March, 24 2017
Kisah Teman-teman Saya, Pria Gay yang Menikah dengan Perempuan

Jangan salahkan pria-pria gay yang menutupi homoseksualitas mereka dan menikahi perempuan heteroseksual. Seringkali pilihannya adalah antara menikah dan dibuang keluarga, atau menghadapi kekerasan fisik dan psikologis, menurut penulis ini.

by Jeffry
Issues // Politics and Society
Share:
Pada sebuah acara makan malam bersama beberapa teman, baru-baru ini, seorang teman sebut saja “Gatot” dengan nada panik meminta kami yang sedang asyik bercakap untuk diam sejenak saat hendak menerima panggilan telepon dari anak lelaki remajanya.
 
“Tolong diam sebentar, cong!” teriaknya dalam gaya “melambai” ala binan. Cong adalah kependekan dari bencong, bahasa slang untuk menyebut pria banci atau waria yang di masyarakat umum digunakan untuk mewakili pria gay pada umumnya.
 
Jari tengahnya melengkung dengan anggunnya saat menekan ponsel. Dalam sekejap ia mampu merubah dirinya dari seseorang yang selama ini kami kenal flamboyan dan laki-laki yang feminin menjadi seorang makhluk Tuhan yang sama sekali berbeda.
 
Tubuh (dan jemarinya) menjadi tegap, nada suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya. Ia menjelma menjadi seorang yang perkasa, ayah yang tegar untuk anaknya. Jika saya menjadi anaknya, pasti saya tidak punya nyali untuk menjawab atau melawan perkataannya. Ia layak mendapat Oscar untuk ini. Setelah beberapa menit berbicara di telepon, dengan mudahnya ia berubah kembali menjadi sosok sebelum bicara di telepon dan gaya yang lebih mirip waria daripada seorang pria perkasa.
 
Gatot telah hidup sebagai bunglon. Di rumah, ia adalah ayah yang tegas, suami yang dicintai istrinya, dan menjadi ketua di lingkungan rumahnya (walaupun siapa tahu, mungkin saja ia menggunakan gaun sang istri saat ia sendirian di rumah). Di luar lingkungan sosialnya, saat bersama kami para gay, ia kembali menjadi dirinya sendiri.
 


Tetapi seperti pepatah yang mengatakan, sebaik-baik tupai melompat akan jatuh ke tanah juga. Setelah bertahun-tahun menikah, sang istri akhirnya mengetahui perselingkuhannya dengan sejumlah pria, meskipun kemampuannya sebagai laki-laki (termasuk di tempat tidur) untuk menutupi identitasnya sebagai homoseksual, tidak diragukan lagi.
 
Gatot meminta maaf kepada istrinya dan menyatakan bahwa ia tidak bisa membunuh hasratnya mencintai sesama laki-laki. Ia pasrah jika sang istri menceraikannya.
 
Yang mengejutkan, sang istri malah memintanya untuk tetap menjadi suami dan ayah bagi tiga anak mereka. Ia mencintai sang suami dan akan menerima suaminya apa adanya. Sang ibu mertua, yang tinggal bersama mereka pun menyatakan hal yang sama, menurutnya dari ke tujuh menantunya, Gatotlah yang terbaik. Bahkan ia menyatakan Gatot lebih baik dari anak-anak kandungnya (Gatot mengakui bahwa ia selalu menghormati ibu mertuanya dan jarang membuka percakapan dengan sang mertua, karena ia khawatir pembicaraan akan membuka identitas aslinya.)
 
Pernikahan pun berjalan seperti sebelumnya. Tahun lalu, pasangan ini dikaruniai anak keempat,  sang istri merasa rumah mereka menjadi sepi setelah ketiga anak tidak tinggal bersama mereka untuk menuntut ilmu di sekolah asrama.
 
Sang istri hanya meminta satu syarat, Gatot harus bersikap layaknya lelaki tulen di depan anak-anak mereka untuk menghindari kebingungan. Syarat ini nyatanya cukup menantang, misalnya saat anak-anaknya yang sudah mulai beranjak remaja mulai merasa ada yang salah dengan sang ayah yang menggemari warna pink atau saat melihat foto-foto sang ayah dalam busana yang stylish di akun Facebooknya.
 
Pernikahan gay dengan seorang heteroseksual sepertinya semakin umum dari yang kita kira. Ini adalah produk dari budaya anti-gay yang sejak lama bercokol di masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai tradisional dan agama dimana seorang pria dewasa yang memilih tetap sendiri dipandang sebagai tidak normal dan berdosa.
 
Di masyarakat seperti Indonesia, bahkan seorang lelaki gay yang tangguh pun akan kesulitan untuk hidup karena homoseksual tidak memiiliki hak dalam keluarga yang mengutuk orientasi seksual mereka.
 
Saat seorang laki-laki memasuki usia 30-40an keluarga mereka mulai bertanya bahkan mendesak untuk segera menikah. Banyak laki-laki gay yang akhirnya menyerah pada tekanan hanya untuk mendapat status menikah agar terhindar dari konsekuensinya seperti tidak diakui, dibuang atau disakiti secara fisik dan mental.
 
Kembali ke makan malam kami, tiga orang sudah bercerai atau sedang dalam proses perceraian. Salah satu mantan istri mereka yang merasa sangat tersakiti membalas perlakuan mantan suaminya dengan membuat pengumuman di akun Facebooknya bahwa ia telah ditipu oleh suaminya yang ternyata gay. Satu orang lagi tetap menjalani pernikahan dengan seorang perempuan untuk alasan finansial dan satu lagi tetap bertahan dalam pernikahan yang rapuh demi anak-anak mereka yang masih kecil dan karena khawatir akan kehilangan status sosial.
 
Di antara mereka, hanya sayalah yang belum pernah menjalani pernikahan dengan seorang perempuan, walaupun saya pernah dilamar oleh dua orang perempuan yang luar biasa, berpendidikan tinggi dan mengetahui orientasi seksual saya. Salah satu dari mereka mengatakan, ia akan menikah dengan saya dengan beberapa syarat sementara yang satu lagi bersedia menerima saya apa adanya, tanpa syarat. Tetapi saya tetap memilih hidup sendiri dengan segala konsekuensinya.
 
Keduanya tetap menjadi teman baik saya hingga saat ini dan satu dari mereka telah menikah dengan seorang pria yang baik, yang masih sering mengantar istri dan anak perempuannya untuk makan malam bersama saya. Bagi sang anak saya adalah paman terbaik untuknya. Cita-citanya adalah ia ingin diwawancarai oleh saya di depan kamera TV.
 
Dengan teman-teman perempuan yang menyenangkan dan anak perempuan seperti ini, saya pikir saya tidak butuh seorang istri dan anak-anak.
 
Setidaknya, untuk saat ini. 
 
Jeffry senang bepergian sendirian atau bersama teman-teman, ketika dia sedang tidak menulis, menerjemahkan atau karaoke. Ia masih kesulitan meluangkan waktu untuk menyelesaikan novel pertamanya.
 
Artikel ini diterjemahkan dari versi aslinya dalam Bahasa Inggris oleh Lenita Sulthani.