Women Lead
April 08, 2021

Peran Kuat Suami dan Keluarga Jadi Motif Teroris Perempuan Indonesia

Relasi dekat dengan keluarga atau pasangan berperan kuat dalam motif teroris perempuan saat ia melakukan aksinya.

by Mirra Noor Milla
Issues
Menangani perempuan yang terlibat terorisme
Share:

Dalam waktu berdekatan, terjadi serangan teroris di Jakarta dan Makassar yang melibatkan pelaku perempuan. Hal tersebut memunculkan pertanyaan di masyarakat: Mengapa perempuan memilih menjadi teroris?

Keterlibatan perempuan dalam kelompok ekstremis kekerasan bukanlah hal baru. Sejumlah kelompok ekstremis kekerasan seperti Macan Tamil di Sri Lanka dan Hamas di Palestina telah melibatkan kaum perempuan sebagai martir dalam aksi serangan bom bunuh diri.

Penelitian menjelaskan bahwa para teroris melakukan aksinya untuk menunjukkan betapa pentingnya keberadaan mereka dalam perjuangan yang dilakukan oleh kelompoknya. Mereka menganggap diri mereka berarti setelah mengorbankan diri mereka dalam aksi radikal.

Namun, pada teroris perempuan, motif mereka bersifat sangat personal.

Baca juga: Perspektif Gender Penting Namun Absen dalam Penanganan Terorisme

Penelitian yang saya lakukan sejak 2017 menunjukkan bahwa pengaruh relasi dengan orang-orang terdekat yang signifikan, lebih khusus lagi suami, bisa mendorong seorang perempuan untuk menjadi teroris.

Kisah-Kisah Perempuan Indonesia dalam Jaringan Teroris

Pada 2017, saya mewawancarai Dian Yulia Novita, perempuan yang ditangkap polisi karena dituduh terlibat dalam rencana pengeboman Istana Negara di Jakarta, Ika Puspitasari, calon pelaku bom bunuh diri yang disiapkan beraksi di luar Jawa pada 2016, dan Anggi Indah Kusuma yang pernah merencanakan pengeboman di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat, pada 2017.

Ketiga perempuan ini adalah tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang harus berpisah dengan orang-orang terdekat mereka termasuk orang tua.

Sejak lulus SMP, Dian telah pergi meninggalkan kampung halamannya di Cirebon, Jawa Barat, dan bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sejak saat itu Dian menjadi tulang punggung keluarga.

Selama menjadi TKW, Dian mengalami berbagai pembatasan sosial, dan lebih banyak menghabiskan waktunya pada masa muda untuk bekerja. Hingga pada usia 28 tahun, Dian ingin memperdalam ilmu agamanya dengan tujuan untuk memperbaiki diri, yang akhirnya membawa dirinya berkenalan dengan ideologi ISIS.

Dian berasal dari keluarga yang minim pemahaman agamanya. Menurut dia, orang tuanya masih percaya pada hal-hal yang berbau syirik. Dian bercerita kalau orang tuanya masih percaya dukun.

Hal ini sempat membuatnya gundah, hingga ia menghindari keluarganya yang semula hubungan mereka sangat dekat. Ia khawatir goyah jika masih terus berhubungan dekat dengan orang tuanya. Ia ingin mempertahankan keyakinan agamanya sampai akhir hidupnya.

Pengalaman yang mirip juga dialami oleh Ika dan Anggi, mantan TKW dari Hong Kong. Peran suami, yang juga merupakan anggota jaringan, sangat kuat dalam mempengaruhi keputusan mereka untuk mendukung ideologi terorisme.

Suami Dian, M. Nur Solihin, adalah pendukung ISIS. Dian dan suaminya berkomunikasi dan menerima uang untuk pendanaan aksi bom bunuh diri dari Bahrun Naim, salah seorang pimpinan ISIS Indonesia yang diketahui berada di Suriah.

Kisah seperti Dian terjadi juga pada Ika. Ika juga menikah dengan anggota kelompok pendukung ISIS secara online. Hingga ia ditahan oleh Densus, Ika belum pernah sekalipun bertemu dengan suaminya secara langsung.

Sementara Anggi, selama menjadi TKW, ia aktif menyebarkan propaganda ISIS di media sosial yang menyebabkan ia dideportasi pada akhir 2016. Pada 2017, Anggi ditangkap kembali oleh Densus karena merencanakan aksi bom di Jakarta dan Bandung bersama suaminya Adilatul Rahman.

Peran Pasangan Bagi Perempuan Teroris

Mengapa hubungan dengan orang terdekat bisa mendorong seorang perempuan masuk ke lorong radikalisasi?

Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih memandang penting relasi. Bagi perempuan, penghargaan terhadap dirinya sering kali bersumber dari orang-orang di sekitarnya, salah satunya suami.

Dalam perkembangan identitas dirinya, peran pasangan bagi perempuan sangat penting. Ahli Psikologi dari New York University, Amerika Serikat, Carol Gilligan menjelaskan  bahwa bahwa pembentukan identitas diri perempuan tidak dapat dipisahkan dengan laki-laki. Menurut dia, seorang perempuan cenderung terus mengalami krisis identitas sampai ia menemukan pasangan.

Hal ini menjelaskan mengapa kelompok perempuan banyak direkrut melalui jalur perkawinan. Karena pasangan adalah figur signifikan yang berperan tidak hanya memenuhi identitas diri dan kebermaknaannya sekaligus, pasangan laki-laki juga dapat berperan sebagai figur otoritas yang memberikan justifikasi ideologi untuk memenuhi kebutuhan kepastian.

Baca juga: Napi Teroris Perempuan: Perannya Disepelekan, Nasibnya Terpinggirkan di Penjara

Konteks Indonesia sebagai bangsa yang menganut budaya kolektif juga turut berpengaruh. Studi yang dilakukan penulis pada sel teroris di Indonesia menunjukkan  bahwa relasi atas dasar kepercayaan, baik pertemanan maupun persaudaraan, memainkan peranan penting dalam jejaring sel teroris.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Mirra Noor Milla adalah associate professor di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.