August 16, 2019
Kenapa Perempuan Ingin Vagina Rapet?

Menjadikan vagina rapet sebagai tolok ukur kualitas seorang perempuan adalah absurd.

by Wulan Dwi Agustina
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Beberapa hari lalu di lini masa saya sempat muncul poster sebuah acara diskusi bertema “Vagina Perempuan Milik Siapa?”, yang membahas soal vagina rejuvenation alias “peremajaan vagina”. Tertarik, kemudian saya membaca artikel kesehatan maupun kecantikan terkait ini. Beberapa membahasnya sebagai “upaya ngerapetin yang longgar.”

Seandainya saya punya uang, saya enggak tertarik untuk menghabiskannya buat ngerapetin vagina. Alasannya jelas, kualitas perempuan tidak diukur dari rapet enggaknya vagina. Menjadikan vagina rapet atau tidak sebagai tolok ukur kualitas seorang perempuan adalah hal yang menurut saya enggak masuk akal, bahkan tolol.

Sama halnya ketika kamu menjadikan seberapa sering penis “dipakai” sebagai tolok ukur kualitas seorang lelaki. Entah semakin sering dipakai maka lelaki itu semakin berkualitas, atau semakin jarang penisnya dipakai maka semakin berkualitaslah lelaki pemilik penis tersebut. Kamu enggak akan tahu karena toh bentuknya ya begitu-begitu saja.

Akan berbeda ketika kualitas seorang perempuan dinilai “di luar” dari rapet atau longgarnya vaginanya, misalnya dari otak, pengetahuan, kreativitas, pemahaman, atau sisi revolusionernya. Kita ambil contoh Simone De Beauvoir , Khadijah Binti Khuwailid, Kartini, Fatimah Mernisi, juga Susi Pudjiastuti, yang kita tahu bagaimana sumbangsih mereka bagi peradaban.

Tetapi kenyataannya, tren ngerapetin vagina rupanya booming di kalangan perempuan berduit (karena upaya semacam itu tentu membutuhkan duit yang tidak sesedikit ketika kamu mau beli hape Cina), dan tentunya mereka yang sudah merasa vaginanya enggak rapet. Dewi Persik (Depe) misalnya, penyanyi dangdut ibukota pemilik goyang patah-patah ini pernah dengan gamblang menyatakan di media bahwa ia sudah melakukan operasi pada vaginanya supaya kembali “perawan”.

Depe mengungkapkan, upaya operasi vagina tersebut ia lakukan karena ia ingin memberi sesuatu yang indah kepada suaminya kelak.

Baca juga: Tidak Perawan Lagi Berarti Rusak?

“Meski statusku janda, aku masih akan tetap perawan pada saatnya nanti,” ucap Depe.

Pernyataan Depe semacam itu tentu membuat saya sebagai cah cinta yang revolusioner ingin mengajukan pertanyaan kepadanya, “Mbak Depe, apakah keindahan dalam cinta (pernikahan) hanya sebatas kemaluan yang masih rapet? Apakah cinta sesempit itu?”.

Dari pernyataan Depe tersebut, saya jadi semakin tahu kalau peremajaan vagina rupanya bukan hanya dilakukan oleh mereka yang punya duit tumpeh-tumpeh tapi itu juga karena konstruksi sosial. Dalam masyarakat kita, perempuan masih jadi the second sex. Sebagai sosok yang liyan, sebagai objek. Objek seksual dari laki-laki. Aktivitas peremajaan vagina tersebut rupanya dilakukan demi menyenangkan laki- laki.

Ketika kita mengamini bahwa kualitas seorang perempuan hanya dilihat dari rapet atau tidaknya vagina, secara tidak langsung kita menyetujui bahwa kita sebagai perempuan hanyalah objek seksual. Bahwa kualitas kita sebagai perempuan hanya dilihat dari sisi ke- vagina-an nya saja. “Kalau vagina lu rapet dan suami lu bahagia, perkawinan lu sukses, lu perempuan yang sukses”. Begitu? Bung Ali De Mojok mungkin bisa menjawabnya dengan quotes di malam Minggu nanti.

Barangkali saya tidak akan merasa terlalu sebal dengan peremajaan vagina jika itu adalah upaya penghargaan terhadap diri sendiri. Seperti halnya ketika kita makan, mandi, baca buku, sekolah tinggi. Tapi kalau alasannya demi bikin lelaki menikmati keindahan “rapet-nya vagina” seperti yang dilontarkan Mbak Depe, saya kan jadi sebal. Sekali lagi saya mau bilang, “Kualitas perempuan tidak diukur dari longgar atau rapet-nya vagina”. Sama halnya cinta, ukurannya bukan rapet-longgarnya vagina, ukurannya… kamu, beb.

Wulan Dwi Agustina adalah seorang perempuan penyuka kopi yang menikmati hidupnya dengan bebas dan berani.