5 Artikel Pilihan: 19 Tahun Aksi Kamisan, ‘Broken Strings’, hingga Review soal ‘Mens Rea’
1. 19 Tahun Aksi Kamisan: Lawan Impunitas dan Pemutihan Kejahatan Negara
Seruan “Siapa yang kita lawan? Soeharto! Prabowo!” menggema di depan Istana Presiden pada (15/1) dalam peringatan 19 tahun Aksi Kamisan. Aksi mingguan ini kembali digelar sebagai pengingat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat masa lalu belum pernah benar-benar diselesaikan.
Bagi para peserta, Aksi Kamisan bukan sekadar ritual peringatan, melainkan bentuk perlawanan terhadap impunitas yang terus dirawat negara. Aktivis perempuan Kalis Mardiasih menyebut pemerintah saat ini memperlihatkan kecenderungan memutihkan sejarah pelanggaran HAM berat.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. ‘Broken Strings’: Membaca Kekerasan Lewat Tubuh, Bahasa, dan Waktu
Pada 2025, aktris dan penyanyi Indonesia Aurelie Moeremans mengejutkan publik dengan merilis Broken Strings, sebuah memoar reflektif yang menyentuh dan mengejutkan banyak pihak. Untuk pertama kalinya, ia menuliskan pengalaman kekerasan yang dialaminya di usia remaja, baik dalam lingkungan keluarga maupun relasi personal, dalam bentuk narasi utuh. Setelah lebih dari satu dekade diam, Aurelie menuliskan kisahnya bukan sebagai pengakuan yang sensasional, melainkan sebagai proses memahami luka secara perlahan.
Namun Broken Strings bukan hanya kisah tentang kekerasan, tapi juga tentang bagaimana pengetahuan atas kekerasan itu dibentuk, dimaknai, dan akhirnya dipahami.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. Hasil Putusan Laras Faizati: Bersalah dengan Pidana Pengawasan di Luar Penjara
Laras Faizati, 26, tahanan politik yang ditangkap pasca-aksi Agustus 2025, menjalani sidang terakhirnya pada (15/1) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu, Jakarta. Sidang dengan agenda pembacaan putusan ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim I Ketut Darpawan dan dihadiri jaksa penuntut umum, kuasa hukum, keluarga, serta para pendukung Laras dari berbagai elemen masyarakat.
Sidang dimulai sekitar 30 menit lebih lambat dari jadwal semula, yakni pukul 09.30 WIB.
Simak artikelnya di sini.
4. ‘Mens Rea’: Fakta Lama dan Kepanikan Moral yang Enggak Perlu
Suatu ketika, klip pertunjukan stand-up comedy special Pandji Pragiwaksono berjudul Mens Rea – bahasa latin untuk ‘niat jahat’ – berseliweran di TikTok. Reaksi pertama saya adalah heran. Bukankah para penonton tidak boleh merekam apapun yang terjadi di panggung? Dari mana klip-klip ini berasal?
Saya baru tahu belakangan, Mens Rea dipublikasi oleh Netflix Indonesia. Walaupun sangat ingin, saya tak langsung menontonnya. Kesibukan membuat saya harus mengundur keinginan tersebut. Tak butuh waktu lama dari waktu penayangan di Netflix (27/12), Mens Rea ramai diperdebatkan netizen.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Horor, Tubuh, dan Perempuan: Dua Jam Bersama Intan Paramaditha
Bagi Intan Paramaditha, horor bukan sekadar alat untuk menakut-nakuti. Ia adalah medium untuk menggugat. Di tangan Intan, horor menjadi cara untuk mengusik apa yang selama ini dianggap wajar. Berbeda dari penulis lain yang mengeksplorasi seksualitas secara terang-terangan, Intan memilih horor dan perjalanan sebagai kendaraan kritik.
“Seperti perspektif feminis yang mengganggu apa-apa yang kita anggap normal atau nyaman, horor juga bekerja dengan cara yang sama. Ia memaksa kita mempertanyakan asumsi kita tentang kenyataan,” ujar Intan saat ditemui tim Magdalene di sebuah kedai kopi di Cikini.
Baca artikel selengkapnya di sini.
















