June 11, 2019
Mengkritik Agama Sendiri, Berani?

Pertemuan dengan berbagai orang dari agama dan kepercayaan berbeda di negara lain membuat penulis semakin terbuka terhadap perbedaan dan pilihan hidup.

by Aprida Sondang
Issues // Politics and Society
Share:

I don’t practice any religion.”

Apa yang kamu dan kita semua pikirkan ketika ada orang yang berkata seperti itu di Indonesia? Mungkin ada yang kaget; ada yang menyatakan, “kok bisa?”; ada yang berpikir “seram”; atau paling ekstrem berkomentar, “wah, masuk neraka!”.

People stare at me as if I were an alien.”

Apa yang kamu pikir dan rasakan, ketika temanmu yang berjilbab curhat seperti itu mengenai pengalamannya di negeri orang? Mungkin ada yang kasihan? Marah? Kesal? Atau jangan-jangan kita yang memandang teman kita seperti alien?

Akhir tahun 2014, saya mengikuti program leadership homestay di Australia dari Gerakan Mari Berbagi (GMB), dan pengalaman ini membuat saya terkaget-kaget. Setiap hari saya pergi ke tempat yang berbeda dan bertemu dengan orang yang beragam di Sunshine Coast, Brisbane hingga Gold Coast.

Orang tua angkat saya terlahir sebagai Kristen, sama seperti saya, tetapi tidak ke gereja dan tidak mengajarkan agama tertentu kepada anak-anaknya. Saya bertemu dengan Senath, perempuan kulit putih asal Afrika Selatan. Ia juga tidak mempraktikkan ritual agama tertentu, tetapi memiliki banyak barang terkait Buddha di rumahnya. Di suatu kesempatan, saya hadir di acara agama Baha’i, yang penganutnya mempercayai ajaran semua agama. Agama ini juga termasuk agama yang tidak umum di Australia. Seminggu kemudian, saya bertemu dengan Mbak Rama, perempuan asal Bali dan beragama Hindu, sementara suaminya orang Australia beragama Buddha. Saya pikir, wah, mereka bebas sekali berekspresi tentang kepercayaannya ya.

Di sana, saya juga mendapatkan kisah-kisah diskriminasi terhadap kelompok kelompok tertentu. Seorang teman dari Community Action for Multicultural Society di Sunshine Coast bercerita bahwa Muslim mendapat perlakuan berbeda di beberapa sektor. Beberapa hari kemudian, saya mendengar sendiri seorang teman yang berkerudung bahwa ia dipandang aneh di tempat umum. Memang selama di Sunshine Coast, cuma dia yang wanita berkerudung yang saya temui.

Beruntung saya bertemu dengan Nora Amath dan Dave Andrews di Leadership Camp sebelum pulang ke Indonesia. Nora, adalah perempuan muslim yang sangat taat terhadap ajaran Islam, dan Dave adalah pria Kristen yang juga sangat mencintai Tuhan. Nora pernah tinggal di sebuah kompleks apartemen di Amerika Serikat dengan tetangga yang berasal dari berbagai agama.

Setiap sore, Nora dan tetangga lainnya sering kali bersantai dan ngobrol bersama. Selama enam bulan kebiasaan ini berlangsung dan mereka saling bercerita kondisi masing-masing. Hingga peristiwa 9/11 terjadi dan menumbuhkan pandangan negatif kepada kelompok muslim. Namun Nora beruntung. Keluarganya dilindungi dan didukung oleh tetangga-tetangganya di sekitar apartemennya. Mereka menanyakan kondisi keluarga Nora dan selalu menguatkan Nora dalam menghadapi kebencian dari pihak lain yang ia alami.  Kejadian itu, menjadi titik balik dalam hidup Nora, dan ia mulai terlibat di gereja-gereja dan di sekolah-sekolah untuk menunjukkan bahwa agama yang ia percayai tidak buruk dan tidak jahat.

Namun, yang terjadi tidak indah dan tidak mudah. Di masa-masa kunjungan tersebut, Nora malah merasa trauma karena orang-orang Kristen yang ia temui berusaha mengubah kepercayaannya. Ia kemudian berhenti berkegiatan di komunitas Kristen hingga tahun 2006, ia bertemu dengan Dave. Apa yang mereka lakukan? Nora mengkritik “Islam ekstremis” dan Dave mengkritik “Kristen ekstremis”. Nora pergi ke gereja bersama Dave untuk menyatakan dukungannya sebagai muslim kepada umat Kristen, dan sebaliknya Dave pergi ke masjid untuk menyatakan kepada kaum Muslim bahwa ia mendukung Islam.

“Don’t argue! Listen and see what we can learn one another,” ujar Nora.“We believe in one God. The God of love, mercy, compassion and grace. God can talk to us through other religion too.”

Saya tercenung. Betul juga. Siapa kita manusia, bisa-bisanya membatasi Tuhan “mengajar dan membentuk” kita hanya dengan cara tertentu? Selama ini kita berpikir agama atau kepercayaan kitalah yang paling benar. Yang lain pokoknya salah! Muslim didiskriminasi di Australia, umat Kristiani mengalami diskriminasi di Indonesia. Dianggap wajar dan alami terjadi, karena ketika kita termasuk dalam kelompok mayoritas dengan banyak pendukung.

Sebelum melalui pengalaman ini, saya sendiri mengakui bahwa saya sering kali di dalam hati ingin mendebat ajaran agama lain. Tapi sekarang berbeda. Sejak bertemu dengan Nora dan Dave, saya belajar bahwa tugas kita adalah membangun kepercayaan dengan teman-teman dengan agama atau kepercayaan yang berbeda, bukan mengkritik ajaran mereka. Sebaliknya, kira harus kritis terhadap tradisi dan ajaran agama kita sendiri.

Setelah itu, selama dua hari berturut-turut, saya dan Matt, perwakilan GMB untuk Australia, mempraktikan hal ini. Tiap jam 6.30 pagi kami duduk dan membahas Alkitab dan berbagi mengenai pendapat masing-masing mengenai ayat yang dibaca. Lucunya, obrolan dan refleksi ayat Alkitab menimbulkan pertanyaan baru tentang suatu konsep menjadi PR pribadi kami untuk mencari tahu.

Dave sendiri membuat buku berjudul Bismillah. Christian Muslim Ramadan Reflections. Buku ini merupakan hasil perenungannya selama bulan Ramadan terhadap konsep Bismillah (Dengan nama Allah). Indah sekali bukan? Belajar tentang agama lain bukan mengubah kepercayaannya, sebaliknya malah membuat Dave makin dalam penghayatannya tentang Tuhan.

Pertemuan dengan berbagai orang dari agama dan kepercayaan berbeda selama program homestay ini membuat saya semakin terbuka terhadap perbedaan dan pilihan hidup. Saya juga menyadari diskriminasi bisa terjadi di mana saja, bahkan di negara sejahtera seperti Australia sekalipun. Tugas untuk menularkan nilai-nilai toleransi ini akan terus berlanjut, setiap hari, dan setiap individu.

Embrace the differences. Open your hand. Hold others who are different, not too tight so that they could crush, but hold them gently. – Nora Amath

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Aprida menamatkan studi pascasarjananya dari University of Manchester. Saat ini ia bekerja di Wahid Foundation yang begerak di isu toleransi antar umat beragama. Selain pekerjaan profesional, ia juga tergabung di organisasi Gerakan Mari Berbagi yang mempromosikan nilai "sharing in diversity".