April 22, 2020
Meneladani Kepemimpinan Jacinda Ardern di Tengah Pandemi

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menunjukkan pentingnya empati dalam memimpin negeri di tengah krisis dan perubahan besar.

by Suze Wilson
Wo/Men We Love
Jacinda Ardern
Share:

Bayangkan, jika Anda bisa, bagaimana rasanya mengambil keputusan yang berdampak pada nasib ribuan orang. Jika Anda salah mengambil keputusan, atau menunda mengambil keputusan, mereka akan mati.

Keputusan Anda berdampak pada penghidupan ribuan orang, mengakibatkan disrupsi ekonomi yang besar, PHK massal, dan tutupnya usaha-usaha. Bayangkan Anda harus bertindak cepat tanpa memiliki kepastian penuh apakah keputusan tersebut akan sesuai dengan hasil yang Anda harapkan.

Sekarang, bayangkan pula jika mengubah keputusan Anda tersebut menjadi tindakan yang efektif bergantung pada dukungan jutaan orang.

Ya, Anda memiliki kewenangan untuk memaksa. Namun, kesuksesan atau kegagalan bergantung pada mayoritas orang memilih untuk mengikuti kepemimpinan Anda—meskipun itu berarti perubahan yang mendadak, meresahkan, dan tidak pernah dilakukan sebelumnya pada kehidupan sehari-hari mereka. Ini adalah realitas pahit yang dihadapi para pemimpin politik di seluruh dunia dalam merespons COVID-19.

Sebagai seseorang yang meneliti dan mengajar kepemimpinan—dan juga pernah bekerja sebagai pejabat publik senior baik di bawah pemerintahan Partai Nasional maupun Buruh Selandia Baru—saya berargumen bahwa Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memberikan teladan bagi banyak politikus Barat dalam kepemimpinan di tengah krisis.

Tiga keahlian berkomunikasi yang diperlukan semua pemimpin

Dalam menilai respons kesehatan masyarakat Selandia Baru, warga seharusnya mendengarkan para epidemiolog seperti Profesor Michael Baker dari University Otago. Pada 3 April, Baker mengatakan Selandia Baru memiliki “karantina wilayah yang paling tegas dan kuat di dunia saat ini”, dan  Selandia Baru adalah “yang paling menonjol sebagai satu-satunya negara Barat yang memiliki tujuan mengeliminasi” COVID-19.

Namun, bagaimana kita bisa menilai kepemimpinan Ardern dalam membuat keputusan yang sulit tersebut? Kita bisa mulai dengan penelitian profesor Amerika Serikat Jacqueline dan Milton Mayfield terkait komunikasi kepemimpinan yang efektif.

Model yang Mayfield kembangkan berdasarkan penelitian yang menekankan “pengarahan”, “pembangunan makna”, dan “empati” sebagai tiga hal kunci yang seorang pemimpin harus berikan untuk memotivasi para pengikutnya agar mereka memberikan yang terbaik.

Baca juga: #SetaraituNyata: Mendorong Kepemimpinan Perempuan, Mengakhiri Ketimpangan Gender

Menjadi motivator publik adalah hal yang penting bagi para pemimpin, namun banyak yang gagal. Penelitian tersebut menunjukkan “pengarahan” terlalu sering dipakai, sementara dua elemen lainnya jarang disentuh.

Respons Ardern terhadap COVID-19 menggunakan ketiga pendekatan tersebut. Dalam mengarahkan rakyat Selandia Baru agar “diam di rumah agar orang lain selamat”, dia turut menawarkan makna dan tujuan atas arahan tersebut.

Dengan turut mengakui tantangan agar diam di rumah—mulai dari kehidupan keluarga dan kerja yang terganggu, hingga tidak dapat menghadiri pemakaman orang yang dikasihi—dia menunjukkan empati dalam permohonannya tersebut.

Konferensi pers pada 23 Maret yang mengumumkan karantina wilayah Selandia Baru adalah contoh pendekatan lihai Ardern, dimulai dari pidato yang dibuat dengan hati-hati, dan dilanjutkan sesi tanya jawab dengan media secara ekstensif.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah merekam terlebih dahulu pengumuman pada 24 Maret terkait karantina wilayah negaranya. Saat itu, media tidak diberi kesempatan untuk bertanya terkait kebijakan yang diambil, sementara dia membingkai situasi tersebut sebagai sebuah “instruksi” pemerintah, dengan menekankan secara tegas langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah dalam menegakkan kebijakan tersebut.

Jika Ardern memadukan pengarahan, kepedulian, dan pembangunan makna, Johnson cenderung mencari “kepatuhan”.

Memberikan kesempatan beradaptasi

Pendekatan Arden juga kuat merefleksikan apa yang telah lama disebut akademisi Harvard bidang kepemimpinan Profesor Ronald Heifetz sebagai vital, meski juga jarang dan sulit dilakukan, dalam memimpin di tengah perubahan.

Ardern memanfaatkan pengumuman yang disiarkan di televisi dan sesi Facebook Live secara reguler untuk membingkai dengan jelas pertanyaan-pertanyaan dan isu-isu utama yang memerlukan perhatian.

Yang juga konsisten dengan ajaran Heifetz adalah bagaimana Ardern mengembangkan kerangka kerja yang transparan terkait tingkat bahaya dalam pengambilan keputusan—kerangka kerja level peringatan pemerintah Selandia Baru—yang memberikan orang-orang kesempatan agar dapat memahami apa yang terjadi dan mengapa.

Yang terpenting, kerangka kerja yang terdiri atas empat level tersebut dirilis dan dijelaskan sejak dini, dua hari sebelum karantina wilayah total diumumkan. Bandingkan dengan pesan-pesan yang saling bertolak belakang dan terkadang membingungkan dari pemimpin negara lain seperti Australia dan Inggris.

Baca juga: Kesamaan Gaya Memimpin 2 Wali Kota Perempuan di Tengah Pandemi

Meyakinkan rakyat agar bertindak untuk kepentingan bersama

Akademisi lain di bidang kepemimpinan, Profesor Keith Grint dari Inggris, juga menjelaskan pendekatan Ardern selama krisis ini. Bagi Grint, kepemimpinan melibatkan upaya meyakinkan massa agar bertindak secara bertanggung jawab terhadap masalah bersama. Apa yang dijelaskan Ardern selama ini didedikasikan untuk hal tersebut, dan terbukti efektif, setidaknya sejauh ini. Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan 80 persen dukungan terhadap respons pemerintah Selandia Baru terkait COVID-19.

Grint juga berargumen bahwa dalam menghadapi  masalah yang kompleks, memecah belah, dan tidak dapat diselesaikan dengan mudah, para pemimpin harus menanyakan pertanyaan sulit yang akan mengganggu cara berpikir dan berperilaku yang ada selama ini.

Ini jelas telah terjadi di Selandia Baru, dilihat dari serangkaian inisiatif yang pemerintah negara tersebut telah ambil untuk merespons pandemi ini, termasuk keputusan untuk menerapkan karantina wilayah total relatif cukup cepat jika dibandingkan dengan banyak, tapi tidak semua, negara.

Tentu, tidak semua berjalan sempurna terkait respons COVID-19 Selandia Baru ataupun Ardern. Pengawasan yang dilakukan secara terus menerus dan independen terhadap respons pemerintah Selandia Baru tetap diperlukan.

Namun seperti yang penelitian saya sendiri telah tunjukkan, mengharapkan kesempurnaan dari para pemimpin, terutama di masa-masa sulit seperti ini, adalah sesuatu yang sia-sia. Itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Kita juga tidak boleh membiarkan "kesempurnaan” menjadi musuh kinerja “bagus”, apalagi ketika ketepatan waktu dan kompleksitas masalah adalah kunci dalam konteks pengambilan keputusan tersebut

Apakah Anda membandingkan kinerja Ardern dengan pemimpin negara Barat lainnya, atau menilai upaya-upanya menggunakan metode penilaian para peneliti di bidang kepemimpinan yang teladan, ataupun tidak sama sekali, sebagai warga negara Selandia Baru, saya pikir ada banyak hal yang patut kami syukuri atas caranya memimpin kami melalui krisis ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Suze Wilson adalah pengajar di bidang Executive Development, Massey University.