February 07, 2020
‘Miss Americana’ Tampilkan Sisi Gelap Kehidupan Taylor Swift

Dokumenter ‘Miss Americana’ menampilkan sisi lain Taylor Swift dalam melawan misogini dan kekerasan seksual.

by Siti Parhani, Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Masih ingat Kanye-gate pada MTV Awards 2009? Saat itu rapper Kanye West mengejutkan jutaan penonton karena ia melompat ke panggung dan merebut mikrofon Taylor Swift, yang sedang menerima penghargaan Video Musik Terbaik. West, dengan arogan, mengatakan bahwa penghargaan itu lebih pantas diberikan kepada Beyonce.

Swift masih berusia 19 tahun saat itu, meski kariernya sudah cemerlang dan sempat dijuluki ratu musik country. Peristiwa itu ternyata sempat membuatnya trauma dan terpuruk. Meski setelah itu ia tampak baik-baik saja, merilis album-album laris, pacaran dengan cowok-cowok ganteng, dan wara-wiri dengan geng supermodel/penyanyi, dunianya tidak melulu gemerlap, tapi juga ada sisi gelap.

Hal inilah yang berusaha ditampilkan dalam Miss Americana, dokumenter produksi Netflix yang disutradarai Lana Wilson. Film berdurasi 85 menit itu sukses menggambarkan bagaimana Swift menghadapi titik terendah dalam karier bermusiknya, dan transformasinya dari gadis remaja pirang bergitar menjadi diva pop dunia. Swift sering dianggap berkepribadian palsu dan menyebalkan, tapi dokumenter ini berhasil menguak sisi lain dari dirinya yang patut dihormati.

Miss Americana diawali dengan gambaran masa kecil Swift di Reading, Pennsylvania. Ia kemudian hijrah ke Tennessee untuk mengejar karier sebagai penyanyi country. Di awal debutnya, lagu-lagunya bercerita tentang remaja yang jatuh cinta, patah hati, atau imajinasi tentang pangeran impian. Ia kemudian menjelma menjadi penyanyi country dengan gaya Disney princess yang disukai semua orang.

Sampai kemudian muncullah peristiwa Kanye West di atas panggung MTV Awards, yang menjadi satu titik balik dalam kariernya. Swift mengaku bahwa untuk seseorang yang membangun reputasi sebaik mungkin dan ingin disukai semua orang, peristiwa yang memalukan itu membuatnya trauma. Dalam wawancara dengan pembuat film ini, ia mengatakan sempat berasumsi bahwa orang-orang selama ini tidak benar-benar menyukai karyanya. Ia mulai merasa bahwa industri musik bukan lagi tempatnya.

Baca juga: Nicki-Taylor, Race and Body Image

Dalam proses bangkit dari keterpurukannya, Swift mencoba mencari genre baru. Menjadi penyanyi dengan gadis baik dan citra putri Disney bukan lagi menggambarkan dirinya. Secara perlahan ia mulai beralih ke musik pop, dimulai dengan Red (2012). Album 1989 (2014) berhasil meraih sejumlah penghargaan di Grammy Awards, termasuk Album Terbaik dan album-album ini dan selanjutnya selalu laris di pasaran.

Kesuksesannya tersebut membuatnya dijuluki Ratu Pop Amerika. Di titik itu Swift merasa menemukan kembali kebahagiaan karena menjadi dirinya sendiri, bukan karena ia berusaha berkarya untuk disukai orang lain.

Ketakutan dan insecurity

Kembalinya popularitas serta statusnya sebagai salah satu penyanyi/musisi termahal tidak menjadikan Swift bebas dari ketakutan dan tidak percaya diri. Ada satu adegan dalam Miss Americana di mana dia secara terbuka mengaku bahwa dia berjuang dengan “insecurity” atas bentuk tubuhhnya. Swift mengatakan ia sering dirisak dan menghadapi body shaming karena badannya yang dianggap terlalu kurus, sampai akhirnya ia mengalami kelainan pola makan dan berhenti makan karena ketakutan.

Dalam beberapa cuplikan wawancara di acara penghargaan, ia terlihat mendapat pertanyaan yang cenderung melecehkan, bahwa selain membawa piala penghargaan, ia juga bisa membawa pulang banyak laki-laki karena penampilannya. Lelucon-lelucon seksis yang tidak penting kerap kali dilontarkan terhadap penyanyi atau aktor perempuan.

Seiring berjalannya waktu, Swift mengatakan sekarang ia sudah bisa menerima dirinya dan bentuk badannya, karena mengikuti standar kecantikan arus utama adalah sesuatu yang mustahil.

Because I’m a lot happier with who I am, I don’t care as much if somebody points out that I have gained weight, it is just something that makes my life better,” ungkapnya.

Di saat karier dan kondisi pribadinya sudah membaik, Swift masih lagi harus berurusan kembali dengan Kanye West si misoginis. Pada 2016, West merilis lagu berjudul Famous dan nama Taylor disebut dalam lagu itu: “I feel like me and Taylor might still have sex/Why? I made that bitch famous”. Ungkapan yang kasar dan jelas sangat melecehkan.

