March 24, 2020
Kalau Kamu Begini, Kamu Bukan Feminis: 7 Pandangan Saklek Soal Menjadi Feminis

Sebagian orang memandang identitas feminis secara kaku dan dikotomis: Kalau mereka tidak sama seperti kami, mereka bukan feminis.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues // Feminism A-Z
Share:

Kelompok feminis kerap dihujani serangan dari mereka yang patriarkal, yang menganggap dunia tetap ideal tanpa feminisme. Ini saja sudah menjadi halangan besar buat menciptakan situasi setara antargender. Sayangnya, di kalangan kelompok feminis juga masih ada perilaku saling menuding. Sekalipun sama-sama membawa bendera feminisme, antara satu kelompok feminis dan lainnya tidak jarang juga saling sindir dan menyalahkan aliran satu sama lain, atau menganggap yang lain kurang sahih.

Ketika ini terjadi, artinya masih ada pihak-pihak yang memaknai feminisme sebagai satu aliran tunggal. Padahal seiring perkembangan pemikiran di setiap zaman, selalu ada pemaknaan-pemaknaan lain terhadap feminisme yang sebenarnya, justru membuat ideologi ini kaya dan merangkul banyak pihak.

Akibatnya, kelompok feminis yang tertutup pada interpretasi berbeda soal feminisme bisa menafikan keberadaan dan perjuangan kelompok feminis lain. Bagi mereka, kelompok yang berbeda aliran ini ya bukan feminis, seakan ada kriteria hitam-putih atau template untuk menjadi seorang feminis. Hal ini disayangkan karena bukankah lebih baik kita bersatu untuk melawan “musuh bersama” dan agenda lebih besar seperti patriarki, misalnya.

Baca juga: 10 Pemahaman Keliru tentang Feminisme

Apa saja pandangan saklek nan dikotomis yang sering ditemukan pada berbagai kelompok feminis?

  1. Masalah ketidaksetaraan gender ujung-ujungnya perkara kelas saja

Sebagian feminis menilai sumber penindasan perempuan adalah kapitalisme yang bergandengan dengan patriarki. Untuk bisa mewujudkan keadilan, perkara kelas harus menjadi sorotan utama gerakan-gerakan perempuan.

Kenyataannya, isu gender punya spektrum yang luas sekali. Artinya, banyak “perang” yang harus dilakukan para feminis dan tidak semuanya mesti melibatkan seluruh kelompok. Ada feminis yang berkonsentrasi pada masalah ketubuhan, perempuan dan lingkungan, keterwakilan politik, isu kekerasan dan buruh migran, dan lain sebagainya.

Walaupun ada realitas macam ini, muncul satu fenomena (setidaknya yang tampak di media sosial) di mana sebagian kelompok feminis kiri memandang miring perjuangan feminis liberal. Pasalnya, mereka menilai para feminis liberal ini sangat kapitalis, seolah mereka bukan pekerja juga dan tidak peduli pada nasib buruh.

Terlepas dari di mana pun para feminis liberal berkarier, selama mereka bukan pemilik modal, mereka adalah buruh juga. Karenanya, sentimen sebagian feminis kiri terhadap feminis liberal sebenarnya tidak perlu. Hanya karena fokus perjuangan berbeda, tidak berarti satu kelompok feminis tidak sevisi dengan kelompok feminis lainnya. 

  1. Ekspresif secara seksual oke, tidak pun kece

Apa tandanya seseorang adalah feminis? Beberapa pihak barangkali menilai, feminis adalah mereka yang “berani” dalam berpenampilan. Pemikiran ini tidak lepas dari munculnya para feminis yang lebih ekspresif secara seksual dan bebas dalam berbusana. Alasannya, mengekspresikan diri dan seksualitas adalah simbol kebebasan dari kekangan patriarki yang mengharuskan perempuan pasif secara seksual.

Padahal, wajah seorang feminis itu sangat beragam. Tidak ada satu pun tanda tunggal yang menonjol secara pasti di penampilan feminis. Alangkah sedihnya bila feminis justru memakai satu seragam dan hanya ada satu isu yang jadi keresahan bersama.

Tidak melulu feminis identik dengan pembebasan seksual atau berbicara seputar vagina dan payudara. Masalah itu memang penting untuk diangkat, tetapi itu tidak berarti mengesampingkan para feminis lain yang enggan membicarakan seksualitas. Bagaimana dengan mereka yang peduli terhadap isu gender tetapi tradisionalis? Apakah gerakan pembebasan seksual yang dijalankan sebagian feminis serta merta menyapu gagasan feminis lain yang lebih nyaman dengan pakaian tertutup atau tidak suka koar-koar soal seksualitas perempuan?

