June 25, 2020
Mampukah Milenial sebagai Generasi ‘Sandwich’ Baru Bertahan Ketika Pandemi?

Banyak kebutuhan ekstra yang muncul ketika pandemi sehingga membuat kondisi keuangan generasi milenial kian terjepit.

by Lengga Pradipta
Issues
Sandwich Gen_Sandwich Generation_KarinaTungari
Share:

Generasi milenial, atau orang yang lahir pada tahun 1980 sampai 2000, adalah salah satu yang terdampak oleh pandemi COVID-19. Generasi milenial bahkan bisa mendapat tantangan yang lebih berat mengingat status mereka sebagai generasi sandwich yang baru.

Generasi sandwich adalah orang-orang usia dewasa atau paruh baya yang terimpit (sandwiched) dalam kondisi yang mengharuskan mereka memenuhi kebutuhan finansial dan kesehatan orang tuanya yang lansia dan juga keturunannya sendiri.

Generasi sandwich harus mengeluarkan uang lebih tidak hanya untuk mengurus anak, tapi juga merawat orang tuanya yang bisa saja sakit dan membutuhkan pengobatan. Perihal merawat orang tua sendiri tidak terlepas dari budaya di Indonesia yang mengharapkan anak untuk berbakti terhadap orang tua, termasuk untuk mengurusnya ketika mereka menua.

Padahal, di tengah kondisi pandemi yang serba tidak menentu ini, banyak perusahaan yang harus memotong gaji, bahkan merumahkan karyawannya. Tak sedikit pula Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merugi karena minimnya transaksi jual beli.

Data dari Direktorat Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa hingga bulan Mei 2020 tercatat sudah ada 2,9 juta pekerja yang dirumahkan Tentu dalam situasi ini, hampir semua kalangan memiliki beban finansial, terutama kalangan yang berada dalam usia produktif antara 15 sampai dengan 64 tahun.

Baca juga: Untuk Perempuan Generasi ‘Sandwich’: Kamu Berhak Bahagia

Dilema generasi sandwich pada pandemi

COVID-19 membuat pengeluaran menjadi lebih besar daripada pendapatan karena bukan hanya pemenuhan kebutuhan mendasar yang harus diprioritaskan selama pandemi. Banyak kebutuhan “ekstra” yang muncul belakangan ini. Layanan jaminan kesehatan yang memadai bagi orang tua yang rentan akan COVID-19, kebutuhan pendidikan anak yang sekarang lebih banyak menggunakan fasilitas daring, serta keharusan memiliki dana darurat di tengah ketidakpastian ini adalah sejumlah hal yang membuat generasi sandwich “baru” kesulitan, baik soal mencari penghasilan tambahan maupun mengelola emosi.

Hampir 68 persen kalangan muda yang terjebak dalam lingkaran sandwich mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi merebak. Sekitar 25 persen di antaranya harus menjual sebagian besar asetnya untuk tetap bertahan hidup sembari menopang keluarganya.

Fenomena ini menjadi indikasi buruk bagi kondisi finansial mereka di masa mendatang. Dibutuhkan perbaikan segera agar kaum muda benar-benar tidak terjerat menjadi generasi sandwich yang baru.

Apakah mereka mampu bertahan dan bagaimana solusinya?

Bertahan dan beradaptasi seiring pandemi bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan, apalagi milenial adalah generasi tahan banting yang akrab dengan dinamika global. Tentu mereka bisa bertahan dalam menghadapi krisis ini.

Sebuah riset menemukan bahwa milenial Indonesia adalah generasi yang kreatif dan informatif, serta memiliki pola pikir yang berbeda. Milenial dinilai mempunyai pikiran yang terbuka, menjunjung tinggi kebebasan, kritis, dan berani.

Jika milenial gagal lepas dari jeratan generasi sandiwich, maka mereka akan jadi generasi yang sibuk menutupi kebutuhan dengan cara berutang, dan pada akhirnya terancam menjadi miskin. Karenanya, manajemen keuangan diperlukan agar tidak semakin terjebak dalam keterjepitan. Di samping itu, hal ini juga bertujuan agar milenial bisa menyelamatkan generasi berikutnya dari kejadian serupa.

Baca juga: Solusi Rumah Murah bagi Milenial Saat Harga Tanah Melangit

Untuk milenial yang masih memiliki penghasilan yang cukup, maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Menghitung dengan cermat biaya hidup sehari-hari. Seperti metode yang pernah dicetuskan oleh senator Amerika Serikat Elizabeth Warren, milenial dapat menghitung pengeluaran bulanan dengan menggunakan metode 50/20/30, yakni 50 persen untuk needs(kebutuhan), 20 persen untuk savings(tabungan), serta 30 persen untuk wants (keinginan).
  2. Menyiapkan generasi bawah (anak-anak) untuk hidup sederhana dan mengesampingkan kebutuhan sekunder dan tersier seperti ponsel pintar dan jam tangan yang mahal.
  3. Menabung untuk menyiapkan dana darurat. Poin ketiga ini bisa dilakukan dengan cara mengasah kreativitas dan hobi, misalnya memasak dan menjual hasilnya melalui media sosial, berjualan hasil kerajinan tangan di lapak-lapak e-commerce, atau membuka sesi pelatihan komersil via online(yoga, fotografi atau menulis).

Menjadi generasi sandwich “baru” memang bukan pilihan yang diinginkan seseorang, namun hal ini bisa disiasati agar tidak terperosok menjadi “miskin” dan membawa generasi berikutnya mengalami kondisi serupa.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Lengga Pradipta adalah peneliti Ekologi Manusia di Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).