March 22, 2017
Memaknai Perselingkuhan

Dalam kasus perselingkuhan, tidak ada salahnya jika seorang istri/ibu memprioritaskan kebahagiaan dirinya tanpa bermaksud mengesampingkan kondisi anak-anak.

by Izmy
Issues // Politics and Society
Share:
Akhir-akhir ini muncul pemberitaan mengenai beberapa cerita perselingkuhan yang sengaja di blow up lewat media sosial. Hal ini dilakukan oleh istri-istri yang suaminya berselingkuh, dan kemudian kisah mereka berakhir dengan perceraian.

Respon pembaca terbagi, banyak sekali yang merasa hal tersebut sangat tabu atau tidak pantas untuk diumbar pada khalayak. Namun, tidak sedikit pula yang mendukung tindakan korban tersebut atas dasar kesamaan cara berpikir dan merasa perasaannya terwakili karena kesamaan pengalaman.

Melihat respon yang demikian, saya bergidik ngeri. Perselingkuhan dan perceraian itu nyata adanya dan sangat plural. Situasi akan menjadi sangat dilematis dengan kehadiran anak di antara pasangan yang terlibat kasus perselingkuhan. Saya sendiri berasal produk dari keluarga yang demikian. Dan selama perjalanan hidup saya, saya berada dalam lingkaran pertemanan yang diantaranya juga mengalami hal yang sama dalam keluarganya. Saya dan sebagian besar teman saya merasakan bagaimana dampak perselingkuhan tersebut membekas dalam diri kami dan sedikit banyak mempengaruhi cara kami memandang nilai komitmen dan laki-laki.

Saya tidak akan membicarakan siapa yang salah atau siapa yang benar dalam sebuah kasus perselingkuhan. Setiap orang tentu memiliki alasan masing-masing sampai berselingkuh. Yang akan saya garis bawahi di sini adalah posisi perempuan yang seringkali seperti kehilangan daya ketika pasangannya tidak setia.

Teman saya bercerita bahwa ketika ibunya mengetahui bahwa sang suami berselingkuh, yang dia lakukan hanyalah diam dan menerima kondisi itu selama bertahun-tahun atas alasan peran suami sebagai tulang punggung utama keluarga. Sementara itu, Ibu saya menerima perselingkuhan yang dilakukan Ayah dan bertahan dalam pernikahan demi menjaga kondisi psikis anak dan nama baik suami di depan kolega dan keluarga.




Apakah kita sebagai perempuan tidak boleh memilih untuk bahagia dan merdeka?

Apakah istri yang merangkap beban ganda sebagai ibu rumah tangga harus tetap berperilaku menjaga perasaan dan emosinya, mengorbankan dirinya demi keutuhan rumah tangga? Atau untuk menjaga norma dan konstruksi sosial akan peran gender yang telah langgeng sekian lama?

Semua ini memang perkara memilih. Akan tetapi tidak ada salahnya jika seorang istri/ibu memprioritaskan untuk membahagiakan dirinya terlebih dahulu, jelas tanpa bermaksud untuk mengesampingkan kondisi anak-anak. Di sini peran besar logika dalam mengalahkan perasaan, bahwa kehidupan akan terus berjalan dan meninggalkan sesuatu yang sudah tidak layak untuk dimiliki atau diperjuangkan dengan harapan dapat meraih kehidupan yang lebih baik, sangat sah dilakukan siapa pun. Perempuan punya hak untuk mengatur jalan hidupnya sendiri tanpa bergantung dan dipengaruhi oleh siapa pun.

Menembus berbagai stigma serta konstruksi sosial budaya memang tidak mudah. Ketika perempuan menjadi pihak pertama yang menjatuhkan talak, semua orang akan mempertanyakan di mana kepatutan ia sebagai seorang istri/ibu ketika memutuskan untuk mengambil langkah perceraian. 

Isu perselingkuhan seringkali dikaitkan dengan rasa ketidakpuasan suami terhadap istri sehingga muncul perempuan idaman lain di tengah-tengah hubungan mereka. Begitu pun yang terjadi pada perempuan-perempuan di atas yang saya singgung di awal. Walaupun penuh kecaman sana-sini, mereka mampu tegar menceritakan dan membagikan kisahnya kepada masyarakat luas. Tujuan mereka adalah menularkan semangat keberanian dan ketegasan mereka bahwa perempuan dapat memilih kebahagiannya tanpa harus selalu berada dalam ketiak orang lain serta berani keluar dari hal-hal yang mengungkung perempuan untuk selalu tampak sempurna di mata masyarakat.

(terinspirasi dari kisah Nilam Sari, pemilik kebab Baba Rafi, dan Ary Yogeswary)

Izmy sedang menempuh studi pasca sarjana ilmu Antropologi, mudah ditemukan di kedai kopi terdekat.

*Gambar oleh Sharon Palmer