October 22, 2019
Film ‘Joker’, Kematian Sulli, dan Gagal Paham Tentang Gangguan Mental

Tidak semua orang yang punya gangguan jiwa akan bunuh diri seperti Sulli atau bunuh orang lain seperti Joker.

by Tenni Purwanti
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Entah disengaja atau tidak, pemutaran film Joker bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Dunia yang diperingati setiap 10 Oktober. Joker adalah satu-satunya musuh Batman yang latar belakangnya misterius. Baik di komik atau film-film Batman, tidak ada cerita bagaimana kehidupan Joker sebelum menjadi penjahat. Celah ini yang sepertinya digunakan sang sutradara Todd Phillips dalam mengembangkan cerita film Joker. Tak tanggung-tanggung, ia membawa isu penyakit mental.

Tapi sayangnya, kutipan yang jadi viral dari film itu adalah “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”. Arthur Fleck (orang baik) berubah menjadi Joker (orang jahat) karena tersakiti. Kekerasan yang dilakukan Joker membuat stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) semakin buruk: Mereka bisa membunuhmu! Mereka bisa berbuat jahat! Hati-hati, jangan menyakiti mereka!

Stigma seperti ini yang menyebabkan penanganan untuk ODGJ sering salah. Pemasungan adalah tindakan yang paling menunjukkan ketakutan orang terhadap ODGJ. Mereka dipasung agar tidak menyakiti orang lain. Kementerian Sosial mencatat setidaknya 1.345 ODGJ masih dipasung dan Indonesia Bebas Pasung tahun 2019 menjadi prioritas. Apakah Indonesia benar-benar sudah bebas pasung tahun ini? Belum tahu. Padahal hasil penelitian yang dilakukan psikater dari Amerika Serikat, E. Fuller Torrey (2011) menunjukkan, penderita ODGJ cenderung menjadi korban daripada menjadi pelaku kekerasan.

Contoh paling terkini adalah dari kematian aktris/penyanyi Korea Sealtan Choi Jin-ri (Sulli). Ia ditemukan bunuh diri di apartemennya pada 14 Oktober 2019. Sulli diduga menderita depresi saat memutuskan menggantung dirinya sendiri. Ia adalah korban perisakan di dunia maya. Meski Sulli sudah menyatakan ia menderita gangguan mental, tetapi perisakan di dunia maya terhadapnya tidak berhenti. Bahkan setelah kematiannya, ada warganet Indonesia yang masih sempat-sempatnya menasihati agar seharusnya Sulli lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbanyak teman, dan sering curhat, agar tidak melakukan hal bodoh. Orangnya sudah meninggal dunia masih saja dinasihati!

Budayakanlah banyak membaca. Gangguan jiwa terjadi bukan karena kurang iman. Dan tidak semua orang yang punya gangguan jiwa akan bunuh diri seperti Sulli atau bunuh orang lain seperti Joker.

Diagnosis mandiri, glorifikasi, dan peyorasi

Salah satu yang paling ditakutkan dari viralnya film Joker oleh Edo S. Jaya, dosen Psikologi Universitas Indonesia adalah mudahnya penonton akan melakukan diagnosis mandiri. Banyak penonton yang tiba-tiba merasa dirinya mengalami depresi setelah menonton Joker. Padahal diagnosis seseorang menderita depresi perlu dilakukan psikiater. Hal ini terkait dengan penanganan termasuk obat-obatan yang perlu diminum. Salah seorang klien Edo pernah menyimpulkan dirinya sendiri mengalami depresi sehingga ketergantungan obat penenang. Padahal setelah terapi, diketahui klien ini hanya memiliki serangan panik dan bisa diobati dengan terapi psikologis satu sampai dua bulan.

Saya jadi teringat seorang teman yang pernah tiba-tiba mengatakan dirinya OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Saat itu kami sedang menjaga stan kantor kami di sebuah acara dan dia menyusun kartu pos di atas meja dengan sangat rapi. Dengan entengnya dia bilang dia OCD karena tidak tahan lihat kartu pos itu berantakan. Saya ingin tertawa karena saya adalah penderita OCD sesungguhnya. Tapi saya enggan mendebat dia dan menceritakan penyakit ini.

