September 22, 2020
Melek ASI Tapi Gagal Menyusui, Kok Bisa?

Riset menunjukkan bahwa meskipun punya pengetahuan soal ASI, sebagian ibu masih gagal menyusui karena hambatan dari keluarga.

by Andi Muthia Sari Handayani
Issues
Share:

Teknologi digital yang dapat membantu ibu meningkatkan pengetahuan dasar seputar air susu ibu (ASI) dan menyusui tampaknya tidak signifikan dalam membantu kelancaran dan keberhasilan ibu menyusui bayinya. Riset terbaru saya tentang penyebab kegagalan menyusui bayi di Kota Palu, Sulawesi Tengah menunjukkan hal itu. Riset (sedang dalam proses publikasi) dengan responden 400 ibu ini menemukan fakta bahwa minimnya pengetahuan seputar ASI dan menyusui bukan menjadi faktor pertama dan terbanyak kegagalan tersebut.

Sebaliknya, suami, mertua dan orang tua ibu justru menjadi faktor penghambat terbesar untuk keberhasilan ibu menyusui bayinya. Minimnya dukungan sosial yang bersumber dari keluarga inti merupakan faktor pertama yang mempengaruhi kegagalan ibu menyusui.

Temuan data di Kota Palu ini berbeda dari hasil penelitian pakar ASI terkait proses menyusui di negara miskin dan berkembang selama hampir satu dasawarsa terakhir. Sebuah riset pada 2014 bahwa menyatakan bahwa di Zimbabwe, hambatan utama gagalnya menyusui di negara tersebut adalah minimnya pengetahuan ibu tentang ASI dan proses menyusui.

Sebuah riset lainnya pada 2013 di Amerika Serikat menyatakan kurangnya informasi mengenai manfaat ASI dan cara memberikan ASI yang tepat mempengaruhi keputusan ibu untuk berhenti memberikan ASI.

Melek ASI tapi gagal menyusui

Sebagai konselor menyusui, saya kerap menemukan kenyataan di lapangan. Dalam riset saya, umumnya para ibu muda yang bermukim di Kota Palu dan gagal menyusui adalah ibu yang memiliki pengetahuan seputar ASI cukup baik. Banyak informasi yang telah diperoleh ibu, sejak dari awal kehamilan hingga dalam proses kelahiran terkait manfaat ASI untuk bayi dan ibu sendiri.

Dalam riset di Palu, keberadaan fasilitas dan tenaga kesehatan baik Posyandu, Puskesmas, hingga rumah sakit, serta bidan dan dokter yang mulai melek ASI juga turut serta menyumbangkan informasi dan pengetahuan kepada ibu.

Baca juga: Susahnya Sepakat untuk Tak Sepakat Soal ASI

Ada juga kontribusi para konselor seperti saya. Sejak Desember 2016, misalnya, saya mempromosikan pentingnya ASI melalui kuliah WhatsApp dengan peserta lebih dari 20 ibu muda. Saya juga sering diundang untuk mengisi materi diskusi tentang ASI dan menyusui di Institut Ibu Profesional Cabang Sulawesi Tengah dan Ikatan Ibu Muda Dosen IAIN Palu, serta Organisasi Perempuan Wanita Islam Al Khairat Sulawesi Tengah. Media sosial juga turut serta berperan sebagai sumber informasi untuk meningkatnya pengetahuan ibu terkait ASI dan proses menyusui.

Lalu, mengapa para ibu di Palu gagal menyusui walau pengetahuan mereka tentang ASI lebih dari cukup? Dari hasil wawancara dan pengamatan yang saya lakukan, tidak adanya dukungan sosial yang didapatkan ibu selama menyusui menjadi dorongan terbesar ibu gagal dalam memberikan ASI.

Suami, mertua, dan orang tua justru tidak menjadi mata rantai yang meningkatkan dan menjaga keinginan ibu menyusui bayinya. Tiga orang penting di lingkungan ibu tersebut, secara sikap tidak mau mendukung keberhasilan ibu muda dalam menyusui.

Misalnya, saat ibu berusaha mandiri untuk mengatasi masalah menyusui karena terjadi peradangan pada jaringan payudara atau anak menolak menyusu, mertua atau orang tua akan merasa tersinggung jika tidak dilibatkan dalam penyelesaian masalah tersebut. Keputusan ibu dalam menyelesaikan masalah tersebut berdasar dari respons negatif yang muncul dari orang tua kandung dan mertua, seperti orang tua dan mertua yang memberikan label ibu manja, atau memberi jalan pintas berupa saran untuk memberi susu formula saja. Mereka melabeli ibu muda ini dengan label negatif seperti “sok tahu, sok paham dan keras kepala”.

