Makam Tenggelam Indramayu, Bahkan Sudah Mati pun Masih Dipersulit
Pernah menonton film Pangku (2025) karya Reza Rahardian? Latar utama tempat syutingngnya berada di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.
Kawasan satu itu kerap dikenali lewat deretan warung kopi lendot atau kopi pangku. Namun bagi warga setempat, pemandangan yang paling mencolok justru bukan cahaya remang di tepi jalan, melainkan makam yang perlahan tenggelam oleh air laut.
Makam umum Desa Eretan Wetan terbentang seluas sekitar dua hektare. Namun sebagian besar permukaannya kini tertutup air. Saat saya menyambangi Indramayu akhir tahun lalu, hanya ujung nisan yang tampak. Sebagian nisan miring ke samping, sisanya hilang, mungkin hanyut atau tenggelam. Rumput liar tumbuh tinggi, menutup batas antara jalan, tanah, dan pusara. Sejumlah sisi dipenuhi genangan air asin yang tak pernah benar-benar surut.
Hari itu, seorang warga Eretan Wetan meninggal dunia dan akan dimakamkan. Di tengah genangan, warga kembali bersiap melakukan pekerjaan yang di kampung ini menjadi semakin sering dan semakin berat: Menggotong keranda melewati air, menggali liang lahat yang akan kembali terisi air, lalu menguburkan jenazah di tanah yang lembek.
Rumah salah satu warga, Simin, 40, berdiri sekitar 30 meter dari makam tersebut. Dari depan rumahnya, area pemakaman itu terlihat jelas. Saya bertemu Simin siang itu. Untuk masuk ke rumahnya, saya harus memutar ke belakang. Beberapa batang kayu kecil berdiameter 60cm, ditata seadanya sebagai pijakan. Jalurnya sempit, licin, dan tidak stabil. Saya berjalan sangat pelan agar tidak tergelincir.
Baca juga: Perubahan Iklim Perparah Ketimpangan Gender di Kawasan Pesisir, Ini Kata Ahli

Jalur ini dilewati setiap hari olehnya. Tak terbanyak jika yang melintas adalah lansia, anak-anak, perempuan hamil, hingga orang dengan disabilitas. Tidak ada jalur alternatif kecuali… kamu bisa berenang.
“Kalau gali kubur di sini, dikuras dulu,” kata Simin pada saya, 27 Desember 2025. “Pakai ember, pakai gayung. Kalau ada yang punya mesin sedot, pakai itu. Tapi airnya masuk lagi.”
Menurut Simin, pemakaman di tanah yang tergenang bukan kejadian langka. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi itu terjadi berulang. Jalan menuju makam rusak. Tidak ada penerangan. Warga sering tidak tahu apakah yang mereka injak tanah, jalan, atau nisan.
“Kadang kita enggak tahu ini lagi injak nisan atau bukan,” ujarnya.
Simin pindah ke Eretan Wetan pada 2010, usai resmi menikah. Saat itu, kampung ini belum mengalami rob. Air laut tidak masuk ke pemukiman. Pekarangan rumah masih kering. Sawah, tambak, dan empang masih produktif.

Perubahan mulai terasa setelah banjir besar dari hulu pada 2014. Air memang surut, tetapi sejak itu genangan datang berulang. Situasi memburuk setelah sekitar 2015, ketika bendungan dibangun di wilayah Sungai Soge dan Bongas untuk menahan air asin agar tidak masuk ke wilayah pertanian.
Menurut warga, mekanisme bendungan justru memperparah kondisi Eretan Wetan. Ketika rob datang dari laut, pintu air ditutup. Sebaliknya, ketika hujan deras turun dari selatan dan debit air dari hulu meningkat, air dialirkan ke arah pemukiman pesisir. Akibatnya, air rob dan air hujan sama-sama tertahan dan meluap ke kampung.
Sejak sekitar 2021, rob datang hampir setiap hari, bahkan bisa dua kali sehari. Air sering mulai naik sekitar pukul tiga dini hari, surut menjelang siang, lalu naik kembali pada sore hari. Tidak ada sistem peringatan dini.
“Kalau air depan pintu sudah naik, itu tandanya harus siap-siap,” ujar Simin.
Barang-barang diangkat dan digantung. Dipan ditinggikan dengan tumpukan batako. Namun peralatan elektronik hampir selalu rusak. Televisi dan kulkas di rumah Simin mati total sejak banjir besar 2021. Sementara lantai rumah retak di banyak bagian.