Kalimat “Gue OCD karena enggak bisa lihat sesuatu miring atau berantakan,” atau “Gue lagi autis, jangan diganggu!” bukan hal yang keren untuk dikatakan. Sebab diagnosis mandiri serta glorifikasi terhadap istilah tertentu seolah itu keren justru meremehkan atau mengecilkan perjuangan yang dialami penderitanya.

Saya didiagnosis psikiater akhir tahun 2017 setelah mengalami beberapa kali serangan panik dalam satu minggu dan terus percaya bahwa saya akan mati karena stroke. Sebelum bertemu psikiater, saya sudah bolak-balik ke rumah sakit jantung karena percaya saya akan stroke. Saya masih ingat petugas Instalasi Gawat Darurat menyarankan saya untuk bertemu psikiater karena menduga yang bermasalah adalah kepala saya, bukan jantung saya. Akhirnya saya memang ke psikiater, setelah menangis dan berteriak-teriak di kantor lama karena kepala saya tidak mau diam, tangan dan kaki saya keram tidak bisa bergerak, dan saya yakin akan mati saat itu.

Pada akhirnya saya tahu, kepala saya cuma mau diam kalau saya minum obat. Kalau saja teman saya di kantor baru ini tahu betapa menderitanya saya dengan OCD, tentu dia akan berpikir seribu kali untuk mengaku dirinya OCD. Saya yakin dia tidak akan mau menderita OCD seperti saya. Saya OCD dan tidak bangga dengan itu. Saya menderita. Saya juga pernah ingin bunuh diri, tapi berbalik jadi takut mati. Betapa membingungkannya semua itu. Dan sejauh ini yang paling mengerti penderitaan saya adalah psikolog saya.

Kasus ini mirip dengan masih banyaknya orang menggunakan kata “autis” untuk menggantikan kalimat “terlalu fokus pada sesuatu”. Seandainya mereka tahu betul apa yang dirasakan penderita autisme, atau setidaknya punya anggota keluarga yang autistik, mereka pasti tidak akan tega menjadikan autisme sebagai bahan bercanda. Ketahuilah, kalimat “Gue OCD karena enggak bisa lihat sesuatu miring atau berantakan,” atau “Gue lagi autis, jangan diganggu!” bukan hal yang keren untuk dikatakan. Sebab diagnosis mandiri serta glorifikasi terhadap istilah tertentu seolah itu keren justru meremehkan atau mengecilkan perjuangan yang dialami penderitanya. Akibatnya, mereka tidak tertangani dengan baik karena istilah-istilah itu akhirnya mengalami peyorasi dan urgensinya menjadi diabaikan.

Hal ini juga terjadi untuk kata delusi dan halusinasi. Orang sering menggunakan kata “halu” untuk menyingkat halusinasi. Misalnya, teman saya pernah percaya Duta “Sheila on 7” suka sama dia waktu menonton konser, sampai percaya mereka akan menikah. Padahal belum tentu Duta melihat dia, apalagi mau menikahi dia. Lalu saya nyeletuk, “Halu, kamu!”. Saya tertukar antara halusinasi dengan delusi. Apa yang dikatakan teman saya itu gejala delusi, bukan halusinasi.

Bahkan meski saya sudah tahu perbedaannya pun, saya tidak bisa mendiagnosis teman saya delusi. Dia harus ngobrol sama psikiater agar kami tahu dia benar-benar mengalami delusi, atau dia hanya berkhayal yang sama sekali tidak memengaruhi hidup dia. Mungkin sekarang dia lupa pernah ngomong begitu. Jadi dia malah tidak delusional. Dan jelas tidak mengalami halusinasi. Halusinasi itu kalau teman saya mendengar Duta nyanyi di kamarnya padahal tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Saya yakin teman-teman yang membaca tulisan ini juga ada yang pernah salah menggunakan kata “halu”.

Kalau membaca buku-buku psikologi atau jurnal-jurnal psikiatri di internet terasa terlalu rumit, setidaknya bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Versi daringnya bahkan sudah tersedia sejak bertahun lalu. Ada pengertian depresi, delusi, dan halusinasi di sana. Perbedaan autis dengan autisme juga ada di sana. Setidaknya agar kita tidak salah lagi memakai kata tertentu.

