August, 20 2018
Menjadi Seorang Katolik Indonesia Setelah Pengungkapan Skandal Seks Gereja di AS

Skandal ini berat dan mencoreng gereja Katolik Roma di seluruh dunia, namun sebagai umat kita juga harus kritis.

by Antonina Suryantari
Issues // Politics and Society
Share:
Sebuah laporan hasil penyelidikan juri pengadilan Amerika Serikat mengenai skandal seks besar-besaran yang dilakukan para pastor gereja di Pennsylvania akhirnya dibuka kepada publik.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 korban teridentifikasi menghadapi kekerasan seksual dari lebih dari 300 pastor selama rentang 70 tahun. Seorang korban bersaksi bahwa ada pastor yang melecehkan lima kakak beradik perempuan, dan salah satu dari mereka pertama kali dilecehkan ketika dia berusia 18 bulan. Sayangnya, media melaporkan bahwa dari sekian banyak pelaku, hanya dua kasus yang sudah maju sampai pengadilan kriminal. Paus Fransiskus sendiri dikutip menyatakan bahwa dia ada bersama para korban.

Pengungkapan kasus ini membuka mata saya bahwa tindakan pelecehan seksual dalam Gereja Katolik bukan hal kecil yang bisa ditutup begitu saja dan pelakunya dimaafkan tanpa tindakan hukum. Namun beberapa komentar teman saat saya mengunggah tautan berita-berita terkait kasus ini membuat saya terenyak. Seorang teman kurang lebih berkomentar bahwa berita yang saya unggah itu sudah pernah dibuat dan bahwa jika ini terjadi di Indonesia, kita harus mulai bersikap preventif. Saya juga terkejut melihat komentar-komentar di sebuah situs berita Indonesia. Sederet pemberi komentar mempertanyakan keabsahan investigasi karena tidak ada bukti chat atau foto. Banyak dari mereka yang menyangsikan kebenarannya karena jumlah korban yang diungkap semakin bertambah, bahkan ada yang mengaitkan dengan isu politik di Indonesia dan memasukkan para pelaku dalam golongan cebong atau pendukung Presiden Joko Widodo.

Saya geram pada pernyataan teman saya tentang “sudah pernah diunggah”. Kalau sudah pernah diunggah lalu harus dilupakan begitu saja? Lalu pernyataan selanjutnya, “Kalau terjadi di Indonesia, kita harus melakukan aksi preventif.” Saya yakin bahwa apa yang terjadi di AS juga terjadi di tempat lain termasuk di Indonesia. Ungkapan yang mengandaikan ini terjadi di Indonesia adalah ungkapan yang terlalu naif, menurut saya.

Saya juga geram melihat begitu banyak orang masih mempertanyakan keabsahan hasil investigasi juri tersebut. Saya menangkap bahwa masih banyak orang menganggap gereja dan para pemimpinnya tidak boleh disentuh. Mereka yang berusaha mengungkap keburukan gereja dianggap musuh dan harus dicurigai. Saya paham betul bahwa perlu ada kehati-hatian, tetapi kita semua juga harus dengan rendah hati dan pikiran terbuka mengakui jika ada yang salah dengan tujuan untuk pergi ke arah yang lebih baik.



Pernyataan lain yang mengejutkan saya adalah bahwa kalau korbannya anak-anak, itu namanya kejahatan. Hanya ketika korbannya anak-anak lalu disebut kejahatan? Apakah ketika korbannya perempuan dewasa itu bukan kejahatan? Apakah itu hanya semata karena banyak perempuan gatal ingin dekat dengan pastor? Jawabannya luar biasa mengejutkan. Menurut teman saya, jika korbannya perempuan berarti bisa dirunut, ada sebab ada akibat. Secara tersirat, teman saya menunjukkan bahwa dia adalah salah satu bagian budaya pemerkosaan yang hanya menyalahkan korban.

Ternyata ada banyak orang yang belum mengerti apa itu budaya pemerkosaan. Banyak yang belum memahami betapa mengerikannya bagi para korban untuk bersaksi. Komentar yang mempertanyakan bukti memang bisa diterima, tetapi juga pada saat yang bersamaan bisa sangat menyakitkan bagi korban. Mana ada orang mau diperkosa lalu menyiapkan kamera? Banyak kasus kekerasan seksual yang diungkap terjadi puluhan tahun lalu di mana teknologi SMS belum ada.

Bagi saya, reaksi teman saya yang sangat naif, serta komentar-komentar pembaca yang cenderung melindungi gereja itu seperti seember es yang ditumpahkan di atas kepala saat suhu udara kurang dari 10 derajat Celsius. Ungkapannya membangunkan saya bahwa skandal terjadi terus menerus bukan hanya karena para kaum berjubah yang menyalahgunakan posisi mereka, tetapi juga karena masyarakat awam yang terlalu polos atau terlalu mengkultuskan pemimpin agama, tidak rela tokoh yang mereka hormati ternyata “bercela”.

Orang-orang awam ini ikut serta dalam gerakan menutupi. Mereka berperan entah dengan cara mengucilkan yang berani membuka mulut, menyisihkan mereka  dari kegiatan rohani, bahkan melakukan persekusi terhadap korban. Dalam kehidupan masyarakat gereja, aturan komunitas adalah yang utama, bahkan absen dari latihan paduan suara bisa panjang urusannya, apalagi lantang bersuara soal pelecehan seksual.

Bertahun yang lalu saya pernah mendengar curhat seorang teman mengenai kakak tingkatnya yang melakukan kekerasan seksual terhadap sesama jenis di asrama. Yang lebih mengerikan bagi saya adalah cerita bagaimana si korban berusaha melapor ke petinggi gereja, namun mendapat cemoohan bukannya dukungan. Si pelaku bebas dan bahkan banyak bertugas di asrama pria. Saya hanya bisa berdoa semoga dia sungguh sudah bertobat.

Berita skandal ini berat dan mencoreng gereja juga seluruh umat Katolik Roma dunia. Namun demikian, saya memilih untuk tetap menjadi Katolik Indonesia yang kritis. Saya menolak ajakan klise untuk mendoakan para pastor dalam menjalakan ikrar imamatnya. Saya paham bahwa adanya skandal berarti kita harus siap terhadap reaksi tidak hanya umat Katolik di Indonesia, tetapi juga reaksi umat lain terhadap umat Katolik. Namun demikian, tidak membukanya juga berarti kita bersikap tidak adil terhadap para korban dan ini tentu saja bertentangan dengan kemanusiaan, yang berarti juga bertentangan dengan Yesus Kristus yang sangat menjunjung kemanusiaan.

Saya ingin mengajak para pemeluk Katolik yang lain, baik awam maupun biarawan biarawati, untuk membuka mata dan hati, untuk lebih serius melihat kasus penyalahgunaan posisi di mana pun mereka berada. Rajin ke gereja dan sibuk menjaga citra gereja tidak membuat kita pantas melemahkan posisi korban. Hal termudah yang bisa kita lakukan adalah berhenti berkomentar negatif soal korban, menyediakan telinga dan hati kita untuk mereka, dan bergandengan tangan membenahi gereja.

Kita perlu menambah porsi pendidikan seks yang benar baik di sekolah, sekolah minggu, dan tempat formasi biarawan biarawati. Pengawasan terhadap pendidik juga diperlukan. Ini semua demi kemanusiaan. Suatu hal yang hampir selalu dilupakan ketika seseorang sibuk beragama.

Antonina Suryantari bukanlah seorang yang religius. Dia mempertanyakan institusi gereja sejak lama dan memiliki hubungan cinta dan benci dengan Gereja Katolik Roma. Namun demikian, dia masih meyakini ajaran kasih gereja dan masih berusaha menjadi manusia Katolik Indonesia yang baik.