November 22, 2017
Laki-laki Juga Dirugikan oleh Patriarki

Patriarki menjadi alat penekan untuk laki-laki agar lebih unggul secara finansial.

by Pritta Damanik
Issues // Politics and Society
Share:
Suatu sore di kota kecil di Nusa Tenggara Timur, sepulang menikmati keindahan pantai di akhir pekan, saya dan seorang teman laki-laki berdiskusi di mengenai investasi dan hobi. Sebagai pekerja entry level, kami sedang dalam tahap belajar berinvestasi untuk masa depan. Sempat menyebut beberapa produk investasi dan akhirnya terbitlah ucapan mengenai rumah. Teman mengatakan bahwa sudah saatnya dia berpikir untuk mulai mengumpulkan uang muka rumah selayaknya seorang lelaki harus memikirkan persiapan rumah jika nanti menikah. Sempat terucap olehnya bahwa: “Lo sih enak bisa habisin duit buat biayain hobi diving, enggak usah mikirin beli rumah”. 

Saya tidak langsung merespons dengan marah layaknya seorang feminis radikal. Saya mencoba memancingnya untuk berpikir: “Sadarkah kita bahwa hal tersebut merupakan tuntutan sosial yang diciptakan oleh masyarakat sendiri padahal laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja?”.

Kemudian dia juga mengungkapkan hal yang sama.  Mengapa laki-laki seolah-olah mendapatkan tekanan lebih secara ekonomi dan posisi kekuasaan. Saya kemudian memperkenalkan istilah patriarki yang menghasilkan tekanan aneh tersebut dan lihatlah bahwa patriarki tak melulu merugikan perempuan sebagai pihak yang diklaim inferior, nyatanya kaum superior pun merasakan hal yang sama. Mengenai rumah, siapa pun berhak untuk mempunyai rumah selaku bagian dari kebutuhan primer manusia bukan karena jenis kelaminnya. Setiap manusia tentunya ingin memiliki tempat tinggal dan sampai hari ini saya belum pernah menemukan brosur kredit rumah yang menuliskan syarat “Pemilik harus laki-laki”.

Sesungguhnya patriarki menjadi alat penekan bagi para laki-laki lajang yang juga masih berjuang untuk membayar sewa kamar, tagihan kartu kredit, cicilan motor, makan, dan nongkrong akhir pekan, ditambah pula dengan tekanan mempunyai rumah sebelum menikah. Jika memang niat memiliki rumah datang dari kesadaran pribadi, tentunya sangat baik. Akan tetapi betapa malangnya jika keinginan itu muncul dari tekanan sosial keluarga ataupun pacar.

Di lain pihak, di media sosial banyak sekali meme yang kurang lebih menyatakan bahwa laki-laki harus mampu secara finansial supaya perempuan dapat menikmatinya untuk berbelanja. Para perempuan pun dengan semangat menyebarkan meme tersebut, mungkin memotivasi para lelaki untuk bekerja lebih keras karena katanya gaji perempuan sendiri tidak akan pernah cukup bila hasrat berbelanja itu muncul. Perempuan dianalogikan sebagai makhluk penyedot uang dan penagih jalan-jalan padahal para perempuan juga mampu membeli barang impiannya dengan uang sendiri dan jalan-jalan dengan biaya pribadi.




Lihatlah bahwa patriarki memunculkan banyak tekanan dan standar sehingga sebagai manusia tidak perlu kita tambahi dengan tuntutan ini itu. Segala sesuatu bisa dinegosiasikan dan disepakati, silakan berbagi peran dan tak perlu saling menekan atau menyalahkan. Jika ingin setara maka perlakukanlah laki-laki dan perempuan sama baiknya seperti halnya ketika berbagi peran untuk membayar tiket bioskop dan makan malam di akhir pekan. Bayarlah karena anda memang mempunyai uang dan niat untuk mentraktir pasangan atau teman bukan karena tekanan patriarki.

Pritta Damanik adalah lulusan Hubungan Internasional yang harus berpikir di tingkat desa, saat ini bekerja di sebuah organisasi pemberdayaan masyarakat di NTT yang berfokus pada anak. Ia berputar di provinsi NTT dan sibuk menikmati jalan-jalan sambil bekerja.