September 16, 2016
Menemukan Wajahku dalam Wajahmu

Seorang laki-laki muda yang menghadapi kekerasan sejak kecil karena orientasi seksualnya akhirnya menemukan cinta. Setidaknya, itulah pemikirannya.

by Sebastian Partogi
Culture
Share:
Aku heran bagaimana orang bisa mengenali diriku sebagai Igo dan tidak pernah terlihat kebingungan saat bertemu denganku.

Berbeda dengan manusia pada umumnya, yang biasanya memiliki bentuk wajah yang khas dan membedakan diri mereka dari orang lain (bahkan saudara kembar identik pun memiliki perbedaan yang dapat dikenali), aku adalah seorang manusia yang tidak berwajah.

Ketika aku bercermin, aku dapat melihat bagian torso, kedua lengan, dan rambutku. Tetapi tidak wajahku. Sebuah bundaran besar yang biasanya diisi oleh mata, alis, hidung dan bibir yang bentuknya kemudian menjadi ciri pembeda dari satu manusia ke manusia lain tidak aku miliki. Aku tidak mengenali wajahku sendiri.

Pertama kali aku menyadari hal ini adalah ketika aku berusia lima tahun, setelah aku disodomi oleh pamanku di rumah. Aku bercermin dan melihat lubang hitam besar di wajahku. Orang orang yang biasa menyaksikan film horor mungkin akan menjerit ketika melihat bayangan seperti ini kala bercermin. Aku tidak terkejut dan menerima mungkin seperti itulah wajahku.

Mungkin karena lubang hitam itulah maka aku selalu dibenci. Atau karena aku selalu dibenci makanya wajahku menjelma lubang hitam? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, setelah disodomi, berentet-rentet kesialan lain menyapa hidupku: aku direndam ayah ibuku di dalam bak mandi di pukul 4 subuh saat berusia enam tahun untuk mengusir roh jahat yang telah menjadikanku seorang lelaki yang keperempuan-perempuanan. Berbagai macam deraan dari keluarga besar tak pernah berhenti mendera telingaku. Dasar banci. Anak gak normal. Cemen. Kemayu. Keperempuan-keperempuanan. Menjijikkan.




Lambat laun, kata-kata yang sudah sangat familiar itu pun tidak pernah berhenti meraung-raung saat aku masuk sekolah, dari kelas 1 SD hingga lulus kuliah. Kelaminku berkali-kali ditendang: pertama oleh sepupu perempuanku yang tomboy bernama Dea. Kemudian oleh teman sekolahku. Wajahku ditampar. Rambutku dijambak. Dan mereka merasa boleh melakukan semua itu karena aku banci. Karena aku abnormal. Karena aku bukan manusia. Karena aku melanggar norma-norma agama, tidak sesuai citraan Allah.

Ketika aku dan keluargaku menyadari bahwa diriku homoseksual, mereka membawaku ke pendeta untuk melakukan pengusiran setan secara publik di altar gereja. Setan tidak pernah pergi. Lalu aku diasingkan dari keluarga. Diminta mencopot nama marga karena hanya akan mendatangkan malu. Aku manut dan pasrah.

Akhirnya aku bekerja jadi wartawan di sebuah harian nasional. Wajahku tetap tidak ada.

***

Terombang ambing dalam nasib dan kesepian, aku menjadi vampir emosional yang bergentayangan dari satu perkumpulan ke perkumpulan lain, dari satu komunitas ke komunitas lain.

Aku suka sastra dan puisi makanya aku ikut sebuah perkumpulan pecinta puisi di Jakarta. Di situlah, aku bertemu dengan Ubir, seorang perempuan berusia 30-an tahun yang kemudian mendekati diriku. Ternyata obrolan kami cocok. Dia mengajak diriku untuk ikut perkumpulan penulis yang lain yang didirikannya. Nama perkumpulan itu ganjil. Perkumpulan Penulis Gagal Tapi Sengak (P2GTS).

“Lha, Bir, namanya kok begitu?” aku bertanya polos pada Ubir.

“Iya soalnya anggota-anggotanya penulis gagal semua. Ada yang mau jadi sastrawan tapi malah jadi penulis roman picisan karena ternyata gak ada bakat. Akhirnya supaya mereka gak minder, aku bilangin, gak apa-apa gagal, yang penting sengak!” jelas Ubir.

***

Ubir mendirikan P2GTS bersama Sobir. Ubir adalah guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA dan Sobir adalah penulis tentang seks di sebuah majalah pria dewasa. Sobir adalah pria homoseksual yang menjalani kehidupan heteroseksual hanya untuk memenuhi norma-norma masyarakat. Padahal kalau urusan ngeseks sama laki sih, jalan terus.

“Sobir, tau enggak, gue baru aja ngerekrut orang baru ke klub kita. Dia orangnya culun dan kurang pede gitu kelihatannya. Cocok untuk kita jadiin bulan-bulanan, pelampiasan rasa minder kita,” ujar Ubir usai pertemuan P2GTS minggu tersebut.

“Hahaha. Bagus, kapan dia mulai bergabung? Gue dah gak sabar untuk menyek-menyekin orang lagi nih...” ujar Sobir.

“Minggu depan. Siap siap aja,” ujar Ubir sambil menyeringai jahat.

***

Pada minggu berikutnya.

“Go, giliran kamu membacakan cerpenmu,” kata Ubir padaku.

Sementara itu aku terus melihat ke arah Rangga. Wajahnya yang tampan, kancing kemejanya yang terbuka dan memperlihatkan bulu dadanya membuatku susah berkonsentrasi. Tapi toh aku harus membacakan ceritaku. Akhirnya aku membacakan cerpenku sampai habis.

“Cuih! Ceritamu mirip cerita sinetron! Terlalu banyak tampar-tamparan!” Sobir segera menyeletuk setelah cerpenku selesai.

“Kayaknya kamu berbakat jadi penulis sinetron deh, bikin aja naskah sinetron Anjing 1, Anjing season 2, Anjing season 3... Hahahaha!!!” ujar Sobir dengan suaranya yang menghina.

Aku merasa ada belati menusuk jantungku dan tali-temali tebal yang tiba-tiba membelit paru-paruku sehingga aku kesulitan bernapas.

Melihat ini, Ubir pun segera berkomentar dengan sinis.

“Jangan minder, Go. Jadi penulis naskah sinetron itu bayarannya besar kok. Hahahaha!” lalu tertawa sarkastik dengan suaranya yang mirip halilintar.

Aku menundukkan kepalaku dengan sedih. Lalu menatap Rangga lagi. Ia tersenyum kepadaku. Aku merasa bunga kecil yang ada di selangkanganku merekah. Aku akan segera memijatnya sampai rumah agar ia menyirami saraf-saraf otakku dengan kenikmatan[1].

Sepertinya aku jatuh cinta.

***

Sejak aku berkencan dengan Rangga, hidupku berubah. Aku benar-benar mabuk kepayang. Salah satu perubahan yang kualami adalah: ketika aku bercermin, yang terlihat di bagian depan kepalaku bukan lagi sebuah lubang hitam, tetapi wajahnya yang tampan. Ketika aku tersenyum, wajah “Rangga” pun tersenyum kembali padaku di cermin.

Aku merasa, mungkin kami memang saudara kembar. Begitu banyak persamaan antara kami. Tubuh kami, misalnya, sama-sama setinggi 180 sentimeter. Kulit kami sama-sama terang. Aku berasal dari Sumatera Utara dan dia dari Sulawesi Utara. Suku kami sama-sama gemar menyantap makanan yang dianggap menjijikkan oleh suku lainnya: sukuku senang makan daging anjing buluk dan sukunya senang makan tikus.

Kami sering bersenggama berdua di apartemennya. Inilah pertama kalinya kembang kecil di selangkanganku mekar dan berpolinasi karena disentuh orang lain, bukan karena disentuh tanganku sendiri.

Dan aku senang sekali, karena untuk pertama kalinya, aku tahu rasanya bercermin dan menemukan wajahku sendiri disitu, bukan sebuah lubang hitam yang ganjil dan kosong.

***

Aku ini memang bodoh. Tidak akan ada seorangpun yang menginginkan diriku secara tulus. Orangtua kandung dan keluargaku saja tega mencampakkan aku kok. Dengan bodohnya aku pikir bahwa Rangga benar-benar menginginkanku. Ternyata dia hanya menggunakan tubuhku saja untuk kepuasan sesaat.

Malam itu, aku meliput pertunjukan perdana sebuah film. Saat ke toilet laki-laki, aku menangkap basah Rangga dan Sobir sedang berciuman.

***

 “Kira-kira, apakah virus itu sudah menular ke Igo?” tanya Sobir.

“Aku pikir sudah. Berkali-kali aku mengajak dia senggama tanpa kondom, tanpa pelumas. Aku tahu pasti lelaki lugu dan kurang pergaulan itu tak akan keberatan. Sudah bagus ada lelaki yang mau menjamah dia. Cih! Culun dan jelek begitu!” ujar Rangga.

“Aku lebih cakep dari Igo kan, sayang...” tanya Sobir.

“Tentu dong... Cowok cakep sepertiku juga akan memilih cowok cakep sepertimu...” ujar Rangga sambil menatap mata Sobir penuh kasih sayang.

“Duh, kamu bisa aja. Sepertinya virus itu juga sudah mulai menggerogoti istriku. Moga-moga aku cepat dapat kepastian bahwa dia positif. Biarin aja dia cepat mati, biar aku bisa jadi duda, dan orang-orang pun akan kasihan padaku, yang ditinggal pergi istrinya, padahal aku tetap memuaskan dahaga birahiku sama kamu dan banyak lelaki lainnya! Aku akan menikmati kebebasan! Hahaha!!!” ujar Sobir sambil tertawa kebebasan.

“Untuk kebebasan!” Rangga dan Sobir pun tos lalu meminum anggur merah mereka.

***

LIMA TAHUN telah berlalu. HIV mulai menggerogoti tubuhku. Aku semakin merasa terkucilkan dan tercampakkan. Tak ada lagi orang yang mau bergaul denganku. Aku tidak bisa bekerja dengan stamina penuh lagi sebagai wartawan seperti sebelumnya. Posisiku diturunkan menjadi penulis iklan, supaya tidak terlalu sering ke lapangan dan keletihan. Pukulan berat buatku, yang bercita-cita menjadi wartawan, bukan penulis iklan.

Aku sedang berjalan menuju lemari kamar mandi ketika ponselku berdering. Aku mengeluarkannya dari saku dan melihat SMS yang masuk.

Semoga kamu segera mampus digerogoti virus itu. Selamat datang di klub para penderita! Hahaha. (Rangga).

Aku menelan ludah lalu menghapus SMS tersebut, memasukkan ponsel ke kantung celana panjangku dan masuk ke kamar mandi. Saat melintasi wastafel, sekelebatan aku melihat wajahku. Wajah Rangga. Aku berhenti untuk menatap wajah tersebut lebih lama.

“ANJING BANGSAT KONTOL BABI TAIIIII!!!!!!” PRANGGGG!!!

Aku menatapi kepalan tanganku yang berlumur darah merah kecokelatan dan kepingan-kepingan cermin yang bertebaran di lantai sambil menangis histeris, dipenuhi sesal.

Sebastian Partogi adalah seorang penulis feminis yang tinggal di Jakarta.
 
[1] Meminjam kalimat Oka Rusmini.