April 27, 2020
Kenapa ‘Portrait of a Lady on Fire’ Tak Akan Tayang di Indonesia

Ada lima alasan mengapa film “Portrait of a Lady on Fire” tidak akan tayang di Indonesia dan mengapa kita semua harus menontonnya.

by Jafar Suryomenggolo
Culture // Screen Raves
Portrait of Lady on Fire
Share:

Dirilis pertama kali di Perancis pada September 2019, Portrait de la jeune fille en feu (Portrait of a Lady on Fire) garapan sutradara Céline Sciamma langsung disambut hangat. Para kritikus kompak memujinya, dan film itu mendapatkan angka persetujuan 98 persen di Rotten Tomatoes.

Berlatar belakang akhir abad ke-18, film ini mengangkat kisah hubungan terlarang antara Héloïse (Adèle Haenel), seorang putri bangsawan, dan Marianne (Noémie Merlant), perempuan pelukis yang diminta untuk melukisnya.

Dapat dipastikan film ini akan masuk dalam deretan film asing yang dilarang tayang di Indonesia. Tapi, sama seperti film-film terlarang lainnya, film ini tetap bisa disaksikan oleh orang Indonesia. Kita semua paham berbagai cara untuk menyaksikan film ini di internet.

Berikut adalah lima alasan mengapa film ini tak akan tayang di Indonesia dan mengapa kita semua harus menontonnya.

  1. Negara tidak mendukung gerakan LGBTQ+

Hubungan yang terjadi antara Héloïse dan Marianne adalah hubungan lesbian, dan negara Indonesia tidak merestui hubungan lesbian dan berbagai bentuk ekspresi LGBTQ+ (lesbian, gay, biseksual, transgender, queer). Ada anggapan kuat bahwa masyarakat Indonesia umumnya tidak menyetujui sama sekali keberadaan LGBTQ+.  Sudah bosan pula kita dengar retorika penghakiman atas LGBTQ+ yang keluar dari mulut para pejabat negara dan tokoh agama di tanah air.

Meskipun sesungguhnya, tidak ada aturan hukum yang melarang hubungan lesbian. Juga di dalam kenyataannya, LGBTQ+ punya sejarah panjang di tanah air. Keberadaan mereka punya arti penting di dalam masyarakat yang mengaku majemuk dan beragam. Terutama pula, dalam sebuah negara yang mengaku demokratis dan bercita-cita menjadi negara maju.  

Baca juga: 5 Penulis Perempuan Perancis dengan Novel Bertema Perempuan Queer

  1. Film ini termasuk porno-aksi

Film ini tidak ragu menggambarkan hubungan antara Héloïse dan Marianne secara intim dan saksama. Selain tatapan mata, ada beberapa adegan persetubuhan antara kedua tokoh perempuan tersebut. Tentu termasuk juga, gambar keduanya tanpa busana. Ada juga adegan melukis potret diri dengan menaruh cermin bersandar pada vagina.  

Sebagaimana kita tahu, banyak pejabat kita bermuka dua. Di hadapan publik, mereka alergi terhadap tubuh perempuan. Bukankah kasus Tara Basro adalah indikasi yang jelas perihal ini? 

Dalam sejarahnya, tubuh telanjang bukan hal tabu di banyak kebudayaan Nusantara. Ada banyak catatan sejarah tentang keragaman budaya kita yang tidak alergi dengan tubuh telanjang perempuan. Memandang tubuh telanjang semata-mata sebagai perilaku seks bebas adalah pandangan yang picik. 

  1. Susahnya aborsi yang aman di Indonesia

Selain kisah utama tentang hubungan dua perempuan tersebut, film ini juga menggambarkan praktik aborsi. Aborsi pada abad ke-18 di Perancis adalah ilegal dan mesti dilakukan sembunyi-sembunyi. Hal yang sama juga masih terjadi di Indonesia pada abad ke-21 ini. Sebagian besar kasus aborsi dilakukan sembunyi-sembunyi dan tidak aman. Meskipun sesungguhnya, aborsi aman adalah keharusan dalam menekan angka kematian perempuan/ibu.

Di Perancis, hak atas aborsi telah diakui sejak 1975. Ini mendorong perubahan hukum di banyak negara Eropa lainnya. Terakhir, di Irlandia sejak 2019. Indonesia masih jauh dari memberi perempuan jaminan hak atas aborsi. Sudah saatnya kita mendorong perubahan hukum di Indonesia. Daripada sibuk membahas RUU Cipta Kerja dan RUU Ketahanan Keluarga, lebih baik pemerintah dan parlemen kita membahas pentingnya jaminan hak atas aborsi aman.

Baca juga: 10 Film dan Serial TV Bertema LGBT yang Wajib Ditonton

  1. Perempuan sebagai tokoh utama

Selain dua tokoh utama, ada seorang tokoh perempuan lain, yaitu pembantu yang bernama Sophie (Luàna Bajrami). Memang, semua tokoh di dalam film ini adalah perempuan dan mereka memiliki nama sendiri, tanpa nama keluarga yang melambangkan patriarki.

Sementara tokoh pria hanya berperan sebagai pengayuh kapal dan pengangkut barang. Peran mereka hanya sebatas fisik dan mereka juga tidak bernama.

Bagi sejumlah orang Indonesia, hal ini menyalahi kodrat. Mereka tidak akan bisa menerima tokoh pria tidak punya peran utama dan bahkan tidak punya nama di dalam film. Karena itu, penting melarang penayangan film ini untuk melestarikan nilai-nilai budaya patriarki. Dalam kenyataannya, kita semua punya pengalaman langsung akan perempuan-perempuan mandiri dan berpendirian.

  1. Film ini kampanye anarkisme

Tidak ada negara dan pejabat negara di dalam film ini. Bahkan kedua entitas tersebut tidak disinggung sama sekali. Seakan-akan tidak diperlukan dan tidak punya arti apa-apa.

Selain itu, satu lagu utama film ini punya arti yang dalam. Yaitu lagu saat para tokoh perempuan berkumpul mengelilingi api unggun

Syair lagu tersebut dalam bahasa Latin, “fugere no possum”, berarti datang untuk terbang. Sciamma mengatakan bahwa syair tersebut adalah adaptasi dari kalimat yang disusun oleh Friedrich Nietzche, yang menulis bahwa, “Semakin tinggi kami melambung, semakin kecil kami terlihat bagi mereka yang tidak bisa terbang.”

Seakan-akan syair lagu ini menyampaikan pesan bahwa para perempuan yang berkumpul dan bersatu akan mampu menggapai cita-cita pembebasan mereka, dan mereka tidak memerlukan negara sama sekali untuk dapat melakukan hal tersebut. 

Jafar Suryomenggolo adalah penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019).