Issues

5 Artikel Pilihan: Heboh Pagar Laut hingga Review ‘The Trauma Code: Heroes on Call’ 

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini, mulai dari review ‘The Trauma Code: Heroes on Call’ hingga konglomerat di balik pagar laut.

Avatar
  • January 31, 2025
  • 3 min read
  • 651 Views
5 Artikel Pilihan: Heboh Pagar Laut hingga Review ‘The Trauma Code: Heroes on Call’ 

1.  Konglomerat di Balik Pagar Laut: Bukti Ketimpangan Si Kaya dan Miskin Kian Curam 

Apa hal paling absurd yang dilakukan orang kaya? Jawabannya ada di Indonesia: Memagari lautan, menjadikannya sebagai kepemilikan sendiri.  

Ini bukan ilusi tapi betulan terjadi di bentang laut Tangerang, Banten. Pertama kali viral dan jadi pembicaraan pada (7/1) silam, pagar laut yang disinyalir milik taipan Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma alias Aguan itu, membentang sepanjang 30 kilometer. Menyadur BBC Indonesia, pagar yang terbuat dari batang bambu ini sebenarnya sudah diendus nelayan sejak Juli 2024. 

 

 

Baca selengkapnya di sini. 

2.  ‘The Trauma Code: Heroes On Call’ — Drama Medis Tanpa Basa-Basi yang Bikin Kangen 

Drama medis bukan hal baru dalam lanskap televisi Korea Selatan yang terus berkembang pesat dan beragam, sehingga kemunculan The Trauma Code: Heroes On Call tidak menimbulkan ekspektasi yang tinggi. Namun, drama Korea Netflix ini sukses menjadi tontonan yang segar dan menghibur. Tidak ada sub-plot cinta bertele-tele, antagonis yang terlalu dramatis, atau konflik yang dipanjang-panjangkan demi ketegangan semu. Sebaliknya, yang disajikan adalah drama komedi dengan aksi medis, serta karakter nyeleneh yang siap melakukan apa saja untuk menyelamatkan pasiennya. 

Simak artikelnya di sini

3.  Belajar Tanpa Kekerasan: Membongkar Stereotip dalam Buku Anak SD 

Generasi yang tumbuh pada era 80-an dan 90-an pasti masih ingat dengan karakter Ani dan Budi di buku teks sekolah dasar, yang memandu kita belajar membaca dan menulis. Hadirnya dua nama tersebut ternyata bukan tanpa maksud. Budi dan Ani adalah representasi nama Jawa dan simbol bahwa dalam dunia pendidikan saat itu, etnis Jawa menjadi entitas dominan yang dijadikan sebagai ukuran ideal dalam wajah pendidikan di Indonesia. 

Hal ini termasuk yang dibahas dalam buku Reproduksi Kekerasan Sejak Belia: Wajah Perempuan-Anak Indonesia dalam Sastra dan Media karya Radius Setiayawan (2024), dosen dan peneliti di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Merupakan hasil riset selama empat tahun sampai 2023, buku ini membongkar wacana gender, ekologi hingga rasisme yang masih menubuh dalam teks-teks dan gambar buku sekolah dasar yang diterbitkan pemerintah. 

Simak artikelnya di sini. 

4.  Perempuan di Tengah Rezim Ekstraktif: Pemimpin Perlawanan untuk Lingkungan 

Indonesia termasuk dalam rezim ekstraktif, yakni sistem ekonomi dan politik yang sangat bergantung pada eksploitasi sumber daya alam. Praktik ekstraksi seperti tambang emas, batu bara, nikel, marmer, serta penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit telah berlangsung selama beberapa dekade. Selain itu, pembangunan infrastruktur, reklamasi, dan ekspansi industri juga memperburuk pencemaran lingkungan. Sistem ini sering mengabaikan kesejahteraan manusia dan lingkungan demi keuntungan ekonomi jangka pendek.  

Khususnya bagi perempuan, rezim ekstraktif membawa dampak serius, seperti berkurangnya akses air bersih, meningkatnya kasus perkawinan anak, kekerasan berbasis gender, dan kemiskinan akibat hilangnya sumber daya alam. Situasi ini memperlihatkan bagaimana perempuan tidak hanya menjadi korban utama kerusakan lingkungan, tetapi juga harus menghadapi ketidakadilan sosial dan ekonomi yang semakin parah. 

Baca artikelnya di sini

5.  ‘Sing Beling Sing Nganten’: Bagaimana Perempuan Bali Dipaksa Jadi Penghasil Keturunan 

Berdasarkan laporan Youth Voices Research, tradisi sing beling sing nganten memungkinkan atau bahkan mendorong hubungan seks pranikah untuk menguji kesuburan perempuan sebelum menikah. 

Jika perempuan tersebut hamil, pasangan tersebut akan menikah. Namun, jika tidak hamil, mereka tidak akan menikah. 

Baca artikelnya di sini



#waveforequality


Avatar
About Author

Magdalene

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *