Manchild bukan hal baru, tapi istilah ini makin sering terdengar, terutama di tongkrongan perempuan. Ini merujuk pada laki-laki berusia dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan. Umurnya sudah kepala tiga, bahkan lebih, tapi KTP dan kumis tebal tidak menjamin kematangan emosional.
Istilah manchild sering dikaitkan dengan Peter Pan Syndrome, terinspirasi dari tokoh fiksi klasik Peter Pan—anak laki-laki dari negeri Neverland yang menolak tumbuh dewasa dan ingin selamanya hidup dalam dunia bermain, bebas dari tanggung jawab orang dewasa. Diciptakan oleh J.M. Barrie di awal abad ke-20, Peter Pan awalnya adalah simbol imajinasi, tapi dalam konteks ini, ia menjadi metafora laki-laki yang menolak menghadapi realitas hidup.
Padahal kedewasaan adalah fase hidup yang tak bisa dihindari. Menolaknya berarti menolak pertumbuhan. Dan ketika seseorang menolak tumbuh, patut dipertanyakan kondisi mental dan kecerdasan emosionalnya.
Psikolog Dan Kiley dalam bukunya The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up (1983), menjelaskan bahwa sindrom ini bukan gangguan jiwa, tapi lebih ke pola psikologis. Intinya, para laki-laki ini tidak tumbuh karena tidak mau. Kedewasaan bagi mereka adalah ancaman, bukan bagian dari proses menjadi manusia utuh.
Menurut psikolog Elizabeth Hurlock, masa dewasa dimulai sejak usia 20 tahun dan terbagi menjadi tiga: dewasa awal (20–40), dewasa madya (40–60), dan lanjut usia. Pada tahap dewasa awal, seseorang seharusnya sudah mulai menyesuaikan diri dengan berbagai peran sosial: sebagai pasangan, orang tua, anggota masyarakat. Tanggung jawab dalam pekerjaan, relasi, dan kehidupan sosial menjadi bagian penting dari kedewasaan itu.
Sayangnya, banyak laki-laki yang dewasa secara fisik tapi belum beranjak dari cara pikir anak-anak. Mereka menolak masuk ke dalam peran baru, dan tetap bertahan dalam zona nyaman yang bebas dari konsekuensi. Inilah yang membuat mereka terus terjebak dalam “Neverland”—sebuah dunia utopis tempat tidak ada yang tumbuh dewasa.
Baca Juga: Apa Itu ‘Manchild’ di Lagu Baru Sabrina Carpenter?
Dari bebas ke beban: dampak manchild dalam relasi
Psikolog lain,Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence (1995) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional melibatkan kemampuan mengelola emosi, empati, disiplin, serta kemampuan sosial. Tapi manchild justru menolak itu semua. Mereka tidak mau diatur, tidak suka diminta memahami, dan menolak bersikap dewasa. Semua tanggung jawab dianggap beban yang mengganggu kebebasan pribadi.
Padahal, jadi orang dewasa berarti siap menghadapi tanggung jawab. Laki-laki dengan kecerdasan emosional baik justru akan menyambut peran-peran barunya sebagai sesuatu yang wajar dan pantas. Mereka tidak lari dari konsekuensi. Mereka tahu arah, dan tahu bagaimana bersikap.
Berbeda dengan manchild. Hidup mereka tampak bebas, tapi sejatinya mandek. Tidak ada pertumbuhan intelektual, tidak ada kematangan emosional. Yang ada justru pelarian terus-menerus dari kenyataan hidup.
Dan biasanya, yang paling merasakan dampaknya adalah pasangannya. Hidup bersama manchild seperti merawat bayi dewasa. Pasangannya harus mengurus keuangan, rumah tangga, dan emosinya sekaligus. Ketika si perempuan ingin fokus pada perkembangan dirinya, si manchild merasa diabaikan. Lalu mulai memainkan peran korban:
“Aku begini karena kamu sibuk sendiri.”
“Semua kasihan sama kamu. Yang kasihan sama aku siapa?”
Manipulasi semacam ini menandakan masalah yang lebih dalam: narsisme yang dibungkus dengan kepolosan. Pasangannya mengalami beban mental yang berkepanjangan, karena segala beban relasi ditumpukan padanya. Tak heran jika mereka kemudian pergi, meninggalkan laki-laki yang tak kunjung dewasa.
Baca Juga: Laki-Laki Tidak Bercerita: Ketika Maskulinitas Berujung Beban Mental
Ketika berumah tangga, masalahnya membesar. Si manchild tidak nyaman berbagi peran. Mereka menghindar dari tugas rumah, dari pengasuhan anak, dari pembayaran tagihan. Semua alasan muncul: “malas ribet”, “malas debat”, “pusing duluan”.
Alih-alih tumbuh bersama, perempuan malah terpaksa memikul semuanya sendiri. Dalam banyak kasus, mereka bahkan harus mengambil alih fungsi pengasuhan dari ibu si suami. Maka muncullah istilah wife-mother—perempuan yang menjadi pasangan sekaligus ibu pengganti bagi laki-laki dewasa yang belum tuntas secara emosi.
Hidup seperti ini hanya berputar-putar. Tidak ada gotong royong dalam membangun visi bersama. Seperti rumah pasir: mudah dibangun ulang, tapi gampang hancur. Siklusnya terus terulang.
Masalah makin terasa saat anak hadir. Tanggung jawab bertambah: popok, susu, imunisasi, pendidikan, asuransi. Tapi si manchild merasa kehilangan kebebasan dan akhirnya kabur. Mereka memilih membiayai kesenangannya sendiri ketimbang kebutuhan keluarga.
Mirip dengan dialog dalam film Peter Pan, saat Wendy berkata:
“Peter, sudah berapa lama kita mengenal? Tapi pondok ini masih sama. Atapnya bocor, pintunya miring.”
Dan Peter menjawab:
“Memangnya kenapa? Bukankah ini asik? Kalau bocor, kita tinggal terbang ke tempat lain.”
Bagi Peter Pan, rumah yang bocor bukan masalah. Tapi di dunia nyata, kebocoran harus diperbaiki. Karena kalau dibiarkan, semua bisa runtuh.
Neverland bukan tempat impian. Ia adalah ilusi tentang kebebasan yang justru membuat seseorang terjebak dalam stagnasi. Manchild mungkin merasa bebas dari kewajiban, tapi juga membebaskan diri dari potensi, prestasi, dan cinta sejati.
Menolak bertumbuh bukan pernyataan sikap. Ia adalah cara paling pasti untuk ditinggalkan oleh orang-orang yang lelah menunggu Anda dewasa.
Gabby Allen suka menulis isu perempuan, menjadikan narasi-narasinya sebagai bentuk kebebasan berpikir sekaligus senjata untuk melawan ketidakadilan.
















