October 28, 2015
Menjadi Feminis Menurut Saya: Perspektif Laki-Laki

Praktik advokasi dalam kasus kekerasan seksual telah mengubah pria ini menjadi feminis, dan setiap hari ia belajar menghapus kerusakan yang ditorehkan patriarki kepadanya.

by Dion Valerian
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Dalam satu, dua tahun terakhir, saya sering melihat diri saya sebagai seorang feminis laki-laki karbitan meskipun belum membaca The Second Sex-nya Simone de Beauvoir atau Feminist Thought-nya Rosemarie Tong.
 
Sejujurnya saya selalu was-was dan tak berani untuk menyebut diri saya seorang feminis, karena belum tentu kualitas diri saya memenuhi syarat-syarat untuk menjadi feminis seperti yang dibuat saklek oleh beberapa orang (seakan-akan feminisme adalah paham yang eksklusif). Definisi feminis (jika memang perlu didefinisikan) yang saya pahami tak sulit dan rumit: orang yang mendukung perjuangan kesetaraan dan keadilan gender antara perempuan dan laki-laki. 
           
Feminisme, sebagai salah satu bentuk teori kritis, mengandung dimensi praksis. Maksudnya, feminisme akan mati dan tak ada gunanya jika hanya hidup di teks-teks ilmu pengetahuan yang tak diterapkan. Feminisme mengandung dimensi perlawanan yang terang; ia anti penindasan dan dominasi patriarki.

Untuk melahirkan masyarakat dengan relasi gender yang adil dan setara, feminisme adalah kancah untuk bergerak; ia tak ingin dirinya hanya jadi deretan narasi yang melulu berisikan air mata, keringat, ludah, dan darah perempuan. Lebih dari itu, feminisme ingin agar air mata, keringat, ludah, dan darah perempuan itu tak tumpah sia-sia. Ia ingin tumpahan itu tak lagi ada dan semua manusia dapat hidup bersama dengan harmonis dan setara.
           
Sampai hari ini, saya merasa belum banyak buku tentang feminisme yang saya baca. Pengetahuan awal saya tentang feminisme banyak saya gali dari tulisan-tulisan di Jurnal Perempuan serta beberapa artikel di media daring. Saya masih berencana membaca The Second Sex dan Feminist Thought. Mungkin akan saya cetak buku elektroniknya setelah menamatkan beberapa buku yang tak kelar-kelar. Lalu, jika bukan dari buku teks yang teoritikal-komprehensif, lantas darimana saya belajar tentang feminisme? Menjawab sendiri pertanyaan ini, agaknya saya belajar feminisme (sangat banyak) dari praktik advokasi dan kehidupan sehari-hari.



Sekitar 2013 akhir atau awal 2014 menjadi titik awal keseriusan saya untuk lebih mengenal masalah-masalah relasi gender yang akhirnya membawa saya pada feminisme. Saat itu saya bersama beberapa orang teman melakukan advokasi terkait kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Sitok Srengenge. Selama proses advokasi ini, saya belajar banyak sekali tentang posisi perempuan di hadapan hukum yang beku akan perspektif gender. Saya juga belajar tentang trauma dan luka psikologis yang dialami perempuan korban kekerasan.
 
Pengalaman tersebut dilanjutkan dengan pengalaman mendampingi sebuah panitia acara simposium tingkat nasional di fakultas saya, yang saat itu menjadikan kekerasan seksual sebagai tema acaranya. Wawasan saya makin luas, Saya jadi kenal konsep-konsep seperti hak atas tubuh, hubungan sek tidak konsensual, atau kebiasaan menyalahkan korban. Lebih dari itu, tema kekerasan seksual yang merupakan bagian dari masalah penindasan perempuan secara luas juga membantu saya untuk memahami lebih jauh tentang patriarki, falosentri, subordinasi, dominasi, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman ini sangat mencerahkan bagi saya.
           
Semester ini, saya meneruskan pembelajaran dan praktik advokasi itu dengan mengikuti Klinik Hukum Perempuan dan Anak yang ada di fakultas saya. Sebuah kesempatan baik buat saya untuk belajar lebih banyak dan menerapkan apa yang telah saya pelajari sebelumnya.
           
Sialnya, karena saya terlahir sebagai laki-laki, maka otomatis peran, identitas, dan mitos yang ditanamkan budaya patriarki pada saya belum sepenuhnya hilang. Meski saya ingin melatih diri saya menjadi seorang feminis laki-laki yang adil, ternyata mantra misogini masih meninggalkan sedikit jejaknya pada otak saya. Tak banyak memang, syukurlah. Namun ketika pemikiran sok superior itu terasa akan muncul, saya selalu mencoba sekuat hati untuk mendekonstruksi pemikiran itu agar tak sampai mewujud. Praktik feminis bagi laki-laki yang berupaya untuk berkesadaran gender adalah tantangan yang sangat jelas; ia harus selalu siap mengalahkan potensi-potensi lahirnya pikiran dan laku misogini yang ada pada dirinya. Praktik ini harus terus dijalankan hingga doktrin misogini itu hilang sepenuhnya.
           
Agar tak jadi feminis karbitan, tak hanya menerapkannya pada praksis advokasi, saya juga mencoba menerapkan kesetaraan dan keadilan gender itu dalam keseharian saya. Pada tingkat mikro, saya melakukan pekerjaan publik dan domestik di keluarga. Membantu ibu membersihkan rumah dan menyiapkan makanan rupanya tak sulit dan jelas pekerjaan-pekerjaan itu tak hanya urusan perempuan.

Saya juga berusaha membangun relasi yang adil, setara, dan koordinatif dengan pacar saya. Begitupun cara saya memandang perempuan telah banyak berubah; sekarang saya (selalu berupaya keras untuk) tak melihat perempuan sebagai obyek. Ini semua saya lakukan tak lain karena saya yakin bahwa perempuan bukan atribut laki-laki, bukan subyek yang bilur dan retak; perempuan sepenuhnya adalah subyek yang penuh.
           
Saya rasa, ini perubahan-perubahan yang baik, bukan hanya untuk diri saya saja, namun juga untuk orang lain. Baik pula karena saya jadi paham, bahwa untuk menjadi laki-laki yang memandang perempuan sebagai subjek penuh yang sama setara dengan dirinya - meski harus dipraktikkan setiap hari dan terkadang menemui tantangan dari dalam diri sendiri - ternyata tak terlalu rumit dan dapat diupayakan.
 
Dion Valerian adalah mahasiswa hukum tingkat akhir di Universitas Indonesia. Ingin sekali lulus tahun depan. Kalau kamu sedang lengang, main-mainlah ke www.dionvalerian.com.