April 23, 2018
Kartini, Nasionalis yang Terlupakan

Kartini ada di baris depan kebangkitan kesadaran para nasionalis di Jawa pada masa penjajahan Belanda. Apakah ia korban dari reimajinasi Orde Baru?

by Devi Asmarani, Chief Editor
Issues // Politics and Society
Share:

Semua orang yang tumbuh besar di Indonesia dalam empat dekade terakhir mengenalnya sebagai Ibu Kartini, pahlawan emansipasi perempuan pada masa penjajahan Belanda yang ulang tahunnya, secara ironis, ditandai tiap tahun dengan pemandangan anak perempuan dan perempuan berdandan anggun, mengenakan kebaya yang membatasi gerak. Yang masih belum banyak diketahui orang adalah Kartini sebagai figur yang memiliki peran besar dalam merekam sejarah pergerakan dan sentimen nasionalis di Indonesia.

Bagi kebanyakan orang di Indonesia: Kartini adalah bangsawan Jawa yang dipingit dengan paksa pada umur 12 tahun sembari dipersiapkan untuk menikah layaknya adat ningrat pada zaman itu; yang menulis sekumpulan surat kepada orang-orang di Eropa, dipublikasi secara anumerta dan menjadi sensasi internasional; yang tidak diberi pilihan lain kecuali memasuki pernikahan poligami sebagai istri keempat dari bupati berumur dua kali lebih tua; yang membuka sekolah dasar pertama untuk perempuan pribumi; dan yang meninggal setelah melahirkan anak laki-laki satu-satunya.

Seperti banyak orang, saya selalu menganggap tradisi peringatan Hari Kartini selama sekian dekade yang dipusatkan pada ide untuk membuat siswi serta pegawai perempuan terlihat cantik dalam kebaya dan sarung sebagai hal yang absurd. Peninggalan beliau telah direduksi menjadi penampilan fisik berdasarkan foto Kartini yang kita miliki, foto yang berumur ratusan tahun.

Lagu Ibu Kita Kartini, yang biasa kita nyanyikan di sekolah, memuji beliau sebagai “putri sejati” (meskipun ia secara sadar memilih untuk menghilangkan gelarnya) dengan “besar cita-citanya”, tapi tidak disebutkan apa itu cita-citanya.

Pencapaian-pencapaian Kartini pun terlupakan—esensi dan kecanggihan ide-idenya tidak diketahui oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Mungkin Kartini adalah salah satu tokoh sejarah yang dirayakan dengan alasan yang keliru.

Apakah ia merupakan korban dari reimajinasi sejarah?

Presiden pertama Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional 50 tahun setelah kematiannya. Namun, seiring berjalannya waktu, kesuksesan rezim Orde Baru Soeharto pun mengubah gambaran radikal dan feminis intelektual Kartini menjadi lebih lembut dan lebih keibuan (alasan panggilan “ibu” untuknya), yang saat sedang tidak menjadi ibu rumah tangga menghabiskan waktu luang untuk mengajar anak perempuan di daerahnya.

Saya berbincang dengan Joost J. Coté, pria kelahiran Belanda dan ahli sejarah di Deakin University, Melbourne, yang telah meneliti Kartini selama lebih dari dua dekade. Buku Coté, The Complete Kartini adalah kompilasi pertama terjemahan karya prosa dan korespondensi lengkap Kartini yang diedit dan dianotasi.

Coté mengatakan bahwa surat-surat Kartini telah menjadi salah satu dokumentasi sejarah paling penting mengenai awal kebangkitan nasional pada titik krusial masa kolonial Indonesia.

Pada saat inilah korespondensinya dengan orang-orang penting dalam pergerakan sosialis dan feminis di Eropa, di mana dia memperlihatkan semangat nasionalisnya dalam bahasa Belanda tanpa cela, berhimpitan dan bersatu dengan agenda reformis seorang administrator kolonial untuk mengedukasi perempuan pribumi.

Sisanya, seperti yang mereka katakan, adalah sejarah.

Berikut ini adalah kutipan dari wawancara saya dengan Coté.

Magdalene: Berapa banyak surat yang sebenarnya Kartini tulis?