Baca juga: Bunuh Diri pada Anak Muda dan Bagaimana Menghadapinya

Jangan lagi memakai kalimat, “Gue depresi nonton Joker!”. Depresi tidak sesederhana itu! Kalau kamu merasa pusing atau mual setelah menonton Joker, sebaiknya periksa ke dokter, mungkin kondisi tubuhmu sedang tidak siap menonton film seperti itu. Bukan berarti kamu punya depresi tersembunyi yang keluar setelah menonton Joker. Percayalah, psikiater dan psikolog bahkan butuh analisis mendalam sebelum menyimpulkan penyakitmu. Kenapa kamu yang tak punya dasar ilmu kesehatan atau psikologi bisa menyimpulkan penyakitmu sendiri?

Depresi dan OCD adalah gangguan mental yang serius. Depresi dan stres bukan hal yang sama, dan depresi bukan sekadar sedih atau nangis. OCD tidak sesederhana suka kerapihan dan kebersihan. Orang OCD bisa juga punya kamar berantakan, seperti saya. Berhenti melakukan peyorasi istilah seperti yang pernah dilakukan pada kata “autis”, karena semua itu istilah medis yang harus didiagnosis dan ditangani oleh ahli medis.

Arthur menderita PseudoBulBar Affect (PBA) atau gangguan emosional yang ditandai dengan episode tangis atau tawa yang tak terkontrol. Menurut pbainfo.org, PBA bisa terdiri atas dua jenis: PBA tangis atau PBA tawa, dan Arthur menderita jenis kedua. PBA berbeda dengan depresi. Penderita PBA punya kondisi neurologis dan cedera otak, sementara penderita depresi tidak. Penderita BPA tidak bisa mengontrol tangis atau tawa, sedangkan penderita depresi bisa. Emosi yang dirasakan penderita PBA tidak cocok dengan yang dialaminya. Ia menangis meski tidak sedih, tertawa padahal tidak sedang bahagia. Sedangkan apa yang dialami penderita depresi sesuai dengan emosi yang dirasakannya. PBA bisa menyebabkan depresi, tetapi tidak sebaliknya.

Soal skizofrenia, Arthur dibesarkan oleh ibu yang menderita skizofrenia, narsistik, dan delusional. Ibu Arthur percaya bahwa Thomas Wayne mencintainya dan mereka pernah memiliki hubungan spesial. Padahal kemudian diketahui bahwa Arthur adalah anak adopsi. Meski gen gangguan jiwa tidak diturunkan dari ibu yang merawatnya, tapi Arthur dibesarkan oleh ODGJ dan hal itu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya.

Kalau saya penulis skenario film Joker, lebih mungkin Arthur menderita kepribadian ganda. Ia menciptakan kepribadian lain bernama Joker di dalam dirinya sebagai bentuk pertahanan diri karena kepribadian Arthur yang terlalu lemah. Arthur tidak menyadari keberadaan Joker tetapi Joker tahu ada Arthur, kepribadian pertama yang menciptakan dan sekaligus bisa mematikan Joker kapan saja. Ternyata Joker berkembang jauh lebih kuat dan berusaha mematikan Arthur. Di situlah konfliknya.

Tapi saya bukan penulis skenario film Joker dan saya juga bukan psikiater yang bisa menganalisis kepribadian dan kesehatan mental Arthur. Biarkan para psikiater yang menganalisis, sakit apa sesungguhnya Arthur. Di film ini tidak disebutkan dengan spesifik Arthur menderita sakit mental apa, karena PBA ternyata tidak termasuk penyakit mental.

