March 17, 2020
Krisis Corona, Warga Penjara Butuh Perhatian Mendesak

Kondisi di penjara membuat risiko gangguan kesehatan fisik dan mental meningkat, bahkan sebelum virus Corona menyebar.

by Dewi Nova
Issues
Share:

Beberapa waktu lalu, saya makan malam dengan kawan yang baru keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) laki-laki di sebuah provinsi.

“Bagaimana makan dan tidur semalam?” tanya saya.

“Bagi orang yang baru ke luar dari LP, aku hanya bisa bilang makanan enak semua, tempat tidur nyaman semua,” jawabnya. 

Perbincangan berlanjut dengan pengalaman hari-hari dia di dalam penjara. Antara lain tentang “air mukjizat” yang dia dan ratusan warga binaan lainnya minum setiap hari. Pihak penjara tidak menyediakan air minum yang sudah dimasak, sehingga mereka minum air mentah dari mata air yang ada di dalam LP.

“Bila aku tidak terkena diare atau sakit lainnya, berarti air itu, air mukjizat,” kawan saya berkelakar.

Tapi saya melihat garis keperihan di dalam tatapannya. Makan dan minum adalah salah satu cara untuk bertahan hidup di dalam penjara, tapi makanan dan minuman yang warga binaan terima jauh dari memenuhi standar kesehatan. Artinya, apa yang mereka makan dan minum juga bisa menurunkan derajat kesehatan mereka.

Kawan saya juga berencana untuk memulihkan kesehatan otot dan tulangnya. Ia ditahan di dalam LP yang jumlah penghuninya melampaui kapasitas ruang yang tersedia, masalah yang umum di penjara-penjara di negara ini. Setiap jam tidur, semua warga binaan berjejer tanpa jarak, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan badan dengan leluasa. Kondisi itu dijalani setiap hari oleh mereka, sesuai lama waktu penahanan yang diputuskan pengadilan. Bayangkan dampaknya pada tubuh mereka yang harus mendekam 20 tahun atau seumur hidup.

Dalam kondisi jumlah penghuni melampaui ruang yang tersedia, banyak hal yang mengganggu kesehatan mental dapat terjadi. Kawan saya menghadapi ketegangan antara penghuni bahkan kekerasan di depan mata. Ia harus menemukan cara-cara cerdik untuk menghindar dari ketegangan dan memulihkan rasa kemanusiaannya yang sering kali dirobek-robek oleh peristiwa harian yang ia saksikan.

Waktu saya menanyakan cara LP memberikan pelayanan kesehatan, kawan saya menuturkan, “Alokasi dananya 150 perak untuk setiap  tahanan, itu saat kutanya kepada petugas. Cukup buat apa?” Karena itu, apa pun sakit yang para tahanan alami, baik demam atau luka akibat perkelahian, mereka hanya mendapat antibiotik.

Bagi warga binaan yang mendapat perhatian dari keluarga, sahabat dan kerabatnya, beberapa kesulitan dapat teratasi, seperti sesekali mendapatkan kiriman makanan yang sehat dan obat-obatan yang memadai. Tetapi itu bukan keadaan warga binaan pada umumnya. Itu pengecualian, privilese yang hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil dari mereka.

Baca juga: ICJR: Pemerintah Harus Siapkan Protokol COVID-19 di Penjara

Penyebaran virus Corona (COVID-19) yang menjadi perhatian dunia saat ini mengingatkan saya kembali pada cerita kawan saya. Bersyukur hari ini ia sudah ke luar dari LP jadi ia bisa mengelola dirinya untuk menekan risiko tertular Corona. Tapi bagaimana dengan kawan-kawannya yang masih menjalani tahanan?

Bagaimana keadaan ribuan tahanan—perempuan, laki-laki, anak-anak, dan bayi-bayi—yang tersebar di LP dan Rumah Tahanan (Rutan) di tanah air? Beberapa tempat penahanan kondisinya lebih baik dari kondisi LP tempat kawan saya ini. Tapi dalam memikirkan  keselamatan publik, kita mesti berangkat dari keadaan terburuk, agar sebisa mungkin tidak ada manusia yang tertinggal atau dilupakan untuk diselamatkan kemanusiaannya.    