Coté: Kartini menulis antara 1889 dan 1904, dan surat-suratnya diterbitkan pada 1911. Penerbitan surat-suratnya dilakukan oleh J.H. Abendanon, yang merupakan Direktur Pendidikan Kolonial. Ia memilih surat-surat yang disukainya, mengeditnya, dan menerbitkan beberapa surat tersebut.

Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) hanya sebagian sangat kecil dari kumpulan surat untuk 10 orang Eropa.

Apakah ada alasan tertentu beberapa di antaranya tidak diterbitkan?

Mungkin alasannya adalah kesadaran mereka akan sejarah. Dalam kasus Stella (sahabat pena terdekat Kartini), mungkin hal itu agar tidak merusak reputasinya di masa depan. Namun  menurut saya, bahkan untuk yang telah diterbitkan, surat-surat tersebut sangat personal, sangat emosional.

Jadi mereka menyeleksi surat-surat tersebut, dan Abendanon mengedit beberapa referensi mengenai masyarakat pada masa itu karena ia tidak ingin penerbitan surat mencerminkan keburukan orang-orang tersebut. Ketika Kartini mengatakan langsung secara agresif bahwa orang-orang ini sangat buruk, Abendanon menghapusnya.

Ia menghapus, tidak seluruhnya, tapi beberapa pernyataan kuat yang berlawanan dengan tradisi Islam, kebanyakan untuk alasan-alasan politik. Terdapat banyak komentar dalam surat-suratnya mengenai tradisi Islam yang menolak edukasi perempuan: “Saya dipaksa untuk membaca Alquran meskipun saya tidak memahaminya.” Hal-hal semacam ini.

Jadi bagian-bagian tersebut diedit karena sensitivitas politik?

Abendanon mengedit dengan kesesuaian politik. Namun dalam memilih, ia mengikuti agendanya sendiri. Agenda Abendanon adalah untuk mendorong reformasi kolonial di wilayah pendidikan, dan ia menggunakan Kartini untuk memajukan agenda kolonialnya untuk edukasi. Ia berpikir bahwa lebih banyak pendidikan Barat, termasuk untuk perempuan, adalah hal yang baik. Dan menurutnya, perkataan Kartini mengenai pentingnya pendidikan akan menjadi dokumen yang baik untuk mendukung agenda kolonialnya.

Apa yang ada di balik kampanye Abendanon untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan pribumi?

Pemerintah Belanda telah memperkenalkan kebijakan etis pada 1901. Abendanon sudah ditunjuk pada tahun 1900; ia telah menetap di Jawa sejak 1875, namun ia sama sekali bukan kolonial “redneck”. Ia bukan seorang konservatif. Ia adalah pejabat tinggi hukum, tertarik pada keadilan, dan mengedit sebuah jurnal hukum; ia salah seorang pionir reformis.

Teorinya adalah orang Jawa harus memiliki pendidikan Barat. Mereka harus berkembang secara intelektual. Di atas semua itu, ia mengatakan perempuan pun harus berpendidikan karena mereka mengurus keluarga. Jika kita tidak mendidik pengurus domestik di dalam rumah, maka kita tidak akan maju. Karenanya, kita harus mendidik istri-istri dari calon pemimpin masa depan Jawa.

Apakah ia mencapai misinya?

Setelah bukunya diterbitkan pada 1913, sekolah Kartini yang pertama pun dibuka. Ada pertanyaan mengenai sekolah-sekolah Kartini, apakah sekolah-sekolah itu—yang akhirnya mencapai sekitar 30—mencerminkan Kartini atau mencerminkan Abendanon. Sekolah-sekolah itu jelas adalah sekolah-sekolah kolonial Belanda yang dirancang untuk perempuan kelas atas. Layaknya apa yang pernah Kartini utarakan, namun tidak terlalu tepat.

Agenda Abendanon dan Kartini nampak berdekatan. Perbedaannya adalah yang satu memiliki pengaruh kolonial, sedangkan yang satu lagi merupakan emansipasi nasionalis. Keduanya saling berhimpitan.