Secara umum suami memilih tidak terlibat dalam proses menyusui. Suami yang seharusnya menjadi pijakan terbesar ibu pada saat hamil dan menyusui, justru berlaku sebaliknya.

Setali tiga uang dengan ibu kandung dan mertua, secara umum suami juga memilih tidak terlibat dalam proses menyusui. Apalagi saat terjadi konflik terkait menyusui antara istrinya dengan mertua atau orang tua kandungnya. Pola komunikasi yang buruk ini menghambat keberhasilan ibu muda menyusui bayinya.

Para orang tua sang ibu, baik mertua atau ibu kandung, mengharapkan ibu muda ini mencari dukungan untuk berhasil menyusui. Seorang responden menyatakan bahwa dirinya harus proaktif belajar tentang kehamilan dan persiapan menyusui kepada orang yang lebih tua darinya, meski orang tua dan mertua tidak paham soal ASI, pentingnya ASI, posisi yang ideal menyusui, manfaat menyusui dan lain sebagainya.

Dalam kacamata ibu muda yang menyusui, sikap yang “seharusnya” seperti proaktif bertanya pada orang tua kandung dan mertua dan mengikuti saran-saran terkait ASI dari orang tua dan mertua, menjadi lampu hijau bagi orang tua dan mertua untuk hadir secara fisik dan mental selama proses hamil hingga mengasuh.

Dari banyak proses menyusui yang saya temui di lapangan, para mertua dan orang tua kandung menggangap ibu masa kini sebagai pembelajar pasif yang tidak mau menjadikan orang tua atau mertua sebagai pedoman dalam menyusui anak-anaknya.

Menurut orang tua dan mertua, ibu masa kini tidak mau melibatkan 100 persen kehadiran mereka, sehingga label “mandiri”, “bisa sendiri”, atau “tidak usah dibantu karena sudah pintar” tersematkan dengan kuat pada diri ibu, yang berdampak buruk pada keduanya, baik bagi ibu atau orang tua dan mertua.

Baca juga: Matrescence: Apa yang Saya Pelajari Saat Bertransisi Jadi Ibu

Sikap ibu muda yang gamang tentang ASI dan butuh pendampingan, direspons dingin oleh orang tua dan mertua. Kondisi ini pada gilirannya menurunkan keyakinan ibu untuk sukses menyusui dan berujung gagal. Demikian pula hubungan ibu bayi dan suaminya.

Suami yang seharusnya menjadi pijakan terbesar ibu pada saat hamil dan menyusui, justru berlaku sebaliknya. Bahkan jika bayi menunjukkan ekspresi seperti tangis ketika menyusu, maka tawaran pertama dari suami adalah pemberian susu formula, agar situasi bisa segera kembali tenang dan nyaman.

Data kualitatif menunjukkan bahwa pendampingan yang tidak maksimal dari suami, seperti tidak adanya informasi yang cukup tentang ASI, suami yang merasa bahwa persoalan menyusui bukan wilayah yang harus dicampurinya, menambah goyahnya keyakinan ibu untuk berhasil menyusui.

Mari dukung ibu menyusui

Komunikasi dan hubungan yang buruk antara ibu muda, suami, dan orang tua kandung serta mertua, tanpa disadari menjadi suatu budaya yang berdampak buruk pada kesehatan ibu dan bayi.

Pada ibu muda, kegagalan menyusui memberikan risiko psikologis yang besar seperti ketidakpercayaan diri sebagai ibu yang berhasil. Sementara, pada bayi yang gagal menyusu akan berdampak pada kondisi kesehatan yang juga berisiko besar, seperti terpapar obesitas, alergi akut, infeksi pernapasan, dan lain sebagainya.

Karena itu, kita perlu mengajak semua lapisan masyarakat agar lebih peduli pada ibu yang sedang hamil dan menyusui. Caranya dengan memberikan dukungan sosial yang positif, misalnya memberikan informasi yang akurat dan menarik kepada orang tua, mertua dan suami, tentang apa yang dibutuhkan ibu. Suami, orang tua, dan mertua juga harus “disasar” program kampanye pentingnya menyusui bayi melalui seminar, diskusi, dan promosi kesehatan di posyandu, puskesmas, dan ruang publik.

Kepedulian kita adalah langkah awal untuk menciptakan atmosfer yang sehat di lingkungan ibu, dan juga bentuk lain dari dukungan sosial kita kepada ibu yang sedang menyusui.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Andi Muthia Sari Handayani adalah dosen Psikologi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah.