July 09, 2019
Meninggalkan Indonesia Demi Hidup Tanpa Ketakutan

Saya tetap orang Indonesia, tapi saya memilih untuk hidup tanpa ketakutan hanya karena saya adalah perempuan Cina Katolik.

by Tita Alissa Bach
Issues // Politics and Society
Rasis_Minoritas_Chinese_Cina_Tionghoa_Karina
Share:

Saya masih duduk di bangku SMA ketika kerusuhan Mei 1998, yang menargetkan keturunan Cina dan harta benda mereka, menjalar di depan sekolah (Bunda Hati Kudus). Saya termasuk mereka yang beruntung bisa pulang ke rumah sebelum kerusuhannya tidak terkendali.

Namun, sebagai seorang Cina Katolik, saya masih ingat apa yang saya alami hari itu dan minggu-minggu berikutnya seakan peristiwa itu baru terjadi minggu lalu.

Saya ingat mendengarkan perkembangan yang terjadi melalui Radio Sonora dengan saksama, mematikan semua lampu pada malam hari, dan berusaha tidak membuat suara sedikit pun di rumah selama satu bulan lamanya. Saya sampai berpikir, mungkin begini rasanya berada di medan perang. Saya ingat kembali ke sekolah dan teman-teman kelas tinggal setengahnya. Sebagian meninggalkan negara ini untuk sementara, sementara yang lainnya pergi untuk tidak kembali.

Keluarga saya tidak mampu memilih opsi itu, jadi kami tetap di Jakarta. Namun, ketika kerusuhan pecah, saya berjanji pada diri sendiri untuk mencari kehidupan yang bebas dari ketakutan karena suku atau agama saya. Saya bercita-cita pindah ke Eropa, sebuah tempat yang saya pikir dapat membuat saya merasa lebih aman dan terlindungi.

Harapan saya terkabul. Saya kuliah S2 Ilmu Perilaku dan Sosial pada tahun 2005 dan program doktoral dua tahun kemudian di Belanda. Yang tidak saya sangka-sangka adalah bagaimana saya kemudian jatuh cinta dengan sesama orang Indonesia namun beragama Islam. Saya pernah pacaran beberapa kali sebelumnya, tapi cuma dia satu-satunya yang membuat saya bisa membayangkan hidup bersama di masa depan. Dia membuat saya ingin berada di mana dia ada, bahkan untuk kembali ke Indonesia sekalipun, walaupun sudah bersumpah akan meninggalkan negara itu selamanya.

Saya merasa aman kembali ke Indonesia bersamanya. Saya membayangkan anak-anak kami yang bersuku campuran dan bagaimana hal itu dapat mengurangi ancaman bagi orang minoritas ganda seperti saya. Saya juga melihat bagaimana hubungan ini dapat melindungi keluarga saya dan saya sendiri.  Pernikahan dengannya dapat menjadi bukti bagi masyarakat Indonesia bahwa walaupun keluarga saya Cina Katolik, tapi kami berhubungan erat dengan sebuah keluarga Muslim Indonesia. Saya melihat skenario ini akan bermanfaat untuk semuanya.

Namun saya melewatkan beberapa elemen yang penting dalam skenario tersebut. Indonesia melarang perkawinan beda agama sejak 1974. Selain itu, keluarganya tidak percaya bahwa perkawinan beda agama bisa awet. Saya tidak tega atau bahkan berniat untuk pindah agama.

Kami sepakat untuk tidak menikah tanpa restu keluarganya. Saya ingin menikah untuk memperbesar keluarga, bukan untuk memperkecilnya. Setelah melewati banyak pertengkaran yang menyakitkan dan sengit, kami pun memutuskan untuk putus. Perpisahan ini seperti patah hati terberat abad ini bagi saya. Saya tidak pernah merasa sehancur saat itu. Rasanya seperti kehilangan bagian tubuh yang vital. Saya mulai punya masalah kesehatan dan serangan kepanikan tingkat rendah.

Saya merasa sudah menemukan belahan jiwa, tapi dia direnggut dari sisi saya karena identitas saya sebagai minoritas. Luka lama pun kembali berkali-kali lipat.

Tidak ada yang bisa membantu saya bangkit kembali. Berkencan lagi tidak membantu. Bekerja keras tidak menolong. Memperluas hubungan sosial juga tidak. Saya menghindari gereja karena hal itu mengingatkan saya akan agama kami yang berbeda, alasan kenapa hati saya tersayat-sayat.

Lebih dari setahun setelah putus, saya berhenti berpura-pura bahwa saya sudah move on. Saya kemudian pergi ke sebuah biara Katolik di Belanda untuk bermeditasi selama enam hari. Saya memutuskan untuk berhadapan langsung dengan patah hati ini.  Saya berusaha merangkul identitas Cina Katolik lagi setelah meninggalkan gereja dan membenci warna kulit saya selama beberapa waktu.

Semua emosi, ketakutan, dan luka muncul kembali secara bersamaan pada saat meditasi. Hal itu membuahkan hasil karena sepulangnya dari biara, saya merasa menjadi manusia lagi. Saya bisa bangkit. Saya berhenti menyalahkan mantan pacar, keluarganya, dan, hingga taraf tertentu, negara yang menyakiti saya.

Niat atas pencarian terhadap hidup tanpa ketakutan yang saya janjikan kepada diri sendiri pada Mei 1998 kembali lebih kuat lagi. Pencarian ini dengan konstan memotivasi saya untuk bekerja lebih keras, cerdas, dan untuk menerima bahwa kompetisi bagi warga non-Eropa untuk mendapatkan pekerjaan di Eropa sangat sengit. Kepasrahan ini memberikan saya sebuah pekerjaan di Norwegia setelah wisuda doktor, yang  membukakan pintu untuk mendaftarkan kewarganegaraan di Norwegia, negara yang rencananya akan saya adopsi sebagai tanah air.

Saya akan tetap menjadi orang Indonesia dan saya pun sudah melihat berbagai perkembangan luar biasa di Indonesia terkait perlakuan terhadap kelompok minoritas. Namun, saya memilih untuk menunaikan janji untuk tidak akan lagi hidup di dalam ketakutan hanya karena saya perempuan Cina Katolik.

Walau saya akan selamanya menjadi orang asing di Norwegia dan Eropa, saya merasa lebih terlindungi di sini, bahkan sebagai minoritas. Setelah mengalami hidup di dunia yang berbeda, saya ingin kehidupan ini untuk anak cucu saya, yakni sebuah kehidupan tanpa rasa takut karena identitas mereka sejak lahir atau pun yang mereka pilih.

Artikel ini diterjemahkan oleh Nikita Devi dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Tita Alissa Bach is a researcher based in Norway and has just published her personal memoir titled “Six days – Re-loving a Broken Heart” that documents her journey in using silence to heal her broken heart in six days.