December, 01 2014
Mengurangi Penyebaran HIV/AIDS oleh 3M

Ada satu kelompok orang yang sangat beresiko tertular dan menularkan HIV/AIDS yang selama ini tidak terjamah oleh kampanye pencegahan HIV/AIDS: pria yang mapan dan bermobilitas tinggi.

by Ramdani Sirait
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Dari sekian banyak kelompok masyarakat yang mendapat perhatian besar dalam penanggulangan dan pencegahan virus HIV dan AIDS, upaya edukasi selama ini lebih ditargetkan kepada kelompok-kelompok seperti pekerja seks komersial, komunitas gay dan waria, atau pengguna narkoba dan jarum suntik.
 
Namun ada kelompok yang tidak dianggap populasi kunci yang sebenarnya memiliki peran yang cukup krusial dalam penyebaran virus HIV/AIDS, yaitu mereka yang masuk dalam kategori “Mobile Men with Money”, atau pria yang mapan dan bermobilitas tinggi.  
 
Mungkin karena mereka adalah orang-orang berpenampilan bersih, berpakaian sesuai fashion terkini, dengan fisik yang menawan karena memiliki uang untuk perawatan tubuh, tinggal di kawasan mewah dan bepergian keliling dunia dan tinggal di hotel-hotel mewah.
 
Mereka dianggap bersih. Padahal kelompok ini adalah kelompok yang sangat dekat dengan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Kenapa? Karena mereka orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi, baik untuk tujuan pribadi atau bisnis, dan mempunyai daya beli yang kuat. Besar kemungkinan mereka menggunakan uang mereka untuk hiburan yang memaparkan mereka dengan risiko penularan HIV, misalnya membeli jasa pekerja seks komersial dan tidak menggunakan kondom. Atau berhubungan seks dengan kenalan baru, juga tidak menggunakan kondom.
 
Lalu kenapa kita harus peduli dengan kelompok ini? Sebagian orang akan berpendapat bahwa mereka orang-orang berduit yang tidak perlu dibantu meskipun mereka sakit nantinya akibat tertular virus HIV. Ini pendapat keliru,  karena mereka menjadi mata rantai potensial dalam penyebaran virus HIV ke masyarakat yang lebih luas.
 



Bayangkan, jika mereka tertular virus HIV dari hiburan seks yang mereka lakukan saat bepergian tersebut, dan kemudian mereka pulang ke rumah, lalu mereka berhubungan seks dengan pasangan mereka di rumah, yang tentunya tidak akan menggunakan kondom. Pasangan mereka, baik laki-laki atau perempuan, akan secara otomatis tertular juga.
 
Apa yang terjadi dalam siklus penularan virus HIV ini, dalam perkembangannya, penularan tidak hanya terjadi di lokalisasi protitusi atau di hotel. Tetapi juga sudah terjadi, dan sudah banyak terjadi di rumah tangga. Di tempat tidur keluarga, antara suami dan isteri.
 
Itulah sebabnya mengapa setiap tempat kerja, baik perusahaan swasta, instansi pemerintah, maupun organisasi lainnya perlu memperhatikan karyawannya. Karena karyawan mereka sebagian besar masuk dalam kategori “mobile men with money”. Melindungi karyawan dari virus HIV dan AID sekaligus melindungi kelangsungan organisasi karena karyawan adalah aset penting sebuah organisasi
 
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, sampai dengan September 2014, jumlah orang Indonesia yang terinfeksi virus HIV sebanyak 150.296 orang. Mereka yang berstatus AIDS saat ini sebanyak 55.796 orang. Sedangkan yang meninggal karena penyakit yang terkait dengan AIDS sebanyak 9.796.
 
Ini suatu angka yang memprihatinkan. Namun yang lebih mengerikan lagi ini adalah angka yang terdaftar. Bagaimana dengan mereka yang sudah terinfeksi, namun tidak terdata? Atau mereka yang sudah berstatus AIDS namun tidak ada laporan karena satu dan lain hal? Tentu angkanya akan lebih besar. Dari jumlah itu, berapa banyak yang yang perempuan dan laki-laki tidak berdosa yang tertular dari suami dan istri mereka?
 
Apakah Anda masuk kategori berisiko?
 
Jumlah orang di Indonesia yang terinfeksi virus HIV semakin meningkat. Dan banyak dari mereka yang terinfeksi virus HIV tidak tahu harus melakukan apa, sehingga status tubuh mereka menjadi AIDS, situasi dimana kekebalan tubuhnya sudah melemah dan rentan terhadap penyakit lain akibat dari virus HIV yang sudah ada di dalam tubuhnya, berkembang pesat karena tidak diberikan perawatan pengobatan.
 
Itulah sebabnya diperlukan perhatian yang lebih besar terhadap masalah ini. Dibutuhkan program edukasi yang mudah dimengerti masyarakat, program edukasi yang disesuaikan dengan kelompok masyarakat agar bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang dapat dimengerti dengan baik dan diingat selamanya. Termasuk program edukasi untuk para “mobile men with money” ini.
 
Kelompok anak muda adalah kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan edukasi yang lebih tepat dan komprehensif agar pemahaman mereka tidak sepotong-sepotong. Mereka menjadi salah satu sasaran edukasi karena mereka berada di usia produktif, yang memiliki semangat tinggi untuk berinteraksi dengan orang lain, dan memiliki keingintahuan yang besar untuk mengenal orang lain, serta bepergian ke banyak tempat. Tanpa edukasi yang tepat, mereka akan masuk ke kehidupan dimana virus HIV berada: perilaku seks tidak aman dan tidak bertanggung jawab, atau menggunakan jarum suntik narkoba.
 
Menurut Kementerian Kesehatan, anak muda berusia 20–29 tahun yang terinfeksi HIV sebanyak 18.352 orang. Mereka yang masih masuk dalam kategori usia produktif yaitu usia antara 30 – 39 tahun, yang terinfeksi virus HIV sebanyak 15.890. Lebih muda dari itu, yaitu usia 15–19 tahun  yang terinfeksi virus HIV sebanyak 1.717. Jika tidak ada edukasi yang tepat, jumlahnya akan semakin banyak. Atau, jumlah yang terinfeksi ini akan menularkan kepada yang lainnya.
 
Sebenarnya hanya ada tiga hal yang perlu diketahui orang muda tentang penularan virus HIV ini adalah ini:
1. Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
2. Tidak melakukan hubungan seks dengan bukan pasangan tetap
3. Tidak menggunakan narkoba dengan jarum suntik, apalagi yang digunakan berkali-kali dan bergantian dengan yang lain.
 
Menggunakan kondom adalah pertahanan terakhir untuk menghindarkan diri dari virus HIV atau penyakit menular seks lainnya. Namun kembali lagi, kondom tidak akan kita perlukan jika kita bisa melakukan dua hal di atas.
 
Di luar orang-orang yang berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang berbeda, penyebaran virus juga mengancam mereka yang pasangannya (tanpa setahu mereka) melakukan hubungan seks dengan orang lain tanpa menggunakan kondom; mereka yang melakukan perawatan kuku dan kulit dengan menggunakan alat milik orang lain; dan mereka yang mencukur rambut dengan pisau cukur milik orang lain. Begitu juga mereka yang pernah melakukan transfusi darah dari orang dengan riwayat kesehatan yang tidak jelas.
 
Jika Anda termasuk orang-orang dalam kategori tersebut, secepatnya lakukan tes darah yang disebut Voluntary and Counseling Test (VCT) di rumah sakit atau klinik kesehatan yang menyediakan VCT ini. Jika anda ternyata dinyatakan positif HIV, jangan panik, karena dokter akan memberi nasihat mengenai obat-obatan yang harus dikonsumsi untuk mencegah kondisi tubuh tidak berubah menjadi AIDS. Sudah banyak contoh mereka yang terinfeksi virus HIV namun tetap hidup sampai sekarang, karena perawatan medis yang sesuai.
 
Pada akhirnya, kita harus kembali ke gaya hidup yang sehat. Jauhi hal-hal yang membuat kita terinfeksi HIV, jika kita termasuk kategori berisiko maka lakukan tes darah VCT secepatnya, dan jika dinyatakan positif, jalani perawatan medis dan minum obat-obatan yang dibutuhkan dengan teratur.
 
Ramdani Sirait memiliki pengalaman di bidang komunikasi, CSR dan jurnalistik selama 22 tahun. Ia pernah menjadi Kepala Biro Kantor Berita Antara di New York, AS (2001 – 2004), Communications Specialist dan Jurubicara PT Freeport Indonesia (2006 – 2012), Head of CSR PT Gadjah Tunggal Tbk (2013) dan saat ini bekerja sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition on Aids (www.ibca.or.id).