Women Lead
September 02, 2020

Matrescence: Apa yang Saya Pelajari Saat Bertransisi Jadi Ibu

Walau sudah banyak membaca artikel soal ibu, banyak perempuan yang masih terkejut dan kewalahan begitu menghadapi masalah dalam menjalankan peran sebagai ibu baru.

by Bini Fitriani
Lifestyle
Pregnancy_Give Birth_Melahirkan_BiniFitriani
Share:

Ketika hamil dan melahirkan anak pertama, saya tidak menyadari bahwa ada sebuah fase perubahan signifikan dalam hidup seorang perempuan yang harus dilewati saat menjadi ibu. Fase tersebut adalah matrescence: Sebuah proses transisi fisik dan psikis perempuan yang menjadi ibu, yang masih sedikit dibahas di dunia medis.

Matrescence sering dianggap sebagai proses alami, namun masih banyak ibu baru yang terkejut ketika mengalaminya. Bahkan pada sebagian orang, transisi ini membuat mereka kewalahan dan kehilangan kendali atas berbagai perubahan yang muncul. Ini terjadi karena bagaimana pun persiapannya, sebelum benar-benar terjadi, pengalaman matrescence tidak akan pernah bisa terbayangkan sebelumnya.

Saya sendiri merasakan hal ini.

Ketika hamil, saya yang sebelumnya adalah individu mandiri yang penuh kendali atas tubuh dan pikiran saya, tiba-tiba kehilangan kontrol atas semua hal tersebut. Cita-cita saya menjadi ibu dan status kehamilan pun menuntut saya untuk segera merasa bahagia dan relaks, namun perubahan fisik dan hormonal yang mempengaruhi mobilitas, pemikiran, dan perasaan saya saat itu sering menjauhkan saya dari rasa bahagia dan justru membuat saya frustrasi. Belum lagi ada berbagai pembatasan-pembatasan medis yang dapat mengungkung gerak dan keinginan saya, membuat saya sangat tersiksa.

Fase hamil yang dilanjutkan langsung dengan melahirkan dan mengasuh anak membuat perempuan tidak memiliki kesempatan untuk jeda sejenak dan kembali menjadi dirinya yang dulu. Kadang ia merasa kehilangan identitas sebelumnya karena ia tidak dapat langsung kembali melakukan pekerjaan atau hobinya, tidak dapat memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritualnya, bahkan sering kali mengabaikan kebutuhan dasarnya, seperti tidur, makan, atau mandi, untuk merawat dan menyusui bayinya. Perubahan hormon pasca melahirkan pun sering kali membuat “ibu baru” frustrasi dan tidak berdaya, menjadikannya kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan berpikir dengan jernih.

Cerita matrescence saya sendiri diisi dengan drama ingin melahirkan normal karena dulu saya percaya, dengan demikian saya dapat menjadi perempuan “seutuhnya”. Tapi apa daya, cairan ketuban yang terlalu sedikit. Ini membuat saya tidak melakukan persalinan normal karena kontraksi justru akan membahayakan keselamatan bayi. Akhirnya, saya harus segera menjalankan operasi caesar untuk menyelamatkan bayi saya yang “kekeringan” di dalam kandungan.

Saya kecewa dan menangis lama sekali. Ekspektasi melahirkan normal juga membuat penyembuhan luka operasi caesar saya berjalan lambat dan sangat menyakitkan.

Ibu saya datang dari Makassar untuk menemani saya ketika proses melahirkan dan awal-awal mengasuh bayi selama sebulan. Selama sebulan tersebut, kami sering berdebat karena Ibu khawatir melihat kondisi bayi saya yang terlahir dengan berat 2510 gram, 10 gram melebihi batas bayi berat badan lahir rendah (BBLR).

Ibu saya memaksa saya untuk menyerah dan memberikan susu formula, namun saya bersikeras untuk memberikan ASI. Saya juga menolak bantuan Ibu untuk membantu merawat bayi selama di Jakarta karena saya merasa memiliki otoritas sebagai ibu, dan saya merasa memiliki cara saya sendiri untuk merawat bayi saya. Akibatnya, saya sering merasa sangat kelelahan.

Sepulangnya Ibu, masalah demi masalah muncul. Ada beberapa kondisi medis pada bayi saya seperti tongue tie yang membuatnya tidak mampu menyusu dengan benar. Bayi sehat yang menyusu dengan benar akan mengalami kenaikan berat badan 600-1000gr pada usia sebulan, sedangkan berat bayi saya hanya naik 100gr. Rupanya kondisi inilah yang membuat bayi saya menempel pada payudara saya sepanjang hari, membuat saya kesulitan beraktivitas dan kurang tidur, serta membuat saya mengalami proses menyusui yang menyakitkan.

Hati saya hancur karena merasa tidak mampu menjadi ibu yang dapat menyusui bayinya sampai kenyang. Belum lagi saya harus mengatasi perubahan hormon yang membuat perasaan saya menjadi tidak karuan dan bisa tiba-tiba menangis ketika menyusui.

Tidak pernah terbayang di benak saya, proses menjadi ibu yang akan saya alami akan menjadi serumit itu, bahkan setelah saya membaca berbagai macam buku yang berkaitan dengan itu. Dari pengalaman ini saya memetik beberapa pelajaran:

  1. Bekerja sama dengan pasangan adalah kunci

Saya sangat mengusung kesetaraan dalam pengasuhan sehingga saya berbagi kesempatan dengan pasangan untuk berkontribusi dan belajar bersama menjadi orang tua sejak hari pertama direncanakannya kehamilan. Seperti perempuan saat menjadi ibu, laki-laki juga tidak serta-merta mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menjadi seorang ayah. Bekerja sama dengan berbagi rencana serta pengetahuan, beban, perasaan dan pikiran dengan pasangan mempermudah saya menjalani matrescence.

