Women Lead
September 30, 2021

Merekam dan Menyebarkan Ingatan Soal Peristiwa 1965 dalam Dunia Virtual

Teknologi digital memungkinkan sejumlah kelompok masyarakat untuk terus mempertahankan dan menyebarkan ingatan soal peristiwa 1965 untuk menandingi sejarah versi Orde Baru.

by Gloria Truly Estrelita
Issues
Share:

Perkembangan teknologi digital telah mengaburkan batasan antara dunia virtual dan dunia fisik. Hal ini juga berpengaruh terhadap berbagai gerakan yang ada di dunia, salah satunya gerakan menolak lupa peristiwa 1965.

Pembatasan kegiatan di ruang fisik selama pandemi berlangsung ternyata tidak menjadi penghalang. Keterbatasan justru mendorong aneka upaya pindah ke ruang virtual dengan beragam format.

Di dunia digital, penggawa-penggawa dari generasi baru Indonesia terus melanjutkan upaya menawarkan narasi alternatif dari Peristiwa 1965 dari dominasi sejarah yang dibentuk oleh pemerintah Orde Baru (Orba).

Menolak Lupa

Di bawah kepemimpinan Soeharto, segala karya yang berkaitan dengan pergerakan kiri di Indonesia dilarang. Pemerintah Orba juga menebar propaganda dengan mengatakan bahwa semua hal yang berkaitan dengan komunis adalah haram dan sesat. Rakyat dilarang untuk mengenal apalagi mempelajari ideologi ini.

Pembatasan terhadap hal mengenai komunis dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pemberitaan di media massa, buku-buku, film, dan juga pendidikan formal di sekolah.

Inilah yang filsuf politik Louis Althusser sebut sebagai ideological state apparatus dalam bukunya yang berjudul Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Negara menebar propaganda yang menyusup perlahan-lahan ke dalam pikiran, dan kemudian, membuat rakyat mengiyakan ideologi tersebut.

Melalui ideologi, negara menanamkan sikap antipati terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dianggap mengancam kekuasaannya. Dengan cara inilah negara kemudian menghilangkan lawan politiknya.

Baca juga: 5 Hal Seputar Peristiwa 1965 yang Sungkan Kamu Tanyakan

Setelah Soeharto jatuh pada 1998, muncul tak sedikit pergerakan untuk merawat ingatan penangkapan dan pembunuhan massal 1965-66, seperti Museum Bergerak 65 di Yogyakarta, Komunitas Taman 65 di Bali, dan Festival Belok Kiri di Jakarta.

Tidak hanya itu, beberapa akademisi dan aktivis juga berupaya menguak sejarah terkait Peristiwa 1965, dan bahkan membawanya ke pengadilan. Salah satunya dilakukan oleh International People’s Tribunal for 1965 (IPT 65) di Den Haag, Belanda, pada 2015.

Namun, propaganda terus berlangsung bahkan pada era Reformasi. Segala kajian, diskusi, maupun pemutaran film mengenai Peristiwa 1965 masih mengalami tekanan.

Masih segar dalam ingatan, film Jagal (yang rilis pada 2012) dan Senyap (2014) karya Joshua Oppenheimer dilarang putar. Alasannya, film tersebut dianggap menyebarkan ajaran komunisme.

Pada 2017, acara diskusi mengenai sejarah Peristiwa 1965 di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta  diserbu oleh sekelompok massa yang berujung pada pembubaran acara tersebut.

Lalu pada 2019, terjadi razia buku-buku berbau ‘komunisme’ dan penangkapan mereka yang memiliki buku-buku tersebut dengan alasan yang absurd: Buku-buku itu dianggap dapat mengganggu ketertiban dan ketentraman umum.

Cara Baru Membentuk Ingatan

Dengan kemajuan teknologi, kini gerakan-gerakan itu memiliki arena baru. Sebut saja FIS 65 yang membuat kartografi interaktif, 1965 Setiap Hari yang menayangkan wawancara dengan penyintas melalui podcast, Ingat 65 yang memuat kumpulan tulisan, Young Scholars 1965 yang mengadakan acara diskusi daring, dan Perpustakaan Online Genosida 1965-66 yang mengumpulkan semua publikasi terkait peristiwa ‘65.

Belum lagi pemutaran film yang bisa ditonton melalui internet seperti A Thousand and One Martian Night karya Tintin Wulia, Denoting the Generation: Youth Perspective and ‘65 Tragedy karya Studio Malya, atau festival online “120 Hours in Distance” yang digagas oleh Sirin Farid Stevy dan kawan-kawan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih memfokuskan pada penerbitan tulisan, generasi ini terlihat memanfaatkan keuntungan dari era teknologi dengan menyuguhkan karya kreativitas mereka di internet.

Karena sebagian besar generasi baru ini lahir setelah Orde Baru melarang penyebaran semua dokumen terkait peristiwa 1965, adakalanya mereka berupaya melakukan pengumpulan data melalui ingatan lisan, seperti yang dilakukan oleh forum diskusi “Warisan Ingatan”.

Di forum ini, muncul dialog atau pertukaran narasi antargenerasi. Hal ini dilakukan untuk mencoba mengisi jurang pemahaman berkaitan Peristiwa 1965.

Baca juga: 55 Tahun Impunitas Membawa Mundur Indonesia sejak Tragedi 1965

Identitas yang ditampilkan tiap kelompok pun lebih berwarna, tidak melulu didominasi oleh akademisi dan penyintas. Misalnya, 1965 Setiap Hari dan Warisan Ingatan yang menjadi tempat pertemuan para penyintas, akademisi, aktivis dan seniman. Hal ini sejalan dengan pernyataan Baskara T. Wardaya, SJ bahwa ingatan merupakan sebuah fenomena relasi, tempat narasi melewati waktu dan ruang secara dinamis, dan menghubungkan individu-individu di dalamnya.

Tulisan dan karya seni terkait Peristiwa 1965 di dunia virtual ini kemudian menjadi wadah dialog lintas generasi untuk menyusun dan mengungkapkan sebuah perspektif sejarah alternatif yang dapat membawa perubahan makna.

Karena itu, kelompok-kelompok di ruang virtual ini memainkan peranan bagi lanskap ingatan dalam mengartikan, membentuk, mengomunikasikan, bahkan memanggil kembali memori yang lama terkubur. Dengan mengedarkan melalui pelbagai mimbar, karya mereka mampu meraih pemirsa, dan bahkan membuka kesempatan untuk berinteraksi langsung.

Ruang dialog virtual ini menjadi tempat orang membicarakan bagaimana ingatan terbentuk dan diinterpretasikan melalui interaksi keseharian, tidak hanya menceritakan secara rinci tindakan sadis yang bisa membuat orang “mati rasa” terhadap kekerasan.

Selain itu, sifat dunia virtual - dalam kaitannya dengan ingatan - menarik perhatian orang karena ia menjembatani lapisan-lapisan masa lalu dan sekarang. Dengan kata lain, ruang virtual dapat mengajak kita untuk berhadapan dengan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dalam kaitannya dengan sejarah Peristiwa 1965, ruang virtual lalu menjadi perwujudan praktik memori, bukan lagi sekadar medium.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Gloria Truly Estrelita adalah mahasiswi PhD, École des hautes études en sciences sociales (EHESS).