Mereka bukan cari perhatian, mereka butuh dukungan

Penderita gangguan mental seringkali dianggap terlalu melebih-lebihkan masalah, drama, atau caper (cari perhatian). Saya membaca artikel yang menyatakan Sulli pernah live di IG Story tanpa berkata apa-apa dan hanya menangis. Bagi orang-orang yang suka menghakimi, mereka pasti akan mengatakan Sulli drama queen dan caper. Padahal kita tidak benar-benar tahu apa yang dialami Sulli pada hari itu sampai dia memutuskan menangis di hadapan followers-nya. Jika suatu hari ada orang lain melakukan ini, tolong jangan dirisak. Jika tak mau membantu karena merasa dia hanya mencari perhatian, tinggalkan saja. Jangan tonton live story-nya. Jangan berkata hal-hal buruk kepadanya. Kita tidak pernah tahu betapa sakitnya kata-kata itu bagi orang yang menerimanya.

Depresi dan OCD adalah gangguan mental yang serius. Depresi dan stres bukan hal yang sama, dan depresi bukan sekadar sedih atau nangis. OCD tidak sesederhana suka kerapihan dan kebersihan. 

Gangguan panik atau fobia sosial yang dialami Sulli tidak bisa disimpulkan oleh Sulli seorang diri. Perlu diagnosis psikiater atau psikolog. Jika benar Sulli mengalami kedua penyakit ini, ia butuh sistem pendukung, terapi dengan psikolog, obat-obatan dari psikiater, serta dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat. Tapi Sulli justru merasa tidak ada satu pun yang mengerti apa yang dirasakannya. Ini bisa menyebabkan depresi. Maka bertambah lagi sakitnya.

Sulli memasuki dunia hiburan Korea Selatan sejak berusia 11 tahun, kemudian menjadi bintang K-Pop bersama grup f(x). Tahun 2015 Sulli mengundurkan diri dari SM Entertainment karena merasa butuh perawatan untuk fisik dan mentalnya.My life is actually empty, so I feel like I’m lying to everyone by pretending to be happy on the outside,” ujar Sulli dalam sebuah TV show seperti dikutip abc.net.au. Sulli juga mengatakan hal berikut, “I was hurt by them and felt there was nobody who understands me, which made me fall apart.”

Balik lagi ke film Joker, Arthur Fleck tidak memiliki sistem pendukung yang memadai. Layanan psikiatri yang awalnya ditanggung pemerintah untuknya tiba-tiba dihentikan, ia sering dirundung di tempat kerja oleh teman-temannya sendiri, dan keluarganya, terutama ibunya, justru membuat keadaan Arthur semakin parah. Panggilan kesayangan Ibu Arthur kepadanya adalah Happy. Alasannya, Arthur harus menjadi pembawa kebahagiaan untuk siapa saja. Ia harus selalu happy. Harus selalu tersenyum. Bahagia dan membahagiakan. Mirip dengan Sulli, sebagai penghibur, ia harus selalu tampil menarik, menghibur, tak peduli apa pun suasana hatinya. Terlebih dunia hiburan di Korea Selatan memiliki standar-standar tertentu yang menuntut perempuan tampil seragam hingga rela operasi plastik, demi (bisa diterima) publik.

Maka, jika banyak penonton lebih suka mengutip “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”, saya lebih suka kutipan dari apa yang ditulis Joker di buku hariannya: “The worst part about having a mental illness is people expect you to behave as if you DON’T”.

Jika dikatakan Joker menggambarkan realitas kehidupan, kita bisa melihat apa yang terjadi kepada Sulli. Ia berkali-kali mengatakan dirinya sakit, tetapi ia dituntut untuk terlihat tidak sakit. Saya tahu bagaimana rasanya sakit OCD tapi harus berpura-pura tidak mengalaminya dan senyum-senyum saja saat orang lain mengklaim dirinya sendiri OCD padahal tidak tahu apa-apa soal itu. Saya harus bangun tidur setiap hari dan bekerja senormal mungkin sepanjang hari padahal setiap malam harus bertengkar dengan kepala yang selalu bilang bahwa saya akan stroke dan mati malam itu.