  1. Mencari dan menerima bantuan

Mengurus bayi memang tidak mudah, apalagi bagi seseorang yang belum pernah melakukannya dan pada saat yang hampir bersamaan telah menanggung kesakitan fisik melahirkan. Karenanya, kita perlu mencari pertolongan untuk melakukan hal ini.

Mencari dan menerima bantuan setelah melahirkan tidak akan membuat kita “less of a mother”. Apabila cuti ayah segera berakhir dan pasangan harus kembali bekerja di kantor, mintalah bantuan siapa pun yang bersedia selama masih memungkinkan, bisa dari orang tua, mertua, tante, sahabat, tetangga, atau mempekerjakan asisten rumah tangga/pengasuh.

Dalam perjalanannya, sangat mungkin kita punya cara berbeda dalam mengasuh anak. Maka itu, penting untuk selalu mengomunikasikan cara yang mau kita pilih kepada siapa pun yang kita mintai bantuan. Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi sebaiknya kita tetap menghargai dan menolak dengan sopan dan memberi alasan bila bantuan yang diberikan kurang sesuai dengan rencana pengasuhan kita.

  1. Satu hal untuk satu waktu

Istilah “supermom” yang mengacu pada ibu yang berkemampuan melakukan banyak hal berat hampir sekaligus terkadang menjadi idaman sebagian ibu. Tetapi sebenarnya, ini adalah mitos menyesatkan yang melumrahkan beban ganda yang diemban perempuan dalam jangka panjang.

Alih-alih mengejar hal tersebut dan cenderung menjadi perfeksionis, ibu baru perlu berkompromi dan berdamai dengan dirinya sendiri. Perubahan peran dan identitas menjadi ibu ini memang membuat kita tidak bisa melakukan berbagai hal secara bersamaan seperti dulu lagi, dan itu sama sekali tidak masalah.

Lakukanlah satu hal di satu waktu untuk menjaga kewarasan dan ketenangan pikiran. Istirahatlah ketika bayi sedang tidur. Lupakan berbagai pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya dapat dikerjakan nanti atau dibagi kepada pasangan dan asisten rumah tangga karena kesehatan fisik dan psikis kita lebih penting.

Baca juga: Menjadi Ibu yang (Tidak) Sempurna

  1. Jangan lupa mengurus dirimu sendiri

Di satu sisi, bayi baru lahir memang tidak berdaya dan sangat bergantung dengan orang dewasa. Namun di lain sisi, untuk memiliki kemampuan merawat dan menyayanginya, seseorang harus merawat dan menyayangi diri sendiri terlebih dahulu.

Seorang ibu juga adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan fisik, mental dan spiritual. Karenanya, sebisa mungkin carilah waktu dan orang-orang yang bisa menggantikan menjaga bayi sesaat selagi kita memenuhi kebutuhan dasar yang dapat membuat seorang ibu bahagia dan lebih santai.

  1. Melakukan kesalahan itu wajar dan tidak perlu menyesali lama-lama

Bayi baru lahir itu begitu mungil dan ringan, sementara yang berat itu beban mental yang ada di pundak seorang ibu baru dan ketakutannya akan melakukan tindakan yang salah. Padahal, setiap ibu pasti tidak bisa menghindari diri dari kesalahan.

Mulailah untuk mewajarkan melakukan kesalahan. Namun, kita harus terus belajar dan dari setiap kesalahan yang ada dan segera bangkit. Saat ibu merasa down dan menyesali dalam waktu lama kesalahan yang ia perbuat saat merawat bayi, masalah-masalah lain akan menumpuk di depan dan bisa membuatnya semakin terpuruk kemudian.

  1. You do you

Tidak ada perbedaan cinta antara ibu yang melahirkan normal dan yang menjalani operasi caesar, menyusui atau memberi susu formula, merawat anak kandung, adopsi atau anak tiri, menggunakan jasa pengasuh atau merawat sendiri. Berbagai pilihan tersebut juga tidak akan membuatmu lebih salah dibanding ibu yang lainnya. Dengan memutuskan untuk menjadi ibu saja sudah cukup dan sangat luar biasa!

Lakukanlah peranmu sebagai ibu sesuai kemampuan dan keinginanmu karena hal tersebut membuatmu bahagia dan tidak membahayakan siapa pun, bukan karena bertujuan untuk membuat orang lain bahagia dengan memenuhi ekspektasi mereka tentang pengasuhan bayi. Terus-terusan berusaha menyenangkan orang lain adalah hal menyesatkan, bahkan jika orang itu adalah pasangan, orangtua, mertua atau sahabat.

Baca juga: Pilihan atau Tuntutan: Refleksi 2 Ibu Rumah Tangga

Sebuah kutipan yang sangat terkenal dari Simone de Beauvoir mengatakan “One is not born, but rather becomes a woman”. Dalam konteks matrescence, ini bisa dipelintir menjadi, “One is not born, but rather becomes a mother”.  Ketika seorang anak lahir, seorang perempuan sebenarnya kembali melahirkan dirinya dalam versi baru.

Tidak ada seorang perempuan pun yang dengan serta-merta terlahir ke dunia ini telah pandai dan mengerti bagaimana caranya menjadi ibu. Maka tenanglah dan percayalah, terlalu keras terhadap diri hanya akan menyakiti kita sendiri dan juga berimbas pada orang-orang yang kita sayangi.

Ilustrasi oleh: Bini Fitriani

Bini Fitriani adalah seorang ibu dua anak, desainer interior yang sedang melanjutkan studi S2 Kajian Gender di UI, baru saja meluncurkan debut buku memoar perjalanan yang berjudul "A Dream of Me and You" yang dipublikasikan sendiri.