Baca juga: Krisis Iklim Picu ‘Bedol Desa’ di Pantura, Negara Dimana?
Setiap Hari Banjir Rob Datang bak Minum Obat
Banjir besar 2021 menjadi titik balik. Saat itu Simin memaksa pulang meski jalan sudah ditutup. Air setinggi dada orang dewasa. Warga mengungsi ke sekolah selama lebih dari satu minggu. Rumah-rumah terendam. Perabot rusak. Dapur Simin, yang posisinya lebih rendah, hilang tersapu rob.
Sejak itu, kehidupan warga Eretan Wetan berubah total.
Dalam beberapa tahun terakhir, rob semakin parah imbas cuaca ekstrem panas yang semakin sering dan panjang. Musim kemarau tidak lagi kering sepenuhnya, tetapi disertai suhu menyengat di siang hari dan kelembapan tinggi di malam hari. Kondisi ini mempercepat penguapan air tambak dan empang. Alhasil itu membuat kualitas air memburuk.

Eretan Wetan sendiri dulunya dikenal sebagai kampung nelayan dan penghasil garam. Pada masa tertentu, warga bisa memperoleh penghasilan hingga sekitar satu juta rupiah per hari dari hasil laut. Kini, penghidupan itu nyaris hilang. Banyak warga beralih menjadi pedagang asongan atau mencari udang dan kepiting kecil dengan perahu. Hasilnya tidak menentu.
Supriyanto, warga Eretan Wetan yang lahir dan besar di kampung ini, menyebut rob yang semakin sering tidak hanya berkaitan dengan kenaikan muka air laut, tetapi juga penurunan muka tanah.
Ia menyoroti aktivitas industri di pesisir, penggunaan air tanah skala besar, serta praktik penggalian cangkang kerang yang berlangsung sejak sekitar 2017. Dalam wawancara 27 Desember 2025, Supri bilang, aktivitas tersebut minim pengawasan dan tidak pernah disosialisasikan kepada warga, meski berdampak pada perubahan struktur dasar laut.
Baca juga: Terjepit Panas dan Lapar di Lumbung Pangan: Beban Perempuan Petani Indramayu
Tangan-tangan Nakal di Pesisir Pantai
Temuan lapangan warga ini sejalan dengan hasil pengamatan Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Pangeran Dharma Kusuma Indramayu. Ketua DEMA, Akmal Maulana, menyampaikan kepada saya pada 26 Desember 2025, sedimentasi muara sungai yang kerap disebut sebagai penyebab utama rob cuma gejala permukaan.
Berdasarkan investigasi lapangan mahasiswa sejak 2017, aktivitas pengerukan cangkang kerang simping berlangsung masif di sepanjang pesisir Indramayu. Pengamatan DEMA memperkirakan area terdampak membentang sekitar 29 kilometer, dari Kecamatan Patrol hingga Cantigi.
Akmal menjelaskan kepada saya, lapisan cangkang kerang yang mengendap selama ribuan tahun berfungsi sebagai penghalang alami energi gelombang laut. Ketika lapisan ini dikeruk, keseimbangan pesisir runtuh dan abrasi meningkat. Data lapangan DEMA mencatat ratusan perahu pengeruk beroperasi setiap hari di beberapa titik, terutama di wilayah Parean Ilir yang berbatasan langsung dengan Eretan Wetan.
Bagi warga Eretan Wetan, dampak krisis ini paling kasatmata terlihat di makam. Area pemakaman hampir seluruhnya terendam. Jalan rusak. Paenerangan nihil. Banyak nisan hanyut dan tidak lagi dapat dikenali. Keluarga korban kerap kali pasrah. Menyelamatkan makam butuh biaya besar untuk membeli tanah urug, meninggikan area, dan membuat akses jalan—untuk makan sehari-sehari saja sulit.

Warga telah berulang kali menyampaikan protes. Pada 23 Juni 2025, sekitar 300 warga Eretan Wetan bersama mahasiswa mendatangi DPRD dan pendopo kabupaten. Audiensi dengan bupati dilakukan pada 26 Juni. Pemerintah daerah menyatakan keterbatasan anggaran dan berjanji melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat.
Hingga Oktober 2025, janji itu belum terealisasi. Menurut kesaksian Supri, warga lantas memblokir jalan pada 7 November. Setelah aksi tersebut, alat berat didatangkan untuk membangun tanggul darurat di beberapa titik pemukiman. Tanggul ini bersifat sementara dan mengikuti tinggi air.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam laman resmi mereka menyebut kawasan Eretan sebagai lokasi prioritas pengamanan pesisir, termasuk rencana pembangunan tanggul laut dan sistem perlindungan pantai jangka panjang.
Di Eretan Wetan, krisis iklim, kebijakan pembangunan pesisir, dan eksploitasi lingkungan bertemu dalam bentuk paling nyata: makam yang tenggelam. Air asin tidak hanya merusak rumah dan mata pencaharian, tetapi juga menghapus kepastian tentang bagaimana seseorang dimakamkan secara layak.
Tulisan ini merupakan bagian dari seri liputan yang mendapatkan fellowship dari Global Climate Resilience for All.
















