May, 11 2016
Mo(ns)ther

Bagi penulis ini, ibu adalah monster yang kasar dan keras, memaksakan kehendak sampai membuat depresi, namun ia juga sosok yang terus mencari dan menyayangi anaknya.

by Nadyazura
Issues // Relationship
Share:
Saya percaya bahwa gender tidak selalu linier dengan jenis kelamin dan gender bisa berubah setiap waktu. Saya menyaksikannya sendiri di rumah.

Jika Ayu Utami dalam trilogi Parasit Lajang mendeskripsikan dirinya dengan darah setengah monster dan setengah malaikat dari orangtuanya, saya kira, saya juga begitu. Tapi dengan posisi yang berbeda.

Ayah saya adalah seorang malaikat. Dia penyayang, dia selalu memahami saya, memenuhi kebutuhan saya, dan selalu melindungi saya dari monster.

Ibu adalah seorang monster. Dia melarang saya menonton televisi, makan Indomie dan bermain terlalu larut. Ia menyuruh saya mengaji dan shalat lima waktu.

Ibu sangat patriarkis. Ia mencibir ibu tetangga yang tidak menggenakan jilbab, mengatakan ia akan dibakar di neraka dan kepalanya ditusuk-tusuk beling ketika saya masih SD. Ibu bilang jilbab adalah perintah dan kewajiban bagi semua umat Muslim dan menggunakan jilbab adalah sebuah perintah yang tidak bisa ditolak kebenarannya seperti Islam.



Ayah selalu menanyakan kabar saya di mana pun saya berada. Ketika saya pertama kali naik transportasi umum sendirian, setiap 10 menit ayah selalu menelpon untuk memastikan saya baik-baik saja.

Ibu memang benar-benar monster. Dia memarahi ayah saya karena bersikap terlalu lembek terhadap saya. Menurut ibu, jika saya membangkang itu adalah bibit dari ayah saya yang Tionghoa dan ketidakcakapan ayah saya memimpin keluarga.

Saya belajar feminisme dan gender semejak saya kuliah dan saya mulai memahami ketidakadilan dalam relasi gender di lingkungan saya khususnya di keluarga saya sendiri.

Buat Ibu, laki-laki adalah kepala keluarga yang harus bersikap maskulin dan mengarahkan istri dan anak-anaknya. Dan ketidak-maskulinan ayah saya disebabkan oleh lemahnya iman dan kurangnya ayah saya dalam melakukan ibadah.

Ayah saya diam, dia tidak pernah membalas makian dan hinaan dari ibu. Dia mencintai ibu saya dengan sangat. Dia tidak pernah meninggalkan ibu saya walaupun sebenarnya terkadang saya ingin sekali mereka berpisah. Dan kalau mereka berpisah, saya akan ikut ayah.

Cibiran terhadap perempuan Muslim yang tidak menggenakan jilbab yang dilakukan ibu saya akhirnya sampai kepada saya, anaknya. Saya sebagai anak perempuan pertama mau tidak mau diwajibkan memakai jilbab, atau menurut ibu saya, saya akan dibakar di neraka jika saya tidak mengenakannya.

Ketika saya beranjak SMA, kewajiban berjilbab makin keras dan seiring dengan meningkatnya kesadaran, saya menolak ibu, dan juga perintahnya. Saya tidak menolak jilbab sebagai perintah Tuhan (apabila itu memang benar) tapi saya menolak jilbab sebagai simbol ibu saya, monster ini, yang mengontrol tubuh dan kehidupan saya.

Berbagai cara saya lakukan untuk menolak jilbab, dari pernyataan halus, menulis surat, sampai menolak dengan keras. Dan penolakan yang saya lakukan juga mendapatkan respon yang sama dari ibu saya.

Ketika kelas dua SMA saya menolak menggunakan jilbab, ibu memotong rambut saya agar saya malu keluar rumah dan mau menggenakan jilbab. Saya terpaksa mengenakan jilbab ketika di lingkungan rumah dan melepasnya begitu masuk transportasi umum.

Saya menerima umpatan dari teman-teman saya bahwa saya ‘kerudung dusta’. Padahal saya tidak berbohong kepada siapapun. Saya mencoba jujur pada ibu saya, sang monster, bahwa saya menolak mengenakannya tetapi saya selalu dihina, dicibir, bahkan diusir dari rumah setiap kali saya bilang saya menolak jilbab.

Ibu saya tidak pernah menerima kejujuran saya. Saya terpaksa mengenakannya begitu dekat rumah agar ibu tidak memarahi saya. Agar ayah saya tidak melulu terluka karena dihina gagal sebagai laki-laki oleh ibu karena ayah saya membela pilihan saya.

Hingga pada awal 2014, saya sudah tidak tahan lagi karena harus membohongi diri saya di jenjang akhir perkuliahan saya di Universitas Indonesia. Saya tidak mau lagi dicap sebagai ‘kerudung dusta’ oleh teman-teman. Saya mulai depresi. Saya enggan menerima bahwa saya harus menghadapi masyarakat yang seperti ibu saya karena itu saya memilih untuk mengakhiri hidup saya.

Saya menarik diri dari lingkungan dan pergaulan saya. Saya merasa percuma melanjutkan hidup karena masyarakat berisi monster seperti ibu saya. Depresi yang membuat saya harus bolak-balik konsultasi ke psikolog dan psikiater, yang mengguncang keluarga besar dan lingkungan.

Keluarga besar saya berusaha memberitahu ibu agar tidak bersikap begitu kasar dan memaksa saya mengenakan jilbab. Tapi ibu saya tidak mau tahu. Jilbab adalah kewajiban bagi ibu saya dan menurutnya, keluarga besar yang mendukung saya ini tidak paham apa-apa tentang perintah beragama. Saya dilarang bertemu keluarga besar oleh ibu saya karena saya menolak mengenakan jilbab.

Pada akhirnya saya tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah pendirian ibu saya. Walaupun ayah, keluarga besar, dan tetangga serta tokoh masyarakat berusaha memberikan pengertian kepada ibu saya. Dia tetap menjadi monster.
Ketika sembuh depresi dan lingkungan saya akhirnya memahami bahwa saya memang menolak mengenakan jilbab, saya mulai mengisi hari-hari saya dengan menulis dan membaca buku.

Saya memperjuangkan teman-teman yang berusaha jujur pada dirinya namun ditolak oleh lingkungan. Permasalahan saya menjadi mengkerut. Saya tidak menjadi satu-satunya manusia yang tidak bisa jujur pada diri sendiri ke keluarga dan masyarakat. Banyak teman-teman lain yang harus membohongi lingkungan dan diri sendiri karena tidak bisa melela. Empati saya muncul karena saya merasa kami punya permasalahan yang sama. Saya mulai mendedikasikan diri saya kepada suatu perjuangan yang lebih besar, kemanusiaan.

Tetapi monster itu tetaplah ibu saya. Saya tidak bisa seperti sekarang tanpa ibu saya. Ibu saya adalah monster yang mengajarkan saya membaca lebih keras daripada anak-anak lain karena saya disleksia.

Ibu saya adalah monster yang melarang saya bermain pada malam hari karena penyakit asma yang saya derita. Ibu saya monster yang memberikan saya asupan buku-buku untuk dibaca. Ibu saya monster yang melarang nonton televisi karena menganggap televisi tidak baik bagi perkembangan anak.

Ibu saya monster yang tetap mencari saya untuk pulang walaupun dia sendiri yang mengusir saya dari rumah karena enggan mengenakan jilbab. Ibu memang tidak bisa berhenti menyalahkan ayah saya yang dianggap gagal mendidik saya dan memarahi saya yang dianggap kafir karena menolak mengenakan jilbab. Ibu saya menyayangi saya dan saya tetap menyayangi ibu saya. Ibu saya, mo(ns)ther.

Nadyazura adalah nama pena dari Nadya Karima Melati, lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Koordinator dan Co-Founder untuk Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC). Menyukai belajar Feminisme dan Gender Studies. kontak twitter @nadyazura atau melalui emailnadyazurakarima@gmail.com