Saya bisa tersenyum kepada semua orang, bercanda, tertawa dengan teman-teman kantor dan berpura-pura semua baik-baik saja, karena takut kalau saya bilang kepala saya tidak berhenti ngomong, saya akan dianggap aneh atau gila. Atau yang lebih parah lagi, saya takut akan dianggap cuma cari perhatian dan mendramatisir gejala saya. Padahal obat dari psikiater saya banyak, sampai racikannya memenuhi kertas resep. Itu racikan obat terpanjang yang pernah saya punya seumur hidup, meski jadinya hanya tiga kapsul yang harus diminum rutin setiap pagi dan malam, juga saat darurat. Sudah setahun terakhir saya melakukan terapi dengan psikolog dan akhirnya bisa berhenti minum obat dari psikiater. Saya beruntung bisa menangani semua ini sendiri dengan jalan yang semestinya. Tapi tidak semua orang bisa seperti saya.

Baca juga: Saya Dokter, Saya Pasien Kejiwaan, dan Saya Tidak Malu Mengakuinya

Tidak semua orang bisa mengakses pengobatan karena biaya psikiater dan psikolog tidak murah. Belum lagi stigma yang melekat kalau kita mendatangi psikolog dan psikiater berarti kita gila, atau sudah “terlalu parah sakitnya”. Hingga saat ini saya selalu mencari alasan lain ke atasan langsung saya setiap kali mau terapi dengan psikolog. Saya tidak berani bilang bahwa saya terlambat ke kantor karena bertemu psikolog dulu. Mungkin atasan saya bisa paham kalau saya jelaskan, tapi bagaimana kalau dia tidak paham dan saya malah kehilangan pekerjaan karena dianggap “sakit”? Ketakutan itu nyata. Dan saya rasa semua orang dengan gangguan seperti saya pernah mengalaminya.

Saya bisa bayangkan misalnya remaja yang merasa butuh ke psikolog tapi tidak berani bilang ke orang tuanya karena takut orang tuanya heboh mengajukan beragam pertanyaan. Seorang istri yang tidak berani bilang ke suaminya butuh uang untuk beli obat ke psikiater karena takut diceraikan kalau suaminya tahu dia “sakit”. Banyak sekali kondisi yang membuat orang dengan gangguan mental akhirnya tidak mendapat perawatan yang dibutuhkan karena stigma-stigma yang masih melekat kuat dan membuat penderitanya sendiri ketakutan untuk bicara. Padahal, berobat ke psikolog atau psikiater sama pentingnya dengan kita berobat ke dokter gigi saat sakit gigi.

Bayangkan kamu sakit gigi tapi tidak berani ke dokter gigi. Bayangkan kamu merintih sendirian dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyembuhkan sakit gigimu. Lama-lama sakitmu semakin parah dan kamu memilih bunuh diri daripada kesakitan terus. Kamu pikir sakitmu akan berhenti kalau kamu mati. Atau, akhirnya kamu membunuh orang di sekitarmu karena meremehkan sakit gigimu yang tidak tertahankan lagi. Padahal yang kamu butuhkan adalah mereka tahu kamu sakit dan membawamu ke dokter gigi. Apalagi kalau ada yang hanya menyuruh kamu berdoa padahal doa tanpa usaha adalah hal sia-sia, kamu butuh dokter gigi, bukan ustaz atau siapapun pemuka agamamu.

Saya tidak mendukung Arthur yang membunuh orang dan Sulli yang membunuh dirinya sendiri, tetapi saya mengerti mengapa mereka melakukan itu. Film Joker, karena tidak berdasarkan komik, sebetulnya karakter utamanya bisa diganti siapa saja. Jika tokohnya diganti jadi perempuan dan namanya diganti, ceritanya akan tetap relevan.

Arthur dan Sulli butuh dukungan, mereka bukan pencari perhatian atau pendramatisir keadaan. Kehidupan mereka sudah terlalu sulit untuk dikatakan baik-baik saja, tapi dipersulit dengan stigma dan berbagai tuntutan agar mereka berpura-pura bahagia dan terlihat baik-baik saja. Emosi yang direpresi itu kemudian memaksa untuk keluar dan membuat Arthur maupun Sulli tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam diri mereka. Dan percayalah, kebingungan itu sungguh-sungguh menyiksa. Saya pernah merasakannya.

Tenni Purwanti berprofesi sebagai jurnalis sejak 2011 hingga sekarang. Di luar aktivitas jurnalistiknya, Tenni menulis sejumlah prosa yang dimuat di media massa dan buku antologi. Bisa disapa di akun media sosial @rosezephirine.