Kartini senang dan jelas-jelas mendukung ide sekolah perempuan, namun tidak dengan pandangan yang dimiliki Abendanon, yaitu semua rakyat miskin harus dikembangkan. Kartini menginginkan emansipasi Jawa. Ide mereka saling bertemu. Pendidikan Barat—yang dikatakan Kartini, dan juga Abendanon—adalah penting.

Mengapa Kartini menulis surat-surat tersebut?

Kartini mulai menulis setelah ia terlibat dalam pergerakan feminis Belanda pada 1898. Langkah untuk terlibat dalam Pergerakan Perempuan Belanda menyatakan agendanya, yaitu pertama, untuk mendidik orang Belanda mengenai orang Jawa; dan kedua, untuk mengikutsertakan kaum Belanda dalam tujuan dia, atau paling tidak, tujuan orang Jawa untuk emansipasi.

Ia menulis kepada orang-orang penting. Di satu level, ini langkah etnografis--inilah apa yang orang Jawa pikirkan; ini yang kami lakukan; inilah mengapa kami orang Jawa. Dan ada banyak pernyataan, “Kami ingin bebas”. Ada juga pernyataan-pernyataan pribadi serta aspirasi nasional.

Sangat sulit untuk membandingkannya dengan orang lain. Hanya ada sedikit sekali dokumentasi sejarah pada masanya. Namun dalam surat-surat beliau, Anda bisa melihat kata-kata seperti “orang kami”, “kami”. Sesekali, ia menggunakan kata seperti “bangsa” bahkan sebelum kata tersebut dikenal, karena pada waktu itu tidak ada konsep Indonesia. Tidak ada eksistensinya.

Jadi yang kami cari sebagai ahli sejarah nasionalisme adalah: Di mana tanda-tanda awal yang Benedict Anderson sebut komunitas terbayang atau imagined communities? Kartini adalah dokumen sejarah yang sempurna untuk mendokumentasikan munculnya komunitas terbayang.

Anda dapat melihat Kartini membayangkan masyarakat politik modern yang belum ada. Ia belum bisa membayangkan Indonesia. Ada beberapa referensi yang sering muncul, namun Anda memang belum bisa membayangkan Indonesia saat itu, kecuali dalam konteks orang-orang yang merupakan inlander. Ada pemikiran samar mengenai inlander, namun ada pemikiran yang sangat jelas mengenai Jawa. Dalam hal ini dia mendiskusikan nasionalisme orang Jawa.

Anda mengatakan beliau juga berkomunikasi dengan orang-orang Jawa intelektual lainnya.

Kami hanya memiliki surat pilihan Abendanon. Dan ia hanya meminta surat-surat dari beberapa orang penting Eropa. Kami tidak memiliki korespondensi Kartini kepada orang lain, bahkan ke saudara laki-lakinya sendiri yang memiliki minat sama dengan dia. Namun ada beberapa referensi dalam surat-surat tersebut yang cukup jelas mengindikasi bahwa dia menulis untuk kaum muda; pria muda berpendidikan Barat. Dan mereka kemungkinan, hampir bisa dipastikan, murid-murid STOVIA, sekolah kedokteran, dan OSVIA, sekolah pelatihan untuk birokrat Jawa.

Jadi pria-pria ini adalah orang Jawa berpendidikan Barat terbaik yang telah dipilih. Tirto Adisuryo dan pria nasionalis lainnya memiliki latar belakang pendidikan medis di STOVIA. Mereka adalah pria-pria muda yang memulai Boedi Oetomo (instrumen politik rakyat pada awal pergerakan pembangunan Indonesia). Dan mereka tidak hanya berasal dari Jawa. Ini benar-benar merupakan akar dari generasi baru.

Apakah ada korespondensi yang pernah muncul antara Kartini dan nasionalis-nasionalis muda ini?

Tidak, namun itu mungkin. Baru-baru ini, beberapa surat yang belum pernah dilihat sebelumnya muncul di Belanda dari keturunan terdahulu.

Tapi yang menarik dalam hal itu adalah setelah tahun 1904, dalam surat-surat saudara perempuan Kartini, terdapat referensi kepada obrolan dan tulisan mereka dengan pria-pria ini. Dan Roekmini serta Soematri (saudara-saudara perempuan Kartini) mengusulkan untuk mendirikan sebuah jaringan, sebuah organisasi kaum muda untuk membicarakan hal-hal ini – pada waktu yang bersamaan dengan keputusan murid-murid STOVIA untuk mendirikan Boedi Oetomo. Ada sebuah dokumen yang dimasukkan dalam buku lain saya, ditulis oleh para perempuan tersebut, ditandatangani oleh saudara-saudara perempuan Kartini, yang sebelumnya akan atau mungkin telah beredar melalui sebuah jaringan yang sudah ada. Ini terjadi pada 1908.

Dan ada sebuah surat dari murid-murid STOVIA untuk para saudara perempuan Kartini yang bertuliskan, “Kami akan membangun sebuah organisasi bernama Budi Oetomo, apakah kalian ingin bergabung bersama kami?”

Jadi ada keseluruhan sejarah komunikasi yang berpuncak pada 1908. Dan akhirnya mereka pun bergabung dalam Boedi Oetomo.

Peran Kartini telah didefinisikan sebagai tokoh emansipasi perempuan; peran nasionalisnya kurang dicerminkan dalam pelajaran sejarah. Apakah menurut Anda beliau kurang dihargai?

Sebagai hasil dari 30 tahun di bawah pimpinan Pak Suharto, peran signifikan yang lebih besar telah dikesampingkan dengan ibu-isme (sudut pandang yang memperuntukkan peran perempuan sebagai istri dan ibu).

Dalam skala sejarah, saya pikir posisi beliau, bahkan oleh sejarawan barat, telah diremehkan. Ada Kartini yang membicarakan tentang sekolah untuk perempuan, dan ada Kartini yang membombardir kita dengan dokumentasi sejarah yang mengungkapkan kesadaran negara serta kemunculan agenda politik pada tahun 1900, jauh sebelum Boedi Oetomo, Syarikat Islam dan sebagainya.

Jika kita ingin perannya kembali dalam sejarah, bagaimana kita seharusnya melihat beliau sekarang?

Saya cenderung kepada penekanan nasionalisme beliau, hal itu meresap kuat dan sudah diabaikan. Tema feminis beliau telah membuatnya dikesampingkan, dan saya tidak menyalahkan para feminis, saya menyalahkan ideologi Orde Baru yang mendorongnya kepada tema ke-ibuan.

Kita bisa menghidupkan kembali (maksud dari) Kartini dengan menunjukkan posisi nasionalisnya, surat-suratnya sebagai sebuah agenda untuk meyakinkan Belanda bahwa kaum Jawa memiliki arti, bahwa mereka memiliki kehendak sendiri. Bahwa mereka dapat mengatur masa depan mereka, yang kami inginkan hanyalah dukungan Anda.

Dalam istilah historiografi, ada suatu momen yang disebut sebagai “Periode Asosiasi”, saat kolonial progresif dan Jawa konservatif berpikir bahwa mereka bisa bekerja sama (sebelum akhirnya ditelantarkan oleh revolusioner kemudian hari seperti Soekarno).

Kartini berbicara dengan penuh harapan mengenai asosiasi. Bahkan sebelum kaum pria terlibat dalam asosiasi, ia mengatakan, pertama kita harus mendidik orang Belanda.

Pada 1910, kaum pria di Boedi Oetomo mengatakan, “asosiasi, asosiasi, asosiasi”. Pada 1917, Syarikat Islam di Semarang mengatakan, “Persetan dengan ini, kami memiliki program yang lebih radikal.” Pada 1928, kita memiliki lagu kebangsaan, kita memiliki bendera, dan kita memiliki agenda.

Namun Kartini berada di awal keseluruhan sejarah yang berkelanjutan ini.

Artikel ini diterjemahkan oleh Radhiyya Indra dan Najya Indra dari versi aslinya dalam Bahasa Inggris.

Devi Asmarani is a functional introvert who enjoys mild socializing and dancing to hip hop music every once in a while. She cries when wowed by a movie, a song, a book, an article, a poem, a speech, a TV commercial – basically any work of human's mind that has been exquisitely created.