July 08, 2020
Klitoris adalah Penis yang Tak Tumbuh dan Mitos-mitos Lain Soal Vagina

Dari mulai vagina harus keset sampai klitoris adalah penis yang tak tumbuh, banyak mitos yang muncul soal vagina.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
Sex Education Pendidikan Seks_KarinaTungari
Share:

“Bun, apa benar cebok pake odol bisa bikin vagina keset?”

Pertanyaan tersebut muncul dalam sebuah grup Facebook beranggotakan ribuan orang yang berisi curhat para istri. Saya pikir semua orang akan merespons dengan bilang bahwa itu mitos dan selain efek panas dari odol, tidak ada lagi manfaatnya buat genital kita. Berbahaya sih bisa jadi. Tapi ternyata cukup banyak yang membenarkan dan masih mempraktikkan hal itu. Katanya itu “resep turun temurun” biar vagina makin keset dan singset.

Soal vagina keset juga, itu adalah mitos yang masih dipercaya perempuan hingga saat ini. Langkanya pendidikan seks yang baik dan benar, dan bagaimana seks masih jadi hal tabu, membuat banyak perempuan gagal paham dengan tubuhnya sendiri. Alhasil banyak salah kaprah tentang bagaimana merawat organ reproduksi, padahal vagina merupakan organ reproduksi yang sangat sensitif dan gampang terkena bakteri.

Menurut Mitra Kardiasih, bidan sekaligus aktivis yang terlibat dalam lembaga yang berfokus pada isu kesehatan reproduksi dan seksualitas, mitos-mitos soal vagina memang masih terus hidup di masyarakat, bahkan tetap dipercaya ketika perempuan sudah menikah sekalipun.

“Anggapan vagina harus kesat misalnya itu sudah hidup di masyarakat sejak dulu. Padahal secara ilmiah vagina mempunyai cairannya sendiri sehingga ketika vagina itu kesat justru lebih berbahaya,” ujarnya kepada Magdalene.

“Belum lagi menggunakan sesuatu yang tidak seharusnya seperti odol, yang jelas-jelas digunakan untuk membersihkan gigi, bahaya itu,” ujar Mitra.

Baca juga: Kenapa Perempuan Ingin Vagina Rapet?

Berikut beberapa mitos soal vagina yang sering kali masih dipercaya:

1. Vagina harus wangi

Bau vagina sering kali diasosiasikan dengan sesuatu yang amis dan menyengat, seperti terasi, kepiting, atau ikan asin. Hal ini kemudian memunculkan kepercayaan bahwa vagina harus dibuat wangi dengan cara dicebok daun sirih, sampai ratus alias diuap dengan uap wangi. Produk pewangi “bagian intim” perempuan pun marak dijual, sampai aktris Gwyneth Paltrow pun mengkapitalisasinya lewat bisnis dia, Goop.

Padahal, kata Mitra, tuntutan yang mengharuskan vagina wangi merupakan mitos.

“Kalau masalah bau, vagina itu sebetulnya punya aromanya sendiri. Jadinya enggak perlu kita khawatir kok vagina kita bau, akhirnya usaha buat bikin wangi. Yang perlu diwaspadai itu kalau baunya menyengat sekali seperti bau busuk. Takutnya terjadi infeksi jamur maupun bakteri. Kalau sudah begitu periksakan ke dokter,” ujar Mitra.

2. Keputihan itu aib

Munculnya cairan dari vagina atau keputihan sering dianggap sebagai aib. Perempuan jarang mau menceritakan tentang keputihan yang dialaminya. Menurut Mitra, keputihan justru proses yang baik untuk vagina, karena merupakan proses alami vagina untuk melindungi organ dari bakteri dan infeksi. Selama keputihan itu terjadi secara normal maka itu bukan aib yang perlu ditutupi.

“Jadi selama bersih, tidak berbau, tidak menyebabkan gatel-gatel, panas, atau ketidaknyamanan itu sebenarnya keputihan yang wajar. Keputihan sering dianggap aib mungkin saat terjadinya berlebihan contohnya celana dalam sampai basah, itu patut dicurigai. Apalagi kalau keputihannya warna hijau itu bisa jadi karena jamur. Nah, itu perlu konsultasi dengan dokter,” ujar Mitra.

