August, 11 2016
Menikah untuk Menyenangkan Siapa?

Sejatinya, pernikahan adalah sebuah keputusan yang sangat personal, tidak sepatutnya hal sesakral itu menjadi bahan sindiran halus apalagi tekanan untuk menyegerakannya.

by Icha Kusuma
Issues // Politics and Society
Share:
Hampir setiap hari, kita melihat di berbagai tempat, baik itu iklan televisi, majalah, internet, percakapan orang lain, obrolan keluarga dan obrolan di lingkungan pertemanan, tidak sedikit yang hobi melakukan brainwashing dan mendorong-dorong mereka yang masih lajang untuk segera menikah.

Tanpa disadari, hal ini menciptakan sebuah fenomena kebahagiaan delusional yang sebenarnya, di dalam kalimat ajakan tersebut, terselip rasa insecurity. Keluarga atau teman lebih senang bertanya “kapan nikah?” dibandingkan “kapan lanjut S2?”

Yang saya amati, perempuan banyak sekali dijadikan obyek meme ataupun bahan topik tulisan di berbagai artikel serta majalah perempuan tentang ajakan untuk segera menikah muda. Hal ini menjadi sangat efektif, terutama bila target mereka adalah para jomblo insecure yang takut akan kesendirian, yang mencemaskan apa yang orang lain pikirkan.

Strategi “brainwashing” dan “delusional happiness” ini mirip produk kosmetik yang banyak bercerita soal keunggulan-keunggulan produknya, tanpa pernah memberikan pernyataan bahwa produk tersebut ada kemungkinan tidak akan cocok untuk semua jenis kulit. Sebuah paradigma yang sangat absurd, karena realitas yang terjadi di lingkungan sosial, tidaklah senyata yang mereka pikirkan dan cemaskan.

Dorongan untuk menikah, hampir semuanya berkutat seputar faktor agama, kesehatan, iming-iming kehidupan bahagia sampai akhir, bisa bermesraan halal dan lain sebagainya. Masih sedikit sekali artikel yang membahas soal kematangan emosional, kecukupan finansial, kemampuan mengatasi masalah sebelum memutuskan untuk memasuki kehidupan pernikahan.



Hal-hal krusial seperti itu tentu tidak akan ditemukan di buklet pre-wedding manapun. Kalaupun disebutkan, tidak akan ada wedding organizer yang laris manis diserbu konsumen.

Selama ini, kita banyak diarahkan untuk berpikir bahwa “menikah adalah suatu jalan menuju kebahagiaan, dan ketika dua orang masuk di dalamnya, bertemu dengan konflik yang sesungguhnya, mereka baru sadar, kebanyakan dari mereka menjadi panik dan bingung harus berbuat apa, terlebih saat mereka tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapi ribuan konflik yang pasti akan terjadi, tetapi tidak pernah terpikir sebelumnya.

Sejatinya, pernikahan adalah sebuah keputusan yang sangat personal, tidak sepatutnya hal sesakral itu menjadi bahan sindiran halus apalagi tekanan untuk menyegerakannya.

“Aku udah nikah, kamu kapan?”

“Kalau abang gak siap juga, eneng siap bawa abang ke KUA.”

“Kapan kamu bisa kasih mama cucu?”

“Kalau serius, nikahin.”

Dalam buku The Alpha Girls Guide, Henry Manampiring memaparkan bahwa ada dua alasan perempuan untuk menikah:  Karena takut akan sesuatu (takut tua, takut cemoohan, takut miskin, dan lain-lain) dan menikah sebagai solusi untuk masalah pribadi (orangtua ingin punya cucu, menghindari dosa dan lain-lain).

“Menikah untuk menyenangkan orang lain adalah salah satu alasan yang banyak terjadi di Indonesia. Dengan sedikit menggali, kita bia melihat kesalahan berbahaya dari alasan menikah yang satu ini, mengiyakan keputusan menikah untuk menyenangkan orang lain memang akan berhasil, tapi untuk jangka pendek,” tulisnya.

“Misalnya, anda menikah untuk menyenangkan orangtua, padahal kamu belum siap untuk menikah. Orangtua memang akan bahagia berseri-seri di hari pernikahan, dan mungkin selama beberapa bulan pertama. Namun, bagaimana ketika bulan madu terakhir dan kamu justru semakin ragu dan menyesali putusan tersebut? Sedangkan kamu sudah terlanjur berada dalam sebuah ikatan resmi. Dalam jangka panjang, pernikahan yang gagal akhirnya membawa kesedihan dan kekecewaan semua orang. Itulah tragedi yang mengintai pernikahan yang dilakukan karena ingin menyenangkan orang lain”.

Saya melihat pernikahan di Indonesia seolah menjadi topik pembicaraan, pembahasan dan perencanaan yang melibatkan banyak orang. Subyeknya hanya dua orang, tetapi semua orang ingin memiliki andil dalam menyukseskan hal tersebut. Setelah tujuannya tercapai (pernikahan) semua tugas sudah selesai dan untuk selanjutnya menjadi urusan pribadi masing-masing.

Mengapa menikah itu menjadi semacam life goals semua orang? Padahal kehidupan tidak akan berhenti saat perempuan menikah, dan kita semua tidak sedang menjalani kehidupan di negeri dongeng.

Kisah princess yang bertema happily ever after itu dibentuk sebagai media hiburan semata, dan jika hal itu terjadi dalam kehidupan nyata, hanya sebagian kecil yang mengalaminya. Karena hanya bersifat hiburan, maka tidak mungkin penulis cerita menceritakan konflik rumah tangga yang dialami Cinderella.

Suatu hari nanti saya akan menikah, saat saya sudah siap akan berbagai konsekuensi yang pasti terjadi, siap berkompromi seumur hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan pasangan saya nanti, bukan karena desakan, ajakan, bujukan apalagi dorongan dari orang lain, bukan juga untuk menyenangkan apalagi mengiyakan keinginan orang lain.

Icha Kusuma adalah salah satu dari ribuan fans serial televisi The Flash dan komik karya Junji Ito. Setelah mendapat gelar sarjana ilmu komunikasi, ia banyak menghabiskan waktu untuk mencari berbagai kesempatan serta peluang pekerjaan. Memilih ask.fm sebagai media diskusi dan berbagi opini.