Selain memberikan pesan kepada perempuan supaya tidak hidup di bawah ekspektasi orang lain, Miss Americana juga mengajarkan agar kita berani bersuara tentang hal-hal yang ingin kita suarakan.

West merasa bahwa dirinyalah yang menjadikan Swift populer setelah kejadian di panggung MTV Awards 2009 lalu. Ia didukung oleh media yang, layaknya media Indonesia yang hanya mengejar clickbait setiap kali ada kasus pelecehan, banyak memberitakan bahwa Swift sebenarnya mengambil keuntungan. Media menyatakan bahwa Swift bersikap seolah merasa dilecehkan padahal ia menjadi ikut populer; mereka bilang respons Taylor Swift adalah settingan.

Tak lama setelah lagu West itu dirilis, tagar #TaylorSwiftIsOverParty menjadi trending di Twitter. Pada saat itu, ratusan ribu orang men-twit kebencian terhadap Taylor. Media tidak henti-henti mengatakan bahwa ini adalah akhir dari karier bermusik Taylor. Saya cukup mengelus dada saat membayangkan bagaimana menjadi Taylor, setelah dirinya dilecehkan, ia juga harus mengalami victim blaming, disebut pembohong.

Kejadian itu membuat kariernya benar-benar terjun bebas, semua rumor dan citra buruk akan dirinya seolah tidak bisa dibendung. Taylor mengalami depresi yang cukup berat, juga diperparah dengan kenyataan bahwa ibunya didiagnosis mengidap kanker. Ia memutuskan untuk menghilang dari industri musik selama beberapa tahun.

It just feels like it’s more than music now at this point. And just most days, I’m like ‘Okay’ but it just gets loud sometimes,” ujarnya dengan emosional.

Baca juga: Feminism and Pop Culture: Don't Just Change the Channel

Menjadi korban kekerasan seksual

We wanted people to like us, ‘cause we were instricately insecure, because we liked people clapping, cause it made us forget how much we feel like we’re not good enough. And I have been doing this for 15 years, and it’s just, I’m tired of it.”

Fase sulit dalam hidup seseorang jelas bisa mengubah diri orang itu. Demikian juga dengan Swift. Kembali ke industri musik setelah beberapa tahun menghilang, ia telah berdamai dengan depresinya. Taylor kembali ke Industri musik dengan versi dirinya yang baru.

Album Reputation dengan single “Look What You Made Me Do” menjadi sebuah perlawanan yang dilakukan Swift. Album itu menandakan bahwa ia bukan lagi Swift si gadis berambut pirang yang dengan riang bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu cinta manis. Lewat Reputation, ia mengumumkan bahwa Taylor Swift yang lama sudah mati. Ia telah menjelma menjadi penyanyi yang tidak takut lagi menyuarakan apa yang ingin ia suarakan. Ia menjadikan semua ujaran kebencian, tuduhan, dan pelecehan yang ia hadapi menjadi karya.

Ada salah satu adegan yang paling emosional dalam film ini, ketika Taylor menceritakan pengalaman pelecehan seksualnya. Bagaimana ia menghadapi sidang-sidang pengadilan, serta kekesalannya terhadap hakim yang malah menanyakan mengapa Swift tidak berteriak saat kejadian, atau mengapa ia tidak menghindar saat kejadian itu berlangsung. Pengacara pembela pelaku malah melakukan victim blaming dengan jalan memutar balikan fakta. Sebagai penyintas pelecehan seksual, saya amat mengerti bagaimana traumatisnya menjadi korban pelecehan, dan bukan sesuatu hal yang aneh bila kejadian itu mengubah cara pandang Swift.

Sejak kasus pelecehan seksual yang menimpanya itu Taylor mulai vokal menyampaikan pilihan politiknya. Ia mengampanyekan kesetaraan gender dan hak-hak lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ). Lewat albumnya Lover yang dirilis tahun lalu, Swift menciptakan lagu yang mengkritik mereka yang anti-LGBT. You Need to Calm Down dijadikannya sebagai medium komunitas marginal di Amerika Serikat. Bahkan di akhir video klipnya ada sebuah tulisan kepada penonton untuk ikut menandatangani petisi tentang kesetaraan gender, dan hak-hak LGBT yang nantinya akan dikirim ke Senat.

Selain memberikan pesan kepada perempuan supaya tidak hidup di bawah ekspektasi orang lain, Miss Americana juga mengajarkan agar kita berani bersuara tentang hal-hal yang ingin kita suarakan. Sering kali keberanian kita bersuara terhalang oleh ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan atau justru terhalang oleh konstruksi sosial tentang bagaimana seharusnya jadi “perempuan baik”, seperti yang Swift bilang:

A nice girl doesn’t force their opinions on people
A nice girl smiles and waves and says thank you
A nice girl doesn’t make people uncomfortable with their views
And I’m just tired of being one.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa.
Foto diambil dari IMDB.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.