May 20, 2020
Meditasi Bantu Kesehatan Mental, Tapi Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Mulai

Webinar Magdalene Learning Club membahas meditasi untuk merawat kesehatan mental terutama di tengah pandemi.

by Elma Adisya, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
Meditasi 5 Thumbnail, Magdalene
Share:

Saat ini perasaan resah, takut, dan marah dirasakan oleh seluruh masyarakat dunia akibat pandemi COVID-19. Perubahan rutinitas yang drastis, dampak ekonomi dan sosial yang terjadi, serta banyak isu lainnya membuat intensitas keresahan meningkat. Dalam kondisi yang tidak menentu ini, salah satu hal yang bisa kamu coba adalah memberi jeda dalam aktivitas kita dengan bermeditasi.

Instruktur meditasi dari Bali Usada, Eva Muchtar mengatakan bahwa memberikan jeda dalam hidup kita berpengaruh besar terhadap kualitas hidup kita.

“Hal ini sudah saya rasakan semenjak saya belajar meditasi. Sebelumnya saya terbiasa dengan fase kerja yang cepat sekali, sampai saya mengabaikan diri sendiri. Akhirnya di tahun 2005 saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari pekerjaan saya di bidang public relations dan belajar meditasi,” ujar Eva dalam sesi webinar kedua Magdalene Learning Club bertema “Meditasi untuk Kesehatan Mental” (14/5).

Ia kemudian mendalami meditasi kesehatan dan saat kembali bekerja, Eva merasa lebih fokus dan dalam menjalankan pekerjaan serta dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Di tengah kondisi pandemi saat ini, meditasi sangat membantu kita untuk mengatur jeda di antara aktivitas, agar kita dapat lebih sensitif terhadap tubuh. Walaupun terdengar gampang, sebetulnya meditasi perlu banyak latihan dan juga konsentrasi,” ujarnya.

Eva memaparkan beberapa poin yang perlu diperhatikan buat kamu yang ingin mulai bermeditasi berikut ini.

  1. Pahami tubuh, pikiran, dan jiwa

Menurut Eva, ada tiga hal yang perlu kita fokuskan dalam menjaga kesehatan, yaitu, badan, pikiran, dan jiwa. Setiap individu memiliki tiga bentuk pikiran yaitu pikiran netral yang digunakan saat berkonsentrasi; pikiran buruk terkait dengan perasaan marah, kebencian, dan hal negatif lainnya; serta pikiran baik seperti kesabaran, ketenangan, dan hal baik lainnya.

Baca juga: Meditasi Samatha: Cegah Curiga, Kembangkan Rasa

Jiwa berkaitan dengan memori-memori yang kita rekam dengan pikiran kita, yang kemudian tersimpan dalam tubuh kita.

“Kalau guru saya bilang, pikiran kita itu bergetar sebanyak 1,3 trilyun, cepat sekali bergetarnya. Nah, ketika pikiran kita bergerak ada memori-memori yang dihasilkan dan akhirnya tersimpan di badan kita. Pertanyaannya sekarang, memori seperti apa yang selama ini tersimpan di tubuh kita?” ujar Eva. 

Ketika kita memiliki kesadaran akan tiga hal tersebut, maka kita akan mencapai keseimbangan dalam diri. Untuk mencapai  sinergi antar tiga hal ini, maka dari itu kita harus memulai bermeditasi.

  1. Merasakan nafas bukan mengatur nafas

Sudah siap bermeditasi? Oke, pertama cari ruangan yang sunyi dan duduklah secara tegak dan tidak bersandar. Boleh menutup mata jika merasa nyaman, setelah itu taruh ujung lidah di langit-langit mulut agar kita fokus bernafas melalui hidung.

Pusatkan pikiran kita ke hidung kita dan rasakan nafas kita. Biarkan badan bernafas secara alami, jangan terlalu ditarik atau diembuskan. Seandainya pikiranmu mengawang-awang, menurut Eva itu wajar, hanya kamu perlu kembali lagi berkonsentrasi merasakan nafas kita. Kenapa fokusnya ke nafas? Nafas itu sangat halus, sehingga kalau kita bisa fokus ke bagaimana kita bernafas secara alami, kita bisa fokus ke hal-hal lain.