Bila menyimak tuturan kawan saya ini, ada beberapa kondisi yang membuat ketahanan kesehatan mereka berisiko menurun, bahkan sebelum virus Corona menyebar. Makanan dan minuman yang tidak memenuhi standar kebersihan dan kesehatan tadi. Padatnya populasi yang berisiko saling menularkan penyakit, akibat tidur tanpa jarak, penggunaan toilet, dan kamar mandi yang juga kelebihan pengguna. Juga peristiwa-peristiwa di luar kemanusiaan yang memperburuk kesehatan mental. Dengan kata lain, mereka ada dalam kondisi kesehatan yang rentan untuk tertular Corona. Virus Corona yang sudah bermutasi menjadikan tubuh manusia untuk ruang hidup dan berkembang, mendapatkan lahan yang kondusif menular. Apalagi dengan pelayanan kesehatan yang rendah.

Karena itu PBB mendesak  pemerintah Iran dan Korea Utara untuk membebaskan sementara tahanan politik. Pemerintah Iran telah membebaskan 54.000 tahanan sejauh ini. Para tahanan ini dibebaskan setelah dinyatakan negatif virus dan membayar uang jaminan. Mereka yang dibebaskan sejauh ini adalah yang masa kurungannya kurang dari lima tahun.

Kita masih belum tahu apa kebijakan negara terhadap para warga binaan di penjara. Ragam upaya pencegahan penyebaran virus Corona perlu segera dipikirkan bersama, misalnya menyeleksi kondisi kesehatan tamu yang menjenguk ke tempat tahanan serta kondisi warga binaan yang akan menemui tamunya, atau menutup sementara kunjungan tamu. Namun hal ini berisiko meningkatkan gangguan kesehatan mental warga binaan karena hal itu mengurangi dukungan mental untuk mereka.

Baca juga: Surat dari Penjara: Duniaku 1.200 Meter Persegi

Lalu perlu dipikirkan kebersihan para warga binaan, mengingat mereka tidak hanya menggunakan toilet bersama-sama, dan jumlah pengguna sangat jauh melebihi kapasitas. Apa yang perlu dipikirkan negara ketika seperti kisah kawan saya, jangankan jaga jarak 1 meter antar tahanan, dalam tidur pun mereka tak bisa menggerakkan badan?  

Beberapa hari lalu, saya berpapasan dengan Erina Elopere di toilet sekitar ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tahanan kasus tuduhan makar di Papua itu sedang menjalani proses persidangan dan ditahan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Hari itu ia tampak sehat dan bersemangat menjalani proses persidangan. 

Pikiran saya menerawang pada warga binaan perempuan yang karena kondisi gendernya, akan mengalami kesulitan berlipat menghadapi wabah Corona ini. Bagaimana dengan tahanan perempuan yang sedang hamil dan melahirkan? Bagaimana dengan tahanan perempuan yang membawa bayi mereka di dalam  tempat penahanan?

Kita butuh mendesak negara dan mengajak masyarakat untuk memalingkan muka ke penjara, dari kelas terbaik hingga kelas yang terburuk perlindungan haknya. Negara dan kita juga perlu melihat lebih peka pada warga binaan perempuan yang dikungkung peran gender selain pemenjaraan itu sendiri, sehingga mereka membutuhkan perhatian lebih dari tahanan laki-laki untuk terhindar dari penjara Corona.

Saya ingin melihat Erina tetap  sehat dan bersemangat menjalani proses peradilan dan penahanan. Saya berharap martabat kemanusiaannya dihormati, termasuk diselamatkan dari wabah Corona. Keinginan itu tidak hanya untuk Erina, tapi juga untuk setiap tahanan perempuan, laki-laki, anak-anak dan bayi di tempat-tempat penahanan di tanah air.

Mari dengan ragam kemampuan, hak istimewa kita untuk mendesak negara, kita berinisiatif untuk mendesak pemerintah agar segera mempercepat pencegahan-penyelamatan kawan sebangsa yang sedang dibatasi kemerdekaannya. Mari bebaskan mereka dari penjara Corona! 

Dewi Nova adalah penulis buku ‘Perempuan Kopi’.