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu kita menghindari logical fallacy dalam berpikir dan berargumen: 

  1. Memeriksa Argumen Secara Kritis 

Sebelum menyampaikan atau menerima sebuah argumen, penting untuk memeriksanya secara kritis. Pertanyakan asumsi, bukti, dan logika yang digunakan dalam argumen tersebut. Jangan terlalu mudah menerima argumen tanpa pertimbangan yang matang. 

  1. Mencari Bukti yang Mendukung Argumen 

Setiap argumen harus didukung oleh bukti yang relevan dan kuat. Mencari bukti yang dapat mendukung klaim kita akan memperkuat validitas dari argumen tersebut dan mengurangi kemungkinan jatuh ke dalam logical fallacy. 

  1. Menerima Kritik dengan Terbuka 

Ketika mendengar kritik atau pertanyaan terhadap argumen kita, penting untuk menerimanya dengan terbuka. Jangan bertahan pada argumen kita hanya karena merasa terhormat atau ego kita terguris. Gunakan kritik tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki dan memperkuat argumen kita. 

Baca Juga: budaya anti kritik masyarakat Indonesia 

  1. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis 

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah kunci dalam menghindari jatuh ke dalam logical fallacy. Latih diri kita untuk selalu mengevaluasi argumen secara rasional dan objektif, tanpa terpengaruh oleh emosi atau bias personal. 

  1. Menggunakan Logika yang Kuat 

Selalu berusaha untuk menggunakan logika yang kuat dan rasional dalam menyusun argumen. Hindari mengandalkan emosi atau asumsi yang tidak didukung oleh bukti yang cukup. Semakin kokoh dasar logika dari argumen kita, semakin sedikit kemungkinan untuk terjebak dalam logical fallacy. 


Avatar
About Author

Kevin Seftian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *