Women Lead
July 14, 2021

Mengapa Anak-anak Perlu Diajarkan Membangun Jejak Digital Positif?

Jejak digital bisa menjadi beban bagi anak-anak di masa depan, tetapi ini juga dapat menjadi aset apabila mereka mengelola jejak digital yang positif.

by Rachel Buchanan
Issues
Share:

Sejak kecil, anak perlu mendapat pengetahuan mengenai bagaimana meninggalkan jejak digital yang positif. Ini lebih baik dibanding hanya mengajarkan mereka mengenai keamanan internet dan mengurangi jejak digital. Pasalnya, mengelola jejak digital positif nantinya akan menjadi aset bagi mereka di masa depan.

Anak-anak zaman sekarang adalah pengguna internet yang produktif. Orang-orang semakin mencemaskan dampak jejak digital di masa depan yang sedang mereka buat sekarang. Sementara banyak diskusi soal ini fokus pada menjaga anak-anak tetap aman, hanya sedikit yang diketahui tentang bagaimana anak-anak mengelola jejak digital mereka.

Meski jejak digital dianggap sebagai beban, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi aset. Jejak digital bisa menunjukkan identitas, keterampilan, dan minat. Ini penting dalam era di mana perusahaan “meng-google” pelamar untuk memeriksa identitas mereka dan memverifikasi kesesuaian data mereka. Dalam konteks ini, tidak memiliki jejak digital bisa sama tidak menguntungkannya dengan jejak digital yang dikelola dengan buruk.

Proyek “Best Footprint Forward” menyelidiki apa yang anak-anak ketahui soal jejak digital. Dalam proyek ini, dibentuk focus group yang terdiri dari 33 anak berusia 10-12 tahun dari tiga sekolah di daerah New South Wales. Analisis pada focus group mengungkapkan, anak-anak memiliki strategi untuk tetap aman dalam jaringan, tapi mereka memerlukan pedoman lebih jauh tentang bagaimana membangun jejak digital yang positif.

Baca juga: Literasi Digital Penting Diterapkan sejak Sekolah Dasar

Apa yang Anak-anak Ketahui dan Lakukan soal Jejak Digital

Proyek ini menemukan, meski anak-anak menggunakan internet untuk berbagai tujuan (misalnya mengerjakan PR, bermain, menonton video), aktivitas daring yang paling populer adalah berkomunikasi dengan teman.

Anak-anak tahu bahwa jejak digital itu:

  1. Apa yang kamu taruh di jaringan akan tetap berada di sana
  2. Orang bisa menemukanmu bila kamu meninggalkan informasi yang mengidentifikasi, seperti alamat atau nama lengkap
  3. Bos akan memeriksa media sosialmu.

Mereka membicarakan soal keamanan kata sandi, jangan menempatkan detail pribadi daring (seperti nama, alamat dan tanggal lahir mereka), memblok orang yang mengganggu mereka, mendapatkan saran dari orang tua, tidak mengklik sesuatu yang bodoh, dan tidak mengunggah foto wajah mereka. Mereka menunjukkan kesadaran akan kemungkinan konsekuensi dari tindakan mereka.

Implikasi dari kesadaran jejak digital membuat mereka mencoba meminimalkan tindakan-tindakan tersebut, atau dengan kata lain mencoba tidak terlihat secara daring. 

Mereka utamanya berkomunikasi dengan satu sama lain melalui Instagram, menggunakannya sebagai layanan pesan. Semuanya kecuali satu anak, mengatur akun mereka privat, dan mengunggah foto yang sangat sedikit. Mereka menggunakannya hanya untuk berbicara.

Meski anak-anak dalam studi ini memiliki tingkat kesadaran jejak digital yang tinggi, mereka hanya menyadarinya sebagai liabilitas. Respons mereka tidak meliputi diskusi apa pun tentang manfaat yang ditawarkan oleh jejak digital. Penggunaan Instagram mereka sebagai layanan pesan menunjukkan pendekatan yang cerdas dan pragmatis terhadap masalah ini, seperti yang dikatakan oleh seorang anak perempuan dalam studi, “Internet selalu menyimpannya”.

Baca juga: Ketimpangan Digital di Indonesia Pengaruhi Kemampuan Orang Bertahan Saat Pandemi

Cara Mengajarkan Anak soal Jejak Digital yang Positif

Anak-anak bisa diajarkan untuk mengkurasi kehadiran daring mereka. Mereka bisa diajarkan secara eksplisit bahwa tidak semua yang mereka lakukan daring perlu disembunyikan. Kurasi adalah soal mengetahui apa yang perlu ditampilkan di publik, dan apa yang harus tetap pribadi.

Sementara ini, sudah banyak yang tahu tindakan yang tepat adalah menyimpan percakapan dengan teman dari publik. Tetapi anak-anak juga harus diajarkan bahwa artefak digital yang menunjukkan minat, pencapaian, dan keterampilan mereka bisa bersifat publik dan bisa dikenali. Proyek sekolah, penghargaan, potongan tulisan, dan karya seni digital adalah contoh hal yang baik untuk ditampilkan.

Mengajari anak-anak untuk mengkurasi pencapaian mereka, keterampilan, dan beberapa aspek dari identitas digital mereka akan membantu mereka bersiap untuk kebebasan daring yang lebih luas, yang akan datang seiring dengan periode sekolah menengah.

Kapan Edukasi Jejak Digital Positif Sebaiknya Dimulai?

Ada empat alasan mengapa dua tahun terakhir sekolah dasar akan menjadi waktu yang ideal untuk mulai mengajari anak tentang jejak digital positif:

  1. Mereka kekurangan informasi mengenai hal ini dan tidak sadar bahwa jejak digital bisa menjadi aset positif untuk masa depan mereka.
  2. Anak-anak pada usia ini sedang bertransisi dari yang tadinya dominan main game dan menonton video ke penggunaan internet dan media sosial yang lebih kreatif dan menghasilkan karya.
  3. Gaya pengasuhan yang berbeda berarti tidak semua anak akan mendapatkan informasi ini di rumah.
  4. Kekuatan dari pesan keamanan siber yang mereka dapatkan dari sekolah menunjukkan bahwa pengetahuan ini bisa dibangun sehingga anak-anak diberikan pilihan tentang aktivitas daring mana yang sebaiknya tetap tidak terlihat, dan mana yang akan menguntungkan bila ditampilkan.

Ketika ditanya apa yang ingin kamu ketahui tentang internet, seorang anak perempuan di studi ini bertanya, “Bagaimana internet bisa mengubah masa depan kamu?”

Ini tepat kena ke jantung masalah. Jejak digital bisa menjadi aset atau beban untuk anak-anak. Membangun pengetahuan dengan memberi mereka pedoman untuk mengkurasi kehadiran daring yang positif bisa sangat membantu mereka membentuk masa depan mereka sendiri.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Rachel Buchanan adalah pengajar senior bidang Pendidikan, University of Newcastle.