Baca juga: Kisah Menstruasi Pertama: Siklus Ketidaktahuan Menahun

3. Klitoris merupakan penis yang “enggak jadi”

Beberapa waktu lalu sempat viral di Twitter teori konspirasi tentang klitoris yang mirip dengan penis namun tidak tumbuh. Mitos tersebut banyak dipakai untuk memunculkan narasi bahwa perempuan memang kelas kedua, karena semua makhluk adalah laki-laki, hanya ada yang jadi penis dan ada yang jadi klitoris. Kepercayaan ini juga muncul di Afrika, dan dibahas dalam novel Alice Walker, Possessing the Secret of Joy (1992), yang membahas tentang mutilasi genital perempuan (FGM).

Mitra mengatakan teori konspirasi tersebut cukup menyita perhatian dunia kesehatan, sampai sudah ada jurnal yang membantah mitos tersebut.

“Klitoris dengan penis ya jelas dua hal yang berbeda. Itu kan permasalahan orang berteori aja. Kalau pun misalnya kasus interseks atau hermafrodit di mana seseorang punya dua kelamin ya itu tetap berbeda, bukan berarti klitoris jadi penis. Intinya dua-duanya punya pusat seksual tetapi bentuknya berbeda,” ujar Mitra.

4. Vagina harus putih

Ini lagi, nih. Tidak hanya muka dan dan tangan, bahkan kulit selangkangan dan genital perempuan pun diharapkan putih cemerlang. Ini mungkin akibat kolonialisme plus pelajaran seks yang didapat dari menonton video porno. Mitra mengatakan penggambaran tubuh laki-laki dan perempuan di video porno adalah tubuh yang surealis seperti kulit putih mulus, badan atletik, dan vagina yang putih bersih, padahal kenyataannya warna vagina yang menghitam ada alasannya dan normal.

“Kita selalu belajar tentang seks atau anatomi tubuh itu dari video porno. Kita diperlihatkan sesuatu yang bersih dan putih, jadinya orang berpikir itu sesuatu yang normal. Jadinya ketika vagina atau selangkangan hitam itu dianggap salah,” ujarnya.

“Padahal itu sesuatu yang hormonal. Kulit manusia itu beragam, punya bentuk dan lapisan yang berbeda-beda. Setiap perempuan punya kekhasan sendiri. Selama warna itu tidak dibarengi dengan misalnya bengkak, benjolan, keluar darah, itu masih normal,” ujar Mitra.

5. Vagina tidak boleh lembap 

Keluhan tentang vagina yang basah dan lembap jamak ditemukan. Lebih menyebalkan lagi jika laki-laki yang tidak mengerti tentang proses alami vagina dalam membersihkan organ dalam, sehingga kondisi vagina sering kali diejek dengan sebutan “becek” atau “ banjir”. Padahal vagina yang lembap justru lebih sehat serta bersih. Fungsi cairan di vagina akan sangat terasa penting ketika sudah memasuki usia menopause, misalnya, saat cairan produksi di vagina akan berkurang, sehingga perlu bantuan lubricant agar menjaga PH Vagina tetap seimbang.

“Bahkan harusnya enggak usah pakai yang aneh-aneh saat bersihkan vagina, yang penting airnya bersih,” ujar Mitra.

6. Mengonsumsi makanan tertentu bisa bikin vagina wangi

Ginekolog dari AS, Jen Gunter, dalam bukunya The Vagina Bible sangat menekankan tentang mitos bahwa makanan tertentu bisa membuat vagina wangi. Menurut Gunter, jenis makanan apa pun tidak bisa memengaruhi bakteri jahat yang ada di vagina.

“Tidak ada hubungannya dengan makanan sama sekali. Makanan tidak dapat membunuh, mengubah atau membuat bakteri berkembang biak dengan cara apa pun. Kembali lagi, yang membuat vagina bau tidak sedap itu karena tidak bersih, atau karena infeksi,” kata Mitra.

“Makanan bisa meningkatkan imunitas tubuh, nah, itu bisa membantu penyembuhan infeksi di vagina, tapi enggak bikin vagina wangi. Terkadang celana jins itu suka dicucinya jarang, kadang-kadang di dalamnya ada jamur, tanpa disadari jadinya lembap dan membuat vagina berbau,” ujarnya.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.