March, 27 2019
‘Femme in STEM’ Ingin Patahkan Diskriminasi, Stereotip Gender dalam STEM

Sekelompok mahasiswi teknik meluncurkan inisiatif untuk mendorong mematahkan stereotip dan diskriminasi gender di bidang STEM.

by Shafira Amalia, Reporter
Issues // Politics and Society
Share:

Maura Manurung, 21, tertegun membaca nama-nama di struktur kemahasiswaan dan ketua himpunan mahasiswa di jurusannya, Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB). Semua nama yang tertulis di situ adalah laki-laki.

Pada saat yang sama, ia mendengar komentar dari segerombolan mahasiswa yang melihat ada poster kandidat calon ketua himpunan yang perempuan. “Serius ini, kok dia nyalonin diri jadi ketua? Kan dia cewek?” ujar salah satu dari mahasiswa itu, yang diamini oleh teman-temannya.

Di jurusan Teknik Sipil sendiri, yang masih didominasi laki-laki, Maura sempat ditunjuk menjadi “ketua perempuan”, sesuatu yang menggelikan baginya tapi ia terpaksa terima.

“Ketua angkatan itu selalu laki-laki, tapi dipilih juga ‘ketua perempuan’ dengan alasan ‘agar cewek-ceweknya ada yang ngurus’. Apakah ketua yang laki-laki disebut sebagai ketua laki-laki? Tidak, mereka dilihat sebagai ketua secara umumnya,” ujar Maura kepada Magdalene baru-baru ini.

Dipertanyakan, diragukan, diremehkan, itulah yang dihadapi oleh perempuan di bidang Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika, atau sering kali disebut STEM.

“Bidang ini sudah terlalu identik sebagai bidang yang maskulin. Perempuan yang menekuni bidang ini dianggap tidak pantas untuk menghadapi bidang yang ‘keras’ ini,” kata Maura.

Di dunia kerja, hal yang sama masih ditemui oleh perempuan lulusan STEM, seperti yang dialami oleh Vania Dwi Adinda, senior Maura di Teknik Sipil. Saat ia magang di suatu perusahaan kontraktor, ia tertegun melihat lautan laki-laki di kantor itu. “Where are my fellow females?” batin Vania.

“Pekerjaan (dalam jurusan kita) itu sering kali per proyek dan kalau lokasinya remote, perempuan tetap harus kembali ke keluarganya. Perusahaan melihat ini sebagai hal yang tidak sustainable,” kata Vania.

Vania menambahkan bahwa ia mendengar perempuan kesulitan bahkan untuk lolos tahap awal dari wawancara kerja di berbagai perusahaan di STEM.

“Sekitar sepertiga perempuan yang ada di satu angkatan Teknik Sipil ITB tidak diterima di perusahaan kontraktor besar. Sementara itu, lebih dari 50 persen laki-laki itu lolos,” ujarnya.

Banyak mahasiswi Teknik Sipil kemudian menjadi tidak percaya diri untuk melamar bekerja di perusahaan kontraktor, kata Dinda.

Diskriminasi yang dihadapi para perempuan di dunia STEM ini kemudian mendorong Maura dan Vania, serta beberapa teman perempuan lainnya dari jurusan Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan ITB membentuk organisasi Femme in STEM pada 2018. Para mahasiswa ini ingin mendorong perempuan lain untuk menekuni bidang ini dan mendobrak stereotip dan bias gender yang ada.

STEM memang selalu dianggap terlalu maskulin dan perempuan dianggap tidak pantas untuk terjun ke dalam bidang ini. Hal ini berlaku global, terlihat dari data Badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, yang menunjukkan bahwa hanya ada 30 persen perempuan dalam bidang STEM di seluruh dunia. Di Asia, angka tersebut hanya mencapai 18 persen.

Pemberdayaan mahasiswi

Femme in STEM bertujuan untuk menjadi sarana pemberdayaan berbasis mahasiswa, dengan kegiatan seperti lokakarya dan konferensi tahunan untuk para perempuan di bidang STEM. Salah satu visi utama mereka adalah untuk mempromosikan kontribusi dan juga representasi perempuan di bidang STEM.

“Kita ingin memperkenalkan perempuan-perempuan hebat yang sudah terjun di dalam bidang ini. Representasi perempuan itu sangat penting untuk mendorong perempuan lainnya, terutama mahasiswi lainnya seperti kita,” kata Dinda.

Femme in STEM juga ingin meningkatkan kesadaran mahasiswi mengenai ketidaksetaraan yang dihadapi mereka dalam karier di bidang STEM. Kelompok ini ingin mempersiapkan para mahasiswi STEM dengan keahlian yang mereka perlukan di dalam bidang ini.

“Karena ini, kita mengadakan bootcamp dan juga mini workshops untuk melatih hard skills dan juga soft skills mereka,” kata Vania.

Dalam konferensi kedua mereka yang bertema “The Future of Indonesian Women in STEM” di Bandung (16/2), Femme in STEM mengundang para pembicara yang sudah menduduki posisi tinggi dalam pekerjaan di bidang STEM untuk berbagi pengalaman. Pembicara-pembicara itu termasuk pengusaha perusahaan rintisan teknologi Fransiska Hadiwidjana dan Leonika Sari, serta Weni Maulina.

Alumnus Teknik Sipil ITB pada 2009, Weni saat ini mengepalai Divisi Teknik PT MRT Jakarta. Ia mengatakan bahwa stereotip STEM adalah bidang yang maskulin masih sulit untuk dipatahkan.

“Perempuan-perempuan di STEM itu ada dan tidak sedikit, dan hasil pekerjaannya juga selalu maksimal. Tetapi aku percaya bahwa kalau kamu percaya sama diri sendiri, fokus dan punya integritas tinggi, kamu pasti bisa,” lanjutnya.

Weni mengatakan ia merasa beruntung karena keterlibatan perempuan di MRT Jakarta cukup baik di posisi tinggi. Selain Weni sebagai Engineering Head, ada Sylvia Halim sebagai Construction Director, Alia Sandra sebagai Railway Engineering Department Head, serta Dewi Sulistyaningsih sebagai Project Control and Monitoring Department Head.

Secara keseluruhan, dibandingkan perusahaan teknik lain, komposisi gender di MRT Jakarta cukup banyak meskipun masih belum berimbang. Dari 68 pegawai dalam Divisi Konstruksi ada 22 perempuan; dari 365 orang di bidang operasi dan pemeliharaan, ada 75 perempuan; dan ada sembilan masinis perempuan dari total 54 orang.

Sejumlah perusahaan telah melakukan inisiatif untuk meningkatkan kesetaraan gender, salah satunya perusahaan perminyakan Schlumberger. Laboratory Engineer Therecia Sihombing, yang hadir dalam acara di Bandung, mengatakan bahwa perusahaan tersebut memiliki program “Bond to Excel” untuk mencapai 25 persen pekerja perempuan di Schlumberger pada tahun 2020.

Schlumberger memfasilitasi para pekerja perempuannya dengan waktu kerja yang fleksibel dengan menerapi output-based work, yaitu memfokuskan kepada hasil kerja bukan waktunya. Perempuan juga sangat memungkinkan untuk menduduki jabatan manajerial.

“Kesetaraan gender adalah penting. Hasil riset Lembaga Konsultan McKinsey menunjukkan bahwa dengan setiap 10 persen peningkatan kesetaraan gender, penghasilan perusahaan meningkat 3.5 persen. Data Schlumberger juga menunjukkan bahwa adanya kesetaraan gender bukan hanya berdampak baik untuk pekerja perempuannya, tetapi juga untuk keuntungan perusahaan,” ujar Therecia.

Maura mengatakan bahwa Femme in STEM akan terus menampilkan perempuan-perempuan berhasil di bidang ini untuk menyemangati para mahasiswi STEM.

“Meskipun jumlah perempuan di STEM belum banyak, ada alasan kuat untuk merayakan perempuan-perempuan ini, apa yang mereka capai dan membuka jalan bagi perempuan yang ingin mengikuti jejak mereka. Ini akan terus kita perjuangkan di setiap konferensi Femme in STEM ke depannya," ujarnya.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Shafira Amalia is an International Relations graduate from Parahyangan Catholic University in Bandung. Too tempted by her passion for writing, she declined the dreams of her young self to become a diplomat to be a reporter. Her dreams is to meet Billie Eilish but destroying patriarchy would be cool too.

Follow her on Instagram at @sapphire.dust where she's normally active.