Mereka yang setuju pada pembebasan seksual dan tak percaya pada pengagungan keperawanan misalnya, itu feminis. Dan mereka yang berpegang pada moralitas lain, tetap perawan atas pilihannya sendiri alih-alih tekanan sosial, itu juga feminis. Penanda mereka sebagai feminis terletak pada pemikirannya untuk mematahkan praktik-praktik patriarkal, di mana perempuan masih belum bebas menentukan nasibnya sendiri.

Baca juga: Catcalling pada IWD 2020: Bagaimana Seharusnya Buruh Pahami Feminisme

  1. Feminis kok beragama?

Menjadi seorang feminis dan tetap memegang ajaran agama dianggap mustahil oleh banyak feminis. Pasalnya menurut mereka, agama merupakan salah satu sumber ketidakadilan bagi perempuan. Ketika ada feminis yang beragama atau membela hak orang untuk beragama, tidak jarang mereka dicap sebagai feminis apologis.

Dalam praktik beragama, interpretasi nilai-nilai di dalamnya senantiasa dinamis. Agama yang mulanya dipandang sebagai institusi yang melanggengkan pengekangan oleh sebagian orang, justru bisa dinilai sebaliknya kemudian. Terima kasih pada orang-orang agamis sekaligus feminis yang telah membaca, kemudian menyampaikan kembali ajaran agama dengan perspektif kesetaraan gender. Gagasan mereka menegaskan bahwa menjadi seorang beriman dan adil gender bukanlah dua hal berseberangan, malah bisa berjalan berbarengan karena nilai agama dalam pembacaan mereka justru memberdayakan perempuan.

Jika agamis yang feminis bisa eksis, jangan-jangan yang keliru selama ini adalah praktik beragama yang dijalankan individu atau kelompok tertentu. Kerap kali orang yang benci agama kabur memandang hal ini.

Ada orang-orang yang merasa lebih aman dan nyaman ketika punya pegangan iman atau percaya pada konsep Tuhan, surga-neraka, atau pahala-hukuman. Ketika mereka sudah berada di posisi tersebut, masih perlukah para feminis yang tidak sepakat dengan agama mencekokkan gagasannya kepada mereka?

Bukankah untuk memeluk atau tidak memeluk agama adalah asasi?

 Baca juga: Apa Feminisme Bisa Selaras dengan Ajaran Islam?

  1. Feminis itu tidak percaya pernikahan

Sebagian feminis menilai pernikahan adalah institusi patriarkal yang menyusahkan perempuan. Anggapan suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga (seperti yang masih ada di UU Perkawinan kita), perempuan akan berada di bawah kontrol dan kepemilikan laki-laki sehingga rentan akan penindasan di lingkup domestik, menikah sama dengan legalisasi prostitusi, adalah beberapa contoh alasan mengapa menikah dianggap akan merugikan perempuan.

Kendati praktik pernikahan macam ini memang jamak ditemukan di masyarakat, bukan berarti orang-orang tidak bisa memaknai ulang pernikahan atau menjadi istri. Banyak feminis yang menikah dan merasa baik-baik saja karena mereka tidak mengamini pembagian peran gender yang tradisional.

Relasinya dengan sang pasangan dimulai dari anggapan bahwa tidak ada satu yang lebih besar dari lainnya dan keberadaan masing-masing pihak ialah untuk saling mendukung. Yang terpenting, sejak awal relasi hingga berumah tangga, ada komitmen untuk tidak merantai kaki satu sama lain. Menikah tidak diartikan sebagai saling memiliki seolah kedua pihak adalah properti, melainkan suatu kesepakatan partnership yang menghargai subjektivitas masing-masing.

Model pernikahan dan keluarga itu tidak monoton. Tiap orang punya cara masing-masing menjalankan rumah tangga yang sehat. Kalaupun kamu tidak setuju pada pernikahan, tidak berarti temanmu yang feminis dan menikah mestinya sepaham denganmu.

  1. Perjuangan perempuan tak perlu melibatkan transgender

Sebagian perempuan merasa perjuangan feminis tidak perlu melibatkan transgender. Kelompok berpemikiran macam ini dikenal dengan sebutan TERF atau trans-exclusionary radical feminist. Bagi TERF, tidak ada pengakuan bagi laki-laki yang menjadi perempuan karena sebenarnya mereka tetap laki-laki—pihak yang dianggap mengopresi perempuan. Sementara, perempuan yang mengubah identitasnya jadi laki-laki dinilai TERF sebagai korban patriarki karena mereka sampai mau mengidentifikasi diri sebagai opresor.