Baca juga: Satu Resep Bahagia: Kenali Diri Sendiri

Bagi seorang pemula, hal ini mungkin sangat sulit, karena kita cenderung mengatur nafas kita ketimbang merasakannya secara alami.

“Ini memang butuh latihan yang sering. Di Bali Usada, tiga hari pertama itu khusus hanya untuk latihan nafas.  Dari melatih nafas, kita beranjak ke merasakan bagian-bagian tubuh kita yang lain,” ujar Eva.  

  1. Kenapa mengantuk?

Saat pertama kali mencoba meditasi, sering kali rasa kantuk menyerang. Ini bisa jadi karena tubuh menerima sinyal badan yang rileks, yang biasanya terjadi saat kita akan tidur di malam hari. Tubuh jadi terlatih untuk merasa mengantuk ketika mulai dalam suasana yang rileks.

Selain itu, rasa kantuk datang karena tubuh kita mungkin memang sedang lelah. Dalam kondisi biasa, sering kali kita tidak menyadari bahwa tubuh kita sudah mulai melewati batasnya. Jika kita mulai bermeditasi dan mulai mendengarkan tubuh kita, muncullah rasa kantuk tersebut akibat dari kelelahan yang dirasakan.

“Rasa kantuk itu juga bisa menunjukkan adanya gejala suatu penyakit. Namun hal ini jarang terjadi. Dan yang paling sering terjadi memang faktor pertama dan kedua,” ujar Eva.

Rasa kantuk itu alami, tapi kita harus segera sadar untuk kembali fokus pada meditas.

  1. Waktu dan durasi yang tepat

Bagi Eva, waktu yang tepat untuk bermeditasi sebetulnya tergantung kapan orang tersebut memiliki waktu luang.

“Namun, menurut guru saya, akan lebih baik jika kita bermeditasi di saat kita hendak tidur di malam hari,” ujarnya.

Baca juga: Menemukan Harmoni dalam Budaya Jawa, Feminisme dan Meditasi Vipassana

Pada awalnya, durasi bisa disesuaikan dengan kemampuan kita, bisa 10 hingga 15 menit. Setiap minggu, durasi itu dinaikkan secara bertahap sesuai kondisi kita, sampai akhirnya kita bisa melakukan meditasi selama 40 hingga 60 menit.

  1. Dilanda kebosanan

Bagi pemula, memang agak sulit untuk berkonsentrasi untuk berlatih meditasi. Pikiran kita sering bergerak ke sana ke mari, dan kita cepat bosan.

“Tidak ada cara lain, satu-satunya cara agar tidak bosan adalah dengan melatihnya secara disiplin,” ujar Eva.

Ia menyarankan kita untuk menggunakan pengatur waktu atau timer yang dapat membantu kita lebih bisa berkonsentrasi.

Timer bisa sangat membantu karena biasanya ketika kita diam waktu terasa berjalan dengan lambat. Jadi kalau menggunakan Timber kita lebih fokus dan tidak terlalu terpaku dengan waktu,” kata Eva  

  1. Berlatih dengan guru

Latihan bermeditasi akan membuat kita lebih sensitif terhadap apa dirasakan oleh tubuh selama ini. Ada yang tiba-tiba merasakan rasa sakit fisik di beberapa bagian tubuh, atau merasakan emosi yang membuncah sampai menangis tiba-tiba. Untuk itu, agar tidak malah cemas atau terganggu, Eva menyarankan agar berlatih dengan seorang guru jika kita baru mulai bermeditasi.

“Hal ini agar kita tahu teknik-teknik meditasi secara benar, dan jika ada reaksi-reaksi yang keluar saat meditasi, sang guru tahu bagaimana menangani dan merespons dengan baik,” ujar Eva.

Selamat bermeditasi!

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock.