September 18, 2020
Menjajal Langkah Kreatif untuk Tingkatkan Literasi Siswa

Tingkat literasi di Indonesia masih rendah, dan perpustakaan hanya memenuhi 20 persen dari kebutuhan nasional.

by Risa W. Nihayah dan Shintia Revina
Issues
Membaca Buku Perempuan Literasi_SarahArifin
Share:

Tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat buruk. Hasil Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2018 misalnya, menunjukkan bahwa 70 persen siswa di Indonesia memiliki kemampuan baca rendah (di bawah Level 2 dalam skala PISA). Artinya, mereka bahkan tidak mampu sekadar menemukan gagasan utama maupun informasi penting di dalam suatu teks pendek.

Hal ini diperparah dengan angka minat baca di Indonesia yang juga rendah. Pada tahun 2018, sebuah survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase penduduk di atas usia 10 tahun yang membaca surat kabar atau majalah hanya 14,92 persen. Angka ini lebih rendah dari persentase 15 tahun sebelumnya (23,70 persen).

Padahal, selama hampir 15 tahun, pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan nasional untuk mengatasi krisis literasi ini. Namun, alih-alih membaik, skor rata-rata membaca siswa di Indonesia pada PISA 2018 masih sama persis dengan hasil tahun 2000 ketika Indonesia pertama kali mengikuti PISA.

Kegagalan ini terkait terbatasnya akses siswa di Indonesia terhadap bahan bacaan, yakni betapa sedikitnya perpustakaan maupun buku bacaan berkualitas yang tersedia.

Baca juga: Buku Pelajaran di 4 Negara Mayoritas Muslim Masih Bias Gender

Program nasional gagal atasi krisis literasi

Program pemerintah selama ini, mulai dari kebijakan wajib belajar sembilan tahun era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga kampanye Gerakan Literasi Nasional yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2016, terhambat oleh terbatasnya akses ke perpustakaan dan buku bacaan yang berkualitas.

Laporan terkini dari Perpustakaan Nasional menyebutkan bahwa perpustakaan yang ada di Indonesia saat ini baru mencapai 154.000 atau hanya memenuhi 20 persen dari kebutuhan nasional. Kekurangan perpustakaan ini terdiri dari perpustakaan umum (baru 26 persen dari kebutuhan 91.000) dan perpustakaan sekolah (baru 42 persen dari kebutuhan 287.000).

Minimnya akses terhadap perpustakaan juga terasa hingga level kecamatan. Dari total kebutuhan 7.094 perpustakaan kecamatan di seluruh Indonesia, baru terpenuhi sekitar 6 persen atau 600 perpustakaan yang letaknya masih terpusat di Pulau Jawa.

Hal ini membuat akses masyarakat terhadap perpustakaan dan buku di daerah luar Jawa masih rendah. Skor berdasarkan “Indeks Aktivitas Literasi Membaca” tahun 2019 keluaran Kemendikbud terkait akses ke perpustakaan maupun bacaan buku di daerah luar Jawa, seperti provinsi Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Aceh, dan Papua masih berkisar kurang dari 20. Nilai ini kalah jauh dari Yogyakarta (47,11) dan Jakarta (46,46).

Warga Yogyakarta punya minat membaca yang tinggi, didorong kegiatan literasi rutin dari lingkungan RW dan kelurahan.

Masalah minimnya jumlah perpustakaan juga diperparah dengan sedikitnya jumlah buku bacaan yang berkualitas. Belum ada data yang menunjukkan kondisinya secara nasional, namun survei dari Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) - program kemitraan pemerintah Australia dengan Indonesia - memberikan sedikit gambaran di daerah.

Di Kalimantan Utara, meskipun 80 persen anak mengaku suka membaca, bahan bacaan mereka didominasi oleh buku pelajaran (67 persen). Hanya sedikit dari mereka yang membaca buku cerita (13 persen) atau buku pengetahuan umum (2 persen).

Belajar dari Yogyakarta

Studi kualitatif Program RISE menemukan bahwa masyarakat Yogyakarta memiliki minat membaca yang tinggi. Keberhasilan tersebut didorong oleh adanya kegiatan literasi rutin dari lingkungan RW (Rukun Warga) dan kelurahan di provinsi Yogyakarta yang dihadiri secara antusias oleh masyarakat dari segala usia.

Minat baca yang tinggi ini didukung juga oleh kolaborasi masyarakat dengan pemerintah daerah. Dinas Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Yogyakarta membuat program literasi yang menjangkau masyarakat secara aktif, contohnya layanan perpustakaan motor roda tiga (PUSPITA) dan mobil perpustakaan keliling (MONIKA).

Kedua armada tersebut bertugas menjangkau kampung, ruang terbuka publik, maupun sekolah-sekolah yang belum memiliki bahan bacaan yang memadai. Petugas perpustakaan daerah juga menyapa masyarakat dan membuka layanan pada saat hari bebas kendaraan bermotor.

Baca juga: Pustakawan Bali Tingkatkan Minat, Akses Baca Anak Lewat Aplikasi Komputer

Temuan ini setidaknya dapat menjelaskan mengapa Yogyakarta mendapatkan skor literasi PISA lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Hasil tersebut setara dengan kemampuan membaca siswa di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Belajar dari Yogyakarta, para pemangku kepentingan di daerah perlu lebih proaktif dalam menumbuhkan minat baca masyarakat. Kolaborasi antara para pemangku kepentingan daerah merupakan kunci untuk mengatasi krisis literasi membaca di Indonesia.

Program perpustakaan keliling di Yogyakarta dapat diadopsi menggunakan moda transportasi yang berbeda sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Misalnya, beberapa waktu lalu media massa meliput seorang pegiat literasi yang menggunakan kuda pustaka di lereng Gunung Slamet di Jawa Tengah atau perahu pustaka yang menjangkau kampung-kampung di sepanjang aliran sungai atau pesisir di Kalimantan dan Sulawesi. Langkah kreatif yang disesuaikan dengan konteks lokal seperti ini patut dicoba untuk mengatasi darurat literasi di Indonesia.

Pemerintah daerah juga bisa mengalokasikan Dana Desa untuk membangun perpustakaan di wilayahnya sesuai dengan Peraturan Menteri Desa Nomor 22 Tahun 2016.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Risa W. Nihayah dan Shintia Revina adalah peneliti di SMERU Research Institute.