Karena eksistensi transgender tidak diindahkan, maka perjuangan hak-hak mereka pun tidak dihiraukan oleh kelompok ini. Padahal, sama seperti perempuan, transgender juga mengalami pelecehan dan diskriminasi oleh masyarakat, bahkan mungkin lebih kejam. Sama seperti perempuan, mereka butuh pengakuan dan penerimaan atau eksistensinya di tengah budaya patriarkal ini.

Pengabaian kelompok feminis terhadap hak transgender berarti melanggengkan pelanggaran hak asasi mereka: Hak untuk hidup aman, dapat berekspresi dengan bebas, mendapat penghidupan layak. Ini ironis jika mengingat perjuangan feminis adalah demi kesetaraan gender. Bukankah itu artinya gender mana pun perlu digandeng untuk mencapai tujuan tersebut?

Baca juga: Pengakuan Seorang Mantan Pembenci Feminis

  1. Feminis kok pro-life?

Menjunjung tinggi kredo tubuhku otoritasku adalah salah satu nilai yang dipegang erat feminis pro-choice. Bagi mereka, perempuan berhak untuk meneruskan kehamilannya atau tidak tanpa dikekang nilai-nilai moral mana pun karena dirinya sendirilah yang menanggung konsekuensi memiliki anak, secara fisik, mental, finansial, dan sebagainya. Mereka menilai, halangan untuk melakukan aborsi adalah salah satu bukti kuasa laki-laki untuk mengendalikan tubuh perempuan.

Ini tentu saja merupakan suara yang valid, namun tidak semestinya serta merta mengeksklusi perjuangan para feminis yang pro-life untuk bersuara terkait kesetaraan gender. Jika seseorang tidak setuju pada hak untuk aborsi, apa iya artinya semua gagasannya yang lain tentang kesetaraan gender lantas gugur? Bila kebebasan untuk membunuh janin dirasa tidak sesuai dengan nilai yang dipegangnya, apa iya harus memaksakan diri untuk menyetujuinya demi dianggap sebagai feminis?

Apa pun argumen yang dibangun setiap kelompok feminis ini, tujuan mereka toh serupa: Kesejahteraan perempuan. Karenanya, alih-alih berkutat dengan hal-hal yang tidak disepakati, para feminis sebaiknya berkonsentrasi pada apa saja yang sejalan seperti hak kesehatan perempuan, pendidikan seks, dan lain sebagainya.  

  1. Kalau kamu privileged secara ekonomi, omonganmu tak valid

Sering kali orang menilai bahwa untuk menjadi feminis, seseorang perlu berada di status sosial ekonomi tertentu. Karena adanya pemikiran macam ini, mereka merasa pendapat atau wacana apa pun yang diangkat oleh orang yang berprivilese secara ekonomi tidak valid atau layak diamini banyak kalangan lainnya. Berbagai solusi atau gagasan yang dilancarkan kelompok feminis berstatus sosial ekonomi tinggi dianggap sekadar sesumbar karena pengalaman atau realitas feminis tersebut berbeda dengan jelata.

“Ya jelas aja lu gampang ngomongin soal ini, orang tua lu kaya, pendidikan lu tinggi dari luar negeri pula. Mana ngerti lu pengalaman orang-orang susah kayak mereka? Mana paham mereka sama bahasa lu?”

Ketika feminis yang privileged berupaya untuk merangkul orang-orang untuk mencapai posisi setara lantas menerima ujaran macam tadi, satu pintu kesempatan tertutup. Akibatnya, jurang makin lebar: Yang woke gemas sendiri melihat ketidaksetaraan tetapi selalu dapat backlash dengan embel-embel privileged, sementara yang tertindas kian lama tidak bisa bergerak.

Padahal, jika setiap pihak bekerja sama memanfaatkan semua potensi atau kelebihan yang dia punya, gerakan perempuan bisa berjalan lebih lancar (kendati masih jauh jalan perjuangan). Tidak perlu ada yang diinvalidasi. Kalaupun mau mengkritik, sertakan pula ruang diskusi terkait solusi yang tidak dicap “omong doang”. Ini jauh lebih baik dibanding melempar tudingan lalu tidak ada aksi apa-apa.  

Baca juga: Apa yang Perlu Diketahui tentang Dasar-dasar Feminisme (1)

Poin utama dalam menjadi feminis adalah melihat setiap gender terbebaskan dalam mengambil pilihannya masing-masing, tanpa ada tuntutan dari siapa pun. Idealnya, tidak satu kelompok feminis pun yang merasa aliran atau pandangannya lebih superior dari lainnya, apalagi sampai menunjuk mereka bukan feminis hanya karena pilihan tidak sama.

Feminisme itu berjalan di atas perbedaan, bukan berdiri kukuh dengan sistem hierarki.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop