August 21, 2020
Keintiman ‘Normal People’ yang Membuat Gemas

‘Normal People’ mempunyai semua bahan untuk menjadikannya salah satu tontonan terbaik tahun ini.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

Marianne Sheridan (Daisy Edgar-Jones) adalah seorang gadis dari keluarga menengah ke atas. Di sekolah, dia terkenal sebagai sosok yang kurang begitu disukai. Marianne ceplas-ceplos. Sepertinya dia tidak punya filter di kepalanya. Apa pun yang melintas di benaknya langsung ia utarakan begitu saja. Jadi kalau misalnya dia ada di kelas dan gurunya menyebutkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dia rasakan atau dia ketahui, dia akan langsung tanpa tedeng aling-aling menegur guru tersebut. Dia tidak peduli kalau mulutnya membuatnya sering mendapatkan hukuman.

Selain itu, Marianne juga rajin. Dia adalah standar anak tidak gaul, yang fokus dengan pendidikannya. Anak SMA bukanlah golongan orang yang sense-nya sudah terasah. Dan itu sebabnya hampir semua orang tidak menyukai Marianne. Marianne sendiri sepertinya juga tidak peduli dengan ini semua.

Kemudian ada Connell Waldron (Paul Mescal). Paul sangat disukai oleh banyak siswa. Bisa dikatakan Connell adalah perwakilan anak gaul. Jago bermain sepak bola, disukai banyak perempuan, dikagumi oleh teman laki-laki. Anomalinya adalah, Connell bukanlah anak gaul yang bodoh. Secara akademis Connell justru berprestasi.

Marianne dan Connell menghirup udara yang sama. Mereka papasan di lorong. Berbagi oksigen di ruang kelas. Saling tatap tanpa komunikasi di halaman sekolah. Yang orang-orang tidak tahu adalah, Marianne dan Connell bertemu lebih sering dari yang teman-teman mereka duga. Ibu Connell, Lorraine (Sarah Greene), bekerja di rumah Marianne. Setiap kali Connell menjemput ibunya, Connell dan Marianne bercakap-cakap. Basa-basi tidak penting akhirnya berlanjut menjadi sebuah ketertarikan. Ketertarikan menjadi sebuah obsesi. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memeluk obsesi menjadi sebuah komitmen.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Nonton ‘The Old Guard’

Bahkan kalau Anda tidak familier dengan novel karya Sally Rooney, konsep cinta pertama pasti bukan sesuatu yang asing buat kita semua. Dan cara serial ini menggambarkannya adalah salah satu terbaik yang pernah saya lihat. Ini terbukti dengan fakta bahwa saya menghabiskan ke-12 episode Normal People dalam tiga hari. Sebenarnya saya bisa saja menghabiskannya dalam sekali duduk. Tapi karena saya tahu bahwa ini seri sangat terbatas dan kalau saya habiskan saya tidak akan mendapatkannya lagi, maka saya memutuskan hanya menonton empat episode setiap harinya.

Disutradarai oleh Lenny Abrahamson (Room) dan Hettie Macdonald, Normal People mempunyai semua bahan untuk menjadikannya salah satu tontonan terbaik tahun ini. Akting yang gemilang dari dua tokoh utamanya (Daisy Edgar-Jones dan Paul Mescal langsung menjadi iconic couple), visual yang sangat mendukung kesenduan cerita, barisan soundtrack yang akan membuat kamu membuka Spotify begitu end credits bergulir, skrip yang mantap, dan tentu saja penyutradaraan yang baik.

Tapi ada satu aspek yang menurut saya paling menawan dan membuat saya frustrasi ketika menonton Normal People: Penggambaran intimasinya.

Intimacy coach

Oke, menonton orang bercumbu, ciuman, dan pada akhirnya berhubungan seks memang bukan barang baru. Tapi Normal People adalah salah satu tontonan yang penggambarannya tidak hanya terlihat intens tapi juga realistis tanpa terkesan porno sekali pun. Banyak sekali saya yakin tontonan yang mungkin tujuan pembuat filmnya adalah penggambaran adegan intim yang real tapi jatuhnya malah eksploitasi (I’m looking at you, Blue Is The Warmest Color). Tapi Normal People sama sekali jauh dari hal tersebut. Dan ini lumayan krusial karena banyak sekali adegan yang memerlukan kedua karakter utamanya tidak memakai baju.

Baca juga: ‘365 Days’ Terlalu Problematik untuk Dibilang Seksi

Sepanjang saya menonton saya berpikir apakah ini penyutradaraannya yang memang luar biasa jago atau memang aktornya yang terlalu oke. Kemudian saya Google dan menemukan jawabannya. Seperti kebanyakan produksi film/serial post #MeToo era, Normal People menggunakan jasa intimacy coach untuk adegan-adegan yang membuat kisah Marianne dan Connell terasa lebih real dari kebanyakan kisah cinta remaja.

Dari yang saya baca, Ita O’Brien adalah orang yang bertanggung jawab atas 41 menit total durasi adegan intim yang ada di 12 episode Normal People. Seperti layaknya head department dalam sebuah film, dia bekerja sama dengan semua kru mulai dari produser, sutradara, kamera sampai wardrobe. Dia adalah orang yang menerjemahkan adegan-adegan tersebut kepada aktor agar mereka nyaman melakukan hal-hal yang sangat pribadi tersebut.

Menurut artikel Los Angeles Times tentang cara kerja O’Brien sebagai intimacy coach, dia memulai syuting dengan komunikasi dengan sutradara. O’Brien akan bertanya bagaimana visi sutradara untuk adegan yang akan mereka ambil hari itu. Kemudian O’Brien akan menemui Daisy Edgar-Jones dan Paul Mescal dan menjelaskan adegan apa yang akan mereka ambil hari ini. Bagaimana konteks adegannya, emosi apa yang ingin disampaikan. Setelah itu O’Brien akan menghubungi wardrobe untuk memastikan bahwa mereka menutupi genital mereka sepanjang proses adegan intim tersebut. O’Brien juga akan memastikan bahwa ada bantal-bantal di lokasi untuk menghindari kontak genital para aktor. Dan semua adegan yang akan diperagakan biasanya sudah dikoreografi meskipun kadang aktor diberikan kebebasan untuk berekspresi.

Baca juga: Drama Korea ‘Sweet Munchies’ Seharusnya Bisa Ngehits, Sayangnya...

Membaca artikel tersebut membuat saya teringat pengalaman saya syuting salah satu episode webseries yang saya buat, Anjas. Di episode 21, ada adegan di mana dua karakternya berciuman yang akhirnya berakhir dengan adegan intim. Tentu saja karena ini Indonesia dan ini hanya webseries, adegannya hanya fokus di adegan make-out sebelum akhirnya cut to black. Kalau dibandingkan dengan Normal People memang sama sekali tidak ada apa-apanya tapi bukan berarti mengarahkan adegan tersebut mudah.

Meskipun kedua aktor yang saya arahkan sudah mengenal satu sama lain dan saya tidak perlu menjelaskan lebih jauh kepentingan adegan tersebut, meminta mereka untuk menunjukkan sebuah aktivitas yang pribadi di depan kamera adalah sebuah hal yang cukup susah. Apalagi menjelaskan apa yang saya inginkan kepada mereka. Pada awalnya saya meminta mereka untuk melakukan sesuai dengan insting tapi rupanya teori beda dengan praktek. Ciuman di kamar tertutup dan di depan kamera sangat berbeda. Solusi terakhirnya adalah kami (saya dan dua aktor saya) membuat sebuah koreografi agar adegan tersebut terjadi. Kapan si cowok harus memegang wajah, kapan mereka harus berhenti, kapan mereka harus lanjut.  Bayangkan jika produksi tersebut memiliki intimacy coach? Tentunya prosesnya akan jauh lebih baik dan less awkward. Dan saya yakin semua pihak akan pulang dengan perasaan lega.

Wacana menggunakan intimacy coach untuk produksi film Indonesia memang masih sangat jauh mengingat kita adalah bangsa yang memegang teguh konten-konten bermoral. Tapi saya tidak bisa tidak menulisnya karena Normal People menunjukkan bahwa keintiman jika dibuat dengan tepat akan memberikan goresan yang mendalam kepada penontonnya. Saya tahu ini karena saya yakin bukan saya saja yang menangis di akhir episodenya.

Normal People dapat disaksikan di